Berapa rata-rata jam kamu mengakses sosmed dalam sehari? 3 jam, 6 jam atau 12 jam? Hari ini kita agak kesulitan menghindari paparan segala macam informasi yang mendatangi kita.
Arus informasi terus menerus bak serangan virus DDoS. Selain informasi yang datang dari aplikasi media umum, notifikasi dari sosial media juga terus menerus berbunyi. Dari Tiktok, X, Instagram, Youtube, aplikasi percakapan sampai aplikasi perkencanan.
Setiap orang saling berinteraksi. Namun hanya sekilas. Tanpa benar-benar mencermati informasi yang diterima, apalagi menganalisa secara mendalam. Salah satu contoh yang sering kita alami terjadi di grup Whatsapp. Sebagian perilaku dari anggota grup yang langsung memforwad pesan yang ia terima, tidak mengecek lagi apakah informasi yang diterima itu valid atau hoaks.
Uniknya, ketika ada anggota lain yang mengingatkan dia malah defensif, menyampaikan dua ribu alasan untuk mencari pembenaran tindakannya. Beberapa anggota senior, kaum boomer lebih parah. Mereka malah marah melalui DM (direct message) karena merasa dipermalukan di depan umum.
Platform seperti Instagram, Twitter, TikTok, dan Facebook memungkinkan netizen mengakses ribuan informasi hanya dalam hitungan detik. Sayangnya, tidak semua informasi yang ia terima itu konten yang bermutu atau membantu untuk meningkatkan kemampuan berpikir. Dan konten-konten yang kurang berkualitas itu justru yang disukai kebanyakan warganet.
Penelitian dari Microsoft (2015) menunjukkan bahwa rata-rata pengguna hanya meluangkan waktu sekitar 8 detik untuk menyerap informasi di satu postingan, sangat sedikit waktu untuk memikirkan, apalagi mengkritisi, isi konten tersebut.
Literasi Digital Rendah
Lebih celaka lagi hari ini masih banyak warganet yang tidak bisa memilah mana informasi dari sumber yang terpercaya atau dari sumber yang tidak kredibel, mana info yang perlu diperhatikan dan mana yang perlu diabaikan. Secara tingkat literasi digital warganet yang masih rendah.
Jangankan literasi digital, soal hitung-hitungan matematika sederhana dan pengetahuan umum dasar saja, beberapa anak SMA banyak yang belum tahu. Seperti banyak video yang beredar di Tiktok, seorang siswa sekolah menengah ditanya kontent kreator, apa kepanjangan SMK, dia menjawab sekolah menengah ke atas. Siswa lain diminta untuk menyebutkan salah satu negara di eropa, dia menjawab Garut.
Ini tragis.
Hasil riset Pew Research Center (2021) menyatakan bahwa hampir 80% generasi muda lebih mengandalkan media sosial untuk berita daripada sumber media beneran (mainstream). Karena itu istilah “googling” dalam konteks mencari berita kini sudah ditinggalkan, digantikan dengan istilah “searching”.
Sayangnya, media sosial kerap membuat konten yang lebih sensasional daripada akurat. Biasanya sosial media hanya mengejar traffic, sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya itu.
Salah satunya adalah dengan memakai judul-judul yang bombastis, sensasional yang mampu menggerakkan emosi netizen atau menyajikan info sepotong-sepotong agar pembaca terus penasaran.
Selain itu Fenomena FOMO juga memainkan peran besar dalam menghalangi pemikiran mendalam. Pengguna merasa perlu untuk selalu “update” terhadap hal-hal baru, mendorong mereka mengonsumsi informasi dengan cepat tanpa sempat menelusuri secara kritis.
Survei dari Journal of Social and Clinical Psychology (2020) menunjukkan bahwa 60% pengguna media sosial, terutama Gen Z mengalami kecemasan karena ketakutan tertinggal berita, yang berdampak pada ketidakmampuan untuk menganalisis informasi secara matang.
Kehilangan Kemampuan Berpikir
Seorang Filsuf dari Jerman, Martin Heidgegger menyebut fenomena ini sebagai gejala “kehilangan kemampuan berpikir mendalam”. Karena konten media sosial yang hanya memberi ruang untuk konten singkat dan dangkal.
Berbagai penelitian menunjukkan efek negatif dari penggunaan media sosial yang berlebihan terhadap kemampuan berpikir. Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of California, Los Angeles (UCLA) pada tahun 2018, menemukan penggunaan teknologi informasi, termasuk media sosial yang berlebihan dapat menyebabkan penurunan kemampuan berpikir kritis dan analitis.
Contoh nyata dari hilangnya kemampuan berpikir dapat kita lihat dalam keseharian kita. Misalnya, saat kita membaca berita di media sosial, kita cenderung hanya membaca judul dan beberapa kalimat pertama, tanpa membaca artikel secara keseluruhan. Kita juga cenderung percaya pada informasi yang kita temukan di media sosial tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Fenomena ini diperparah oleh algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten-konten yang sesuai dengan preferensi dan minat kita. Algoritma ini membuat kita terjebak dalam “filter bubble” atau “echo chamber”, di mana kita hanya terpapar informasi yang sejalan dengan pandangan kita, sehingga kita tidak terpapar perspektif yang berbeda dan tidak terdorong untuk berpikir kritis.
Dampak hilangnya kemampuan berpikir kritis tidak hanya pada kehidupan individu, tetapi juga pada kehidupan sosial dan politik. Dalam konteks politik, misalnya, hilangnya kemampuan berpikir kritis dapat menyebabkan masyarakat mudah terprovokasi oleh informasi hoaks dan propaganda, sehingga mudah termanipulasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Menurut filsuf dari Jerman, Martin Heidegger, kemampuan berpikir kritis melibatkan perenungan, proses mengurai informasi, dan menemukan pemahaman yang lebih mendalam. Namun, media sosial menumbuhkan budaya “pembacaan dangkal”.
Bahaya Pola Pikir Dangkal
Mengingat bahaya dari pola pikir dangkal ini, penting untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis dan mendalam. Beberapa langkah yang dapat diambil adalah meminimalkan waktu di media sosial, menerapkan teknik mindfulness, atau melatih diri untuk berpikir kritis melalui diskusi terbuka.
Selain itu matikan notifikasi ponsel. Karena notifikasi yang terus-menerus muncul di ponsel kita dapat mengganggu konsentrasi dan mematikan kemampuan berpikir kita. Berlatih untuk mematikan notifikasi atau membatasi waktu penggunaan ponsel dapat membantu kita untuk lebih fokus pada aktivitas yang menuntut pemikiran mendalam.
Dan ini yang penting, mencari hobi baru. Aktivitas ini bisa mengalihkan perhatian kita dari media sosial. Misalnya belajar membuat animasi, les teknik membuat video, belajar filsafat, atau memanfaatkan aplikasi AI yang lagi populer atau bisa juga belajar menari atau olaha vocal. Hal itu dapat membantu kita melatih kemampuan berpikir dan meningkatkan kreativitas.
Jadi mulai sekarang, gunakan media sosial dengan bijak, agar kita tetap bisa berpikir kritis, tidak menjadi budak sosial media yang harus menelan semua informasi.
Sehingga apa yang dikatakan Martin Heidegger jauh sebelum ada internet ini tidak terbukti, “Manusia modern telah kehilangan kemampuan untuk berpikir. Mereka terjebak dalam arus informasi yang cepat dan dangkal, kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan mendalam.”


