
Ada berbagai tradisi untuk merayakan tahun baru Islam, 1 Muharram. Salah satunya adalah bubur suro.
Perlu diketahui, dalam kalender Islam Suro disebut dengan Muharram. Disebut Suro dalam penanggalan Jawa karena pada bulan Muharram terjadi peristiwa kelabu di masa , yakni Asyura yang lantas menjadi Suro.
Sementara, kalender Jawa yang sekarang berlaku juga merupakan adopsi dari penanggalan Hijriah yang ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Adopsi kalender Islam ke Jawa ini dilakukan pada masa pemerintahan Mataram Islam, Sultan Agung.
Pada 2024 ini setidaknya ada dua versi awal tahun baru Islam 1 Muharram 1446 Hijriah. Pemerintah menetapkan 1 Muharram pada Minggu, 7 Juli 2024, sementara PBNU menyatakan 1 Muharram jatuh pada Senin, 8 Juli 2024.
Kembali ke bubur Suro, adalah kuliner khas 1 Muharram yang dibagikan kepada masyarakat sebagai buntuk syukur. Bubur suro bukanlah sajian yang bersifat mistik semacam sesajen. Bubur Suro menjadi salah satu tradisi khas yang menjadi bagian dari ‘ubo rampe’ peringatan 1 Muharram.
Banyak cara dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk merayakan Malam 1 Muharram atau 1 Suro. Salah satu nya tradisi memberikan bubur kepada masyarakat setempat yang dinamakan bubur suro oleh masyarakat Jawa yang dilakukan sudah secara turun-temurun.
Menurut pemerhati budaya Jawa, Arie Novan, seperti sajian yang dihidangkan saat upacara adat Jawa lainnya, bubur Suro merupakan lambang rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa atas berkah dan rezeki yang diperoleh.
“Konon ini kan sudah ada sejak Sultan Agung bertahta di Jawa, terlepas dari apapun itu tentu bubur Suro ini merupakan refleksi dari masyarakat Jawa atas berkah dan reziki yang di berikan Allah SWT kepada mereka,” ujarnya, dikutip dari indonesia.go.id, Senin (8/7/2024).
Bahan 7 Macam dan Maknanya
Bubur Suro terbuat dari beras yang dimasak dengan aneka bumbu dan rempah tradisional seperti santan, serai, dan daun salam sehingga rasanya lebih gurih dibandingkan bubur biasanya. Biasanya sajian bubur Suro memiliki tampilan dan lauk yang berbeda-beda tergantung daerahnya.
Namun sebagian besar memiliki karakteristik yang sama, yakni disajikan bersama kuah santan kuning, tahu, orek tempe atau teri, telur, dan kacang-kacangan. Menariknya, harus ada tujuh jenis kacang yang ada dalam sepiring bubur Suro.
Selain tujuh jenis kacang, tak lupa suwiran jeruk Bali dan buah delima ditaburkan di atas sajian bubur untuk menambah rasa asam yang unik.
Seperti tujuh jenis kacang yang terdiri dari kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, kacang mede, dan beberapa kacang lainnya, yang melambangkan tujuh hari dalam satu minggu.
Menyantap bubur Suro bertabur tujuh jenis kacang merupakan doa agar selalu diberi berkah dan kelancaran dalam hidup setiap harinya.
Kisah Nabi Nuh
Sementara sumber lain menyebutkan terciptanya bubur suro kala itu untuk memperingati hari di mana Nabi Nuh selamat setelah 40 hari mengarungi banjir besar yang melanda dunia saat itu. sebagaimana tertera pada kitab kuno, di antaranya Nihayatuz Zain (Syekh Nawawi Banten), Nuzhalul Majelis (Syekh Abdul Rahman Al-Usfuri), dan Jam’ul Fawaid (Syekh Daud Fatani).
Cerita bermula pada saat itu Nabi Nuh sedang bertanya kepada para sahabat apakah masih ada makanan sisa di dalam kapal lalu sahabat menjawab “Masih ada ya nabi”. Ia menyebutkan bahan makanan yang tersisa ada kacang poi, kacang adas, ba’ruz, tepung, dan kacang hinthon. Bahan tersebut lalu dimasak bersamaan. Di sinilah cikal bakal terbentuknya santapan lezat tersebut.
Bubur Suro kini masih bisa dijumpai di beberapa wilayah Jawa Timur, salah satunya Madura, dan sebagian wilayah Jawa Tengah seperti Yogyakarta, Solo, hingga Semarang.
Selain disantap bersama keluarga dan kerabat terdekat, bubur Suro merupakan salah satu sajian yang sering dibagikan secara masal di masjid-masjid sebagai wujud sedekah dan berbagi rezeki kepada orang-orang yang membutuhkan.
“Sekarang tentu tidak hanya yang disebutkan tadi, Bubur Suro terkadang dibagikan masal dibeberapa masjid di pulau Jawa. Jadi buka mistisnya saja yang orang awan tahu, tapi sekarang dibagikan berbagi rezeki kepada yang membutuhkan saya kira itu,” Arie menjelaskan.
Penulis: Mikail Dzan AB


