
Suhu dingin melanda sejumlah wilayah di Indonesia pada pertengahan dasarian kedua Juli 2024 ini. Peristiwa ini lazim disebut dengan istilah bediding. Bediding adalah kondisi saat suhu turun lebih rendah dari kondisi normal. Biasanya, bediding terjadi pada musim kemarau.
Bediding dilaporkan terjadi di Blitar, Jawa Timur, Banjarnegara, Jawa Tengah, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB). Bahkan, di Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara, suhu pagi hari turun minus 1,7 derajat Celsius dan menyebabkan embun es lebih tebal.
Suhu dingin ini juga dikaitkan dengan aphelion, yakni kondisi saat matahari berada di titik terjauh dari bumi. Namun, hal ini dibantah oleh BKMG.
Istilah bediding berasal dari bahasa Jawa, bedhidhing, yang dalam bahasa sederhana diartikan sebagai ‘dingin sekali’. Bediding ditandai dengan suhu siang hari yang normal, namun kemudian turun signifikan pada malam dan mencapai suhu terendah pagi hari.
Berikut ini adalah fakta-fakta bediding, mulai dari pengertian, penyebab, hingga bagaimana terjadinya bediding, melansir situs BMKG, Minggu (14/7/2024).
Pengertian Bediding
Fenomena bediding dalam konteks klimatologi merupakan hal normal karena memang proses fisisnya berkaitan dengan kondisi atmosfer saat musim kemarau.
Terjadi pada Musim Kemarau
Pada musim kemarau umumnya jarang terjadi hujan di mana tutupan awan berkurang, sehingga panas permukaan bumi akibat radiasi Matahari lebih cepat dan lebih banyak yang dilepaskan kembali ke atmosfer berupa radiasi balik gelombang panjang.
Dengan curah hujan yang kurang maka kelembapan udara juga rendah yang berarti uap air di dekat permukaan bumi juga sedikit. Bersamaan dengan kondisi langit yang cenderung bersih dari awan maka panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepaskan ke atmosfer luar, sehingga kemudian membuat udara dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.
Suhu Pagi dan Siang Hari Beda Signifikan
Kondisi ini umum terjadi pada wilayah Indonesia dekat khatulistiwa hingga bagian utara. Pada wilayah ini, meski pagi hari cenderung lebih dingin namun pada siang hari udara akan terasa lebih panas.
Hal ini karena ketiadaan awan dan juga kurangnya uap air saat musim kemarau menyebabkan radiasi langsung matahari akan lebih banyak pula yang mencapai permukaan bumi.
Jawa, Bali hingga NTB
Pada wilayah selatan Indonesia seperti Sumatera Selatan, Jawa Bagian Selatan hingga Bali, NTT dan NTB pada siang hari suhu udara juga akan lebih rendah dari suhu udara periode bulan lainnya.
Monsun Australia
Fenomena ini cukup terasa pada bulan Juli di mana saat ini angin timuran atau monsun Australia yang kering mengalir melewati wilayah-wilayah tersebut. Pada bulan Juli juga merupakan puncak musim dingin Australia sehingga udara dinginnya mengintrusi masuk wilayah Jawa Bagian Selatan hingga Bali, NTT dan NTB.
Dampaknya, meskipun kemarau di mana siang hari matahari bersinar terang tanpa hambatan awan, namun udara dingin dari aliran monsun Australia lebih dominan memengaruhi penurunan suhu udara pada siang hari tersebut.
Tidak Terpengaruh Aphelion
Adapun posisi Matahari saat ini berada pada titik jarak terjauh dari Bumi (Aphelion) dalam siklus gerak revolusi bumi mengitari Matahari, hal itu tidak berpengaruh secara signifikan pada fenomena atmosfer dekat permukaan bumi.
Penulis: Mikail Dzan AB


