Demi Konten, (Jangan) Halalkan Segala Cara

Date:

Mimpi menjadi orang populer itu membuai. Di era digital sekarang ini, tiap orang bisa dengan mudah terkenal. Salah satu caranya dengan menjadi konten kreator. Baik itu sebagai selebgram, tiktoker atau youtuber.

Masalahnya adalah terkenal sebagai apa? Sebagai konten kreator yang memposting hal-hal yang lucu-lucu, informatif, menginspirasi, mengedukasi, menghibur dan memotivasi atau sebaliknya?

Dengan modal kepopuleran konten kreator berkesempatan mendapatkan uang dari iklan, endorse, kolaborasi dan strategi lainnya. Karena punya jumlah pengikut jutaan, dia memiliki potensi besar untuk mempengaruhi opini publik, tren gaya hidup dan perilaku konsumen.

Menjadi konten kreator yang populer juga meningkatkan peluang bisnis karena punya jaringan pertemanan yang luas termasuk selebriti, pengusaha atau tokoh-tokoh, termasuk tokoh politik.

Jika mau, dengan pengikut (follower) yang banyak bisa membentuk komunitas yang solid untuk membangun gerakan atau membuat program-program yang sesuai dengan visi misi hidupnya. Sehingga hidup lebih bermakna.

Tentu saja puncaknya adalah memperoleh pengakuan dan dihargai banyak orang. Ini bisa meningkatkan kepercayaan dan kebanggaan dirinya. Kemana-mana dielu-elukan sama penggemarnya.

Perlu Pengorbanan

Namun untuk bisa menjadi populer, perlu usaha dan pengorbanan yang luar biasa. Mereka perlu kreativitas yang maksimal untuk bisa konsisten posting konten yang menarik dan berkualitas agar tetap dilihat orang.

Karena persaingan yang super ketat, konten kreator harus pintar memilih topik yang unik, niche, mau memantau postingan untuk berinteraksi dengan audiens, mau berkolaborasi dengan konten kreator lain, mengikuti tren, harus terus belajar dan pantang menyerah.

Dan yang perlu diperhatikan adalah konten-konten yang diposting idealnya memberikan dampak positif kepada pengikut.

Namun banyak juga konten kreator, demi konten yang “beda” , mereka menghalalkan segala cara. Karena haus viralitas dan tuntutan platform, konten kreator bisa mengabaikan etika dan moral, bahkan akal sehat.

Baru-baru ini beredar sekelompok konten kreator yang mendapat kritikan pedas dari netijen. Di video yang beredar, mereka mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya seorang pesohor.

Namun caranya dianggap tidak pas, bahkan tidak pantas. Karena dalam suasana duka, mereka mengawali ucapan dukanya dengan “mundur wir” dengan gesture yang dianggap tidak sesuai konteks.

Memicu Keresahan

Di youtube lain lagi, 5 youtuber di Semarang, Jawa Tengah membuat video hoaks soal rumah tinggal yang sedang dijual. Tanpa minta izin ke pemilik rumah, para youtuber ini membuat berita bohong bahwa rumah tersebut berhantu, sudah ditinggalkan pemiliknya yang disebut sebagai Sultan Arab selama sepuluh tahun.

Efek dari konten tersebut, sang pemilik mengaku beberapa orang yang berminat membeli rumahnya dibatalkan. Padahal konten video yang sudah beredar tersebut tidak benar alias hoaks. Pemilik tak terima dan melaporkan mereka ke polisi.

Selain konten hoaks, sebelum pemilu bertebaran konten-konten provokatif yang berpotensi memicu perpecahan antar warga. Tak jarang demi viral, dan demi menjatuhkan calon lain mereka menyebarkan ujaran kebencian yang memicu keresahan.

Konten yang melanggar etika dan moral adalah konten-konten yang bersifat eksploitatif. Salah satu yang pernah viral adalah eksploitasi kemiskinan ektrem dan penderitaan demi mendapatkan view, like, komen dan share. Contohnya adalah eksploitasi kecantikan perempuan Baduy. Video ini sempat yang viral. Sampai budayawan Baduy pun ikut berkomentar.

Konten-konten vulgar yang menampilkan foto-foto dan video yang bersifat seksual sebenarnya juga dilarang. Meskipun konten jenis ini paling banyak diminati warganet. Contohnya para konten kreator yang berpakaian minim, atau konten kreator kuliner berpakaian syari tapi melakukan gerakan-gerakan erotis. Beberapa laki-laki bertelanjang dada memamerkan bicep-nya saat live banyak ditemukan di Tiktok.

Demi mendapatkan konten yang eksklusif beberapa konten kreator juga membuat video yang membahayakan. Salah satunya adalah dengan membuat tantangan-tangangan yang membahayakan diri. Beberapa waktu lalu sempat ramai chalange meloncat ke jalan raya yang padat lalu lintasnya.

Tantangan Online

Di luar negeri tantangan-tantangan online yang membahayakan diri ini sangat banyak. Seorang remaja bernama Corey dari Tucson, diam-diam ia mengikuti tantangan online yang disebutnya bola api. Akibatnya ia mengalami luka bakar serius di seluruh tubuhnya.

Perilaku konten kreator yang menghalalkan segala cara demi konten, demi viral ini bisa berdampak buruk. Selain bagi dirinya sendiri juga buat netizen.

Konten kreator yang sudah sampai pada level haus like, komen, share, bisa mengalami kecemasan jika kontennya tidak viral. Tekanan lain berasal dari platform yang menuntut untuk terus membuat konten agar tetap relate dengan audiens. Jika tidak siap, konten kreator bisa mengalami gangguan mental, kehilangan jati diri dan kemungkinan terburuk adalah depresi.

Jika kontennya dianggap melanggar etika dan moral seperti yang disebutkan di atas, dia akan menanggung hukuman dari warganet lebih berat: dijauhi teman, keluarga, kolega dan berpotensi dipecat dari pekerjaan sangat besar.

Apalagi jika menyebarkan berita bohong alias hoaks. Akibatnya lebih fatal. Contoh nyatanya terjadi di Dusun II Batu Putih, Desa Alila, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur saat pandemi Covid-19 lalu. Karena mendapat informasi yang tidak benar alias hoaks, warga beramai-ramai mengungsi ke hutan karena takut disuntik vaksin

Kejadian di Wamena lebih parah, hoaks soal penculikan memicu warga di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan bentrok dengan aparat. Akibat berita yang tidak benar itu beberapa orang menjadi korban tewas. Hoaks memang se-berbahaya itu.

Sampai hari ini, penyebaran haoks dengan beragam topik belum reda. Mulai dari hoaks soal sosial politik, kesehatan, keuangan, lowongan kerja, terutama soal hadiah gratis, uang gratis dan seterusnya.

Hoaks kebanyakan menyebar melalui aplikasi percakapan di sosial media. Saat ini saya bergabung dengan belasan grup Whatsaap khusus untuk berantas hoaks. Banyak orang meneruskan (memforward) kabar bohong semata-mata karena ketidaktahuan belaka.

Mereka tidak pernah mencek dan mericek lebih dulu apakah info yang diterima itu valid atau tidak. Dan ini terjadi di segala usia tidak melihat kelas sosial dan tingkat pendidikan. Jika dikasih tahu mereka diam-diam tersinggung dan sakit hati.

Tragis memang.

Hoaks ini bukan hanya tantangan khusus para konten kreator, tapi juga seluruh warga negara Indonesia. Untuk mengatasinya, perlu kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan agar hal-hal yang merugikan banyak pihak ini tidak terulang lagi.

Agar tak melanggar etika dan moral, sebelum membuat konten sebaiknya memahami undang-undang dan pedoman komunitas platform yang dipakai. Karena masing-masing platform mempunyai kebijakan yang berbeda-beda.

Konten kreator harus jujur di setiap kontennya untuk menjaga kredibilitas dan menghindari penyebaran informasi yang menyesatkan. Hormati privasi orang, tidak boleh menyebarkan informasi pribadi tanpa izin yang bersangkutan.

Sebagai konten kreator, haram hukumnya mencontek atau menjiplak karya orang lain, apalagi konten sana sini terus diaku sebagai hasil karyanya. Hormati hak cipta.

Setiap posting tidak boleh mengandung diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, atau faktor lain yang dapat memicu ketidakadilan. Dan konten yang diposting harus tetap sopan, tidak mengandung kekasaran, vulgar, atau tidak pantas. Bukan juga postingan yang mengada-ada untuk mendapat perhatian netizen.

Jika para konten kreator menerapkan prinsip-prinsip tersebut, mereka dapat menghasilkan konten yang bermanfaat, etis, dan sesuai dengan nilai-nilai moral serta hukum yang berlaku. Jadi mereka dikenal bukan karena kontroversi atau hal negatif lainnya, tetapi karena kontribusi positif yang diberikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...