95 Kali Letusan Sejak Awal Tahun, Kenapa Erupsi Gunung Ibu Tak Kunjung Berhenti?

Date:

Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, kembali erupsi pada Senin, 16 September 2024, sekitar pukul 10.35 WIT. Kolom abu setinggi 700 meter dari puncak gunung berwarna kelabu dan condong ke utara, menjadi tanda peningkatan aktivitas vulkanik.

Erupsi ini tercatat di seismogram dengan amplitudo maksimum 28 mm dan durasi 1 menit 32 detik. Rivaldi Hasan, petugas Pos Pengamatan Gunung Api Ibu, melaporkan bahwa Gunung Ibu kini berada pada status level III atau siaga, mengimbau masyarakat untuk menjauh dari radius 4 km dan hingga 5 km di sektor utara dari kawah aktif.

Namun, erupsi yang terjadi pada September ini bukanlah fenomena baru. Sejak awal tahun, gunung tersebut telah meletus sebanyak 95 kali, menunjukkan aktivitas yang berkelanjutan.

Menurut ahli vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.Eng. Mirzam Abdurachman, erupsi Gunung Ibu pada Mei 2024 mencapai tinggi kolom abu 6.000 meter, menandakan bahwa gunung ini memiliki “volcanic explosivity index” yang tinggi dan tergolong eksplosif.

Melansir itb.ac.id, Dr Mirzam menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik seperti ini disebabkan oleh akumulasi energi di dalam perut gunung. Magma yang terus bertambah menyebabkan tekanan yang tidak dapat tertahan, mirip dengan proses pemanasan air dalam panci tertutup. Seiring waktu, tekanan tersebut akan memaksa gunung untuk meletus secara eksplosif.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan gunung api meletus, baik secara siklikal maupun nonsiklikal. Secara siklikal, magma baru yang masuk ke dapur magma dapat memicu letusan karena ruang di dalam gunung menjadi penuh.

Proses pemisahan antara gas dan magma cair di dapur magma juga bisa menyebabkan letusan saat tekanan gas menjadi terlalu besar. Sementara itu, faktor nonsiklikal seperti aktivitas geologis, badai, atau gempa juga dapat menyebabkan gunung api meletus secara mendadak.

Bahaya Primer dan Sekunder

Letusan gunung api tidak hanya membawa ancaman langsung seperti aliran lava panas, abu vulkanik, dan gas beracun. Menurut Dr. Mirzam, bahaya primer ini sering kali diikuti oleh bahaya sekunder, yang dapat muncul setelah letusan terjadi.

Bahaya sekunder termasuk tsunami, banjir bandang, dan perubahan cuaca. Karena muncul di saat masyarakat sudah mulai lengah, bahaya sekunder bisa menjadi lebih merusak.

Pengalaman letusan besar pertama Gunung Ibu pada tahun 1911 dan letusan susulan pada tahun 1998 menunjukkan bahwa gunung ini memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik eksplosif.

Pada letusan 1998, terbentuk sumbat lava yang memicu akumulasi energi dan meningkatkan risiko letusan eksplosif berikutnya, seperti yang terjadi pada Mei 2024.

Jalur Busur Vulkanik Indonesia

Letusan Gunung Ibu juga memiliki relevansi dengan busur vulkanik di Indonesia. Indonesia memiliki empat busur vulkanik: Busur Sunda, Busur Banda, Busur Halmahera, dan Busur Sangihe-Selebes.

Dr. Mirzam menekankan bahwa gunung berapi di jalur yang sama sering kali meletus dalam waktu yang berdekatan karena dipengaruhi oleh lempeng yang sama.

Aktivitas vulkanik di Gunung Ibu tidak hanya berbahaya bagi masyarakat di sekitar Halmahera, tetapi juga bisa memicu aktivitas vulkanik di gunung-gunung lain yang berada di busur vulkanik yang sama.

Fenomena ini mirip dengan pola letusan yang terjadi di beberapa gunung di jalur vulkanik lain di Indonesia.

Menghadapi ancaman erupsi Gunung Ibu, langkah-langkah mitigasi terus dilakukan. Berdasarkan pengalaman dari letusan gunung-gunung lain di Indonesia, penting bagi masyarakat untuk memahami karakter gunung api di wilayah mereka.

Dr. Mirzam menyoroti pentingnya kerja sama antara pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat dalam menangani potensi bencana vulkanik. Sosialisasi dan edukasi mengenai bahaya abu vulkanik serta penggunaan masker dan kacamata pelindung menjadi langkah awal yang vital.

Imbauan untuk Warga

Masyarakat yang berada di sekitar lereng Gunung Ibu juga diimbau untuk terus mengikuti instruksi dari pihak berwenang terkait pembatasan aktivitas di radius yang sudah ditentukan.

Pos pengamatan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Ibu, dan data dari pemantauan ini menjadi kunci dalam perencanaan mitigasi yang lebih lanjut. BPBD Halmahera Barat telah menyiapkan posko tanggap darurat dan mendistribusikan alat pelindung diri kepada warga.

Erupsi Gunung Ibu pada September 2024 menambah daftar panjang letusan gunung ini dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas vulkanik yang terus meningkat mengingatkan kita akan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan

Seperti yang disampaikan oleh Dr. Mirzam, memahami mekanisme letusan gunung api dan mengenali karakteristik gunung di sekitar kita menjadi kunci dalam mengurangi dampak bencana. Dengan upaya mitigasi yang tepat, risiko dari letusan Gunung Ibu dapat diminimalisasi, dan keselamatan masyarakat dapat lebih terjaga.

Penulis: Purba Handayaningrat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...