Bayangkan kamu saat ini berada di pinggir danau di tepi hutan yang tak terdeteksi Google Map. Menikmati pemandangan yang mirip lukisan, pohon-pohon yang berusia ratusan tahun, mendengarkan suara desau air danau yang mengalir, suara unik beragam burung yang belum pernah kita tahu wujud yang sebenarnya. Dan tentu saja hembusan udara yang membawa kesejukan. Rasanya tenang dan membahagiakan.
Kapan terakhir menikmati suasana alam yang penuh kedamaian?
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan digital yang semakin mendominasi keseharian kita, kesehatan mental menjadi isu yang kian mendesak, terutama bagi generasi muda. Selain maraknya PHK, tekanan itu berasal dari pekerjaan keseharian yang tak pernah selesai, juga akibat terpapar konten negatif dari sosial media.
Stres, kecemasan, hingga depresi seolah menjadi “teman tak diundang” dalam rutinitas yang sibuk dan serba cepat. Di sinilah forest healing, atau terapi alam melalui hutan, hadir sebagai alternatif yang menenangkan dan penuh manfaat. Salah satunya adalah menurunkan kadar kortisol ( hormon stress).
Penelitan yang dilakukan di Korea menunjukkan, kadar kortisol dalam tubuh seseorang adalah 1.113, setelah mengikuti program healing menjadi 0.082. Jadi ketika suntuk, sering-seringlah bepergian ke alam bebas agar kewarasan kita tetap terjaga.
Asal Usul Shinrin-Yoku
Forest Healing sudah populer di Korea, bahkan di Jepang telah dijadikan program kesehatan nasional. Awalnya forest healing atau Shinrin-Yoku muncul pada tahun 1982.
Saat itu Tomohide Akiyama, Direktur Badan Kehutanan Jepang, menciptakan istilah untuk menggambarkan aktivitas menghabiskan waktu di hutan: shinrin-yoku, atau “mandi hutan” (Miyazaki, 2018).
Shinrin-Yoku memfokuskan pada pemakaian semua indera yang kita punyai untuk merasakan keadaan hutan, menghidu, meraba, mendengarkan, menyentuh, mengamati dan merenungkan.
Mungkin selama ini banyak yang masih melihat hutan sebagai pemandangan yang menyenangkan saja. Padahal bisa lebih dari itu. Di tengah hutan, kita bisa “berkomunikasi” dengan meraba kulit pohon atau menyentuh lumut dan mengamati bentuk-bentuk daun-daun, bunga-bunga, buah yang berbeda-beda.
Kenapa pohon beringin yang pohonnya sangat besar tapi mempunyai buah yang kecil-kecil? Atau kenapa buah-buahan itu ada yang bijinya di dalam, ada yang di luar dan ada yang tak mempunyai biji?
Dengan “berdialog” dengan mereka, kita secara tidak langsung akan melakukan perenungan-perenungan, dialog dengan diri sendiri yang bisa membantu menenangkan pikiran dan membantu memahami diri sendiri, mengenali nilai-nilai dan tujuan hidup, serta merefleksikan pengalaman hidup.
Manfaat Kesehatan
Ada banyak manfaat kesehatan juga ketika kita menenggelamkan diri di dalam hutan. Salah satunya adalah mengurangi stres dan kecemasan. Karena di tengah dapat menurunkan hormon stres seperti kortisol dan meningkatkan hormon relaksasi seperti dopamin.
Forest Hhealing juga bisa meningkatkan mood kebahagiaan. Karena melihat warna hijau dan menghirup udara hutan yang kaya fitoncid (senyawa yang dikeluarkan pohon) dapat meningkatkan suasana hati dan perasaan positif.
Berjalan-jalan di hutan dapat meningkatkan kesadaran dan fokus, membantu kita berfikir lebih jernih. Dan yang paling utama adalah meningkatkan sistem imun. Saat berada di alam jumlah sel NK (natural killer) meningkat sehingga bisa membantu melawan infeksi.
Soal ini saya sudah mengalaminya langsung. Bulan lalu, sebelum berangkat mendaki ke Gunung Lawu, kondisi tubuh tidak fit, ada gejala flu, pilek, greges-greges karena semalam tidak tidur. Sempat tidak yakin mau berangkat atau tidak. Akhirnya memutuskan berangkat saja. Selama dalam perjalanan mendaki dari kaki gunung sampai ke puncak, semua keluhan hilang. Sampai di puncak Lawu, badan menjadi fit.
Berada di tengah alam juga dapat memicu munculnya ide-ide segar dan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Selain itu Forest Healing juga membantu kita untuk menghargai dan terhubung kembali dengan alam.
Praktek Forest Healing
Praktek forest healing sebenarnya cukup sederhana. Selain dengan berjalan-jalan santai, kita juga bisa melakukan aktivitas lain. Misalnya Meditasi. Carilah tempat tenang di hutan dan fokus pada pernapasan, suara alam, dan sensasi tubuh dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan.
Yang lain juga bisa melakukan yoga atau Tai chi di hutan. Gerakan lembut dan fokus pada pernapasan dalam yoga atau Tai Chi dapat membantu menenangkan pikiran dan meningkatkan fleksibilitas tubuh.
Sekali-sekali cobalah aktivitas yang berbeda. Misalnya membuat sketsa atau melukis. Mengungkapkan kreativitas melalui seni dapat menjadi cara yang efektif untuk mengurangi stres dan meningkatkan mood.
Atau sekadar ngobrol sama teman, menikmati teh herbal yang hangat bisa membantu menenangkan tubuh dan pikiran.
Penelitian oleh Harvard Medical School (2018) menunjukkan, orang yang menghabiskan waktu di alam terbuka secara teratur mengalami peningkatan kesejahteraan emosional dan perasaan lebih dekat dengan dunia di sekitar mereka.
Secara medis, forest healing memiliki banyak manfaat yang dapat menyembuhkan stres dan penyakit mental lainnya. Mulai dari penurunan kadar kortisol, peningkatan hormon kebahagiaan, perbaikan pola tidur, hingga penurunan aktivitas sistem saraf simpatis, wisata ke hutan menawarkan terapi holistik untuk kesehatan mental.
Jadi Solusi Alami
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tekanan seperti sekarang, forest healing menjadi solusi alami yang sangat efektif untuk menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental kita.
Dan negara kita tercinta Indonesia, saat ini memiliki 55 Taman Nasional dan 130 Taman Wisata Alam yang tersebar dari Pulau Weh sampai Pulau Rote. Kita bisa memanfaatkannya untuk melakukan forest healing sehingga kualitas Kesehatan mental kita bisa lebih baik.
Jadi kalau sedang merasa stress, jenuh, burn out, pergilah ke hutan. Bukan melarikan diri ke hal-hal yang negatif: judi online atau menghabiskan uang untuk alkohol.


