
Detoks Media Sosial (Fotor)
Sosial media bak pisau milik master chef yang berharga Rp 42 juta. Di tangan chef, pisau itu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan racikan menu yang lezat. Sementara di tangan orang yang salah, dia tak berarti apa-apa, bahkan bisa untuk membunuh.
Sebagai bagian dari 167 juta warga negara Indonesia pengguna sosial media, kita tak tak bisa lepas dari beragam aplikasi . Dari waktu subuh sampai subuh lagi aktivitas di sosial media tak pernah berhenti.
Karena di situ, tiap orang bisa menjadi subjek yang bisa memproduksi konten sekaligus objek. Menariknya kita juga bisa melakukan interaksi langsung dengan orang beragam latar belakang dan profesi yang berasal dari berbagai negara.
Di sosial media kita juga bisa mencari informasi dengan beragam topik, mulai dari hiburan, belajar sesuai keinginan, mencari pacar dan tentu saja mencari uang.
Seorang pekerja kreatifi di Industri entertainment, sebut saja namanya Ryan Gosling tiap hari harus memantau percakapan online yang terjadi di sosmed. Mulai dari aplikasi X, Instagram, Facebook, Thread dan aplikasi lain. Sehingga ia bisa membuat strategi kampanye yang sesuai dengan audiensnya.
Selama berjam-jam, berhari-hari, ia tak lepas dari gawainya yang smart. Sebagai karyawan yang baik ia berusaha mengerjakan tugasnya sesempurna yang ia bisa. Kalau ngga bonus tahun depan bisa meleset.
Selain itu dia juga berusaha membranding dirinya habis-habisan sebagai konten kreator di bidang kuliner. Ia harus menyiapkan konten secara rutin di berbagai platform, membuat jadwal posting.
Ia juga menyebarkan dan mempromosikan agar konten-kontennya memperoleh view, like, love, klik maksimal. Syukur-syukur bisa viral, yang ujung-ujungnya memperoleh pengakuan dari brand yang akan meng-endorsenya.
Namun tiap selesai memposting foto atau video ia cemas konten yang ia buat dengan susah payah tak mendapatkan like, komen dan share yang maksimal. Diam-diam ia berharap kontennya banyak direspon netizen. Namun kadang apa yang ia dapatkan justru sebaliknya. Tak jarang ia menerima kritikan pedas dari netijen julid.
Memikirkan itu semua membuatnya dia kesal, marah, jenuh dan bosan. Meski begitu ia tak bisa juga langsung menghentikan aktivitasnya itu.
Dilema.
Gosling tak sendirian. Banyak Gosling-Gosling lain yang mengalami hal yang sama. Menghabiskan waktu lebih banyak waktu di sosial media dibanding yang diinginkan.
Orang-orang yang telah mengalami kondisi mental seperti itu perlu membatasi aktivitas di sosial media (detoks sosial media) agar tak terjerat lebih dalam.
Ini sangat penting karena menyangkut berbagai alasan yang berkaitan dengan kesehatan mental, produktivitas, dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Dengan melakukan pembatasan akses ke media sosial (social media detox) ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh antara lain bisa mengurangi stress dan cemas.
Paparan terus-menerus soal berita negatif, perbandingan sosial, dan tekanan untuk tetap aktif dapat menyebabkan perasaan cemas dan stres. Detoks media sosial memungkinkan kita untuk beristirahat dan mengurangi paparan konten-konten yang dapat meningkatkan stres.
Kedua bisa meningkatkan kualitas tidur. Menghabiskan waktu di depan layar ponsel sebelum tidur, dapat mengganggu pola tidur. Cahaya biru dari layar gadget dapat menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur. Jika bisa menghindarinya, kita bisa tidur lebih nyenyak dan bangun lebih segar.
Mengurangi aktivitas di sosial media dapat meningkatkan produktivitas. Kita semua sering terdistraksi secara signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Waktu yang dihabiskan untuk men-scroll media sosial selama berjam-jam bisa digunakan untuk aktivitas yang lebih produktif, seperti bekerja, belajar, atau berolahraga di “dunia nyata”.
Dengan detoks sosial media kita bisa bertatap muka langsung dengan keluarga, teman, tetangga. Ini bisa memberikan kesempatan untuk lebih mengenal satu sama lain secara nyata.
Dan tentu saja dengan detoks media sosial bisa meningkatkan kesehatan mental karena sosial media sering memicu perasaan tidak puas, rendah diri, dan depresi karena perbandingan sosial dan tekanan untuk menunjukkan kehidupan kita sempurna.
Waktu yang dihabiskan di media sosial bisa dialihkan untuk mengejar hobi dan minat baru yang mungkin telah diabaikan. Tanpa “gangguan” media sosial, kita dapat mengeksplorasi kreativitas kita, mencoba aktivitas baru, dan mengembangkan keterampilan baru yang dapat memberikan rasa pencapaian dan kepuasan.
Namun apakah hal itu bisa dilakukan oleh Ryan Gosling? Tampaknya akan sangat sulit. Yang bisa dilakukan, detoks media sosial bisa jadi menjadi boomerang, karena ia tak bisa mengikuti update info terbaru yang menurutnya menarik. Misalnya promo tiap bulan dari lapak-lapak online. Paparan sale di Live Tiktok selama 24 jam akan sangat mengganggu pikirannya kalau sampai terlewat.
Bagaimana cara mengatasinya? Ini adalah pengalaman @rusabawean dalam mengelola dirinya agar terhindar dari jeratan sosial media yang bisa berefek buruk bagi Kesehatan mental dan fisiknya. Sosok yang telah puluhan tahun berkecimpung di sosial media ini sudah terlatih mendisiplinkan diri untuk terhindar jadi budak konten.
Di Instagram, yang paling banyak ia lakukan adalah mengecek fitur “Explore”, karena di situ banyak insight yang baru atau sesuatu yang tren untuk konten berikutnya.
Kemudian memantau Reels untuk melihat-lihat konten apa yang lagi ramai. Uniknya ia mengaku jarang memperhatikan feed. “Stories”, ia hanya sekali membuka itupun hanya sebentar, tidak lebih dari 10 akun.
Sementara ?untuk TikTok ia lebih banyak mengecek sound yang lagi tren apa. Ia hanya mengece fitur “For You” dan hampir tak pernah mengintip konten teman-temannya. Atau ia melihatnya saat santai atau mau tidur.
Menurutnya Tiktok punya fitur search yang powerful. Tempat untuk mencari cari sesuatu misalnya isu yang lagi tren atau barang yang sedang ia butuhkan.
Untuk X, facebook dan Thread ia jarang membuka, hanya sesekali. Apalagi X yang banyak banyak komentar julidnya.
Untuk menjaga emosinya tetap positif, ia tidak mengikuti gossip apapun di sosmed. Ia juga rajin banget meng-klik “not interested” konten-konten yang menurutnya tidak relate dengan dirinya.
Apalagi yang kreatornya yang tidak ia sukai secara personal. Juga konten-konten negatif seperti pornografi, perjudian, penipuan, pelecehan, hoaks dan pencemaran nama baik.
Selain itu menghindari paparan konten negatif, menatap layar terlalu lama juga bisa memperburuk kondisi kesehatan mentalnya. Seorang peneliti mengungkapkan, seseorang yang menghabiskan lebih dari enam jam per hari untuk menonton layar memiliki risiko terkena depresi lebih tinggi.
Selain itu sinar biru dari layar ponsel bisa berdampak buruk pada Kesehatan mata. Salah satunya bisa merusak retina. American Macular Degeneration Foundation menyatakan, kerusakan retina yang disebabkan sinar biru dapat menyebabkan degenerasi macula, yaitu kemampuan untuk melihat apa yang ada di depan kita.
Intinya tak perlu berlebih-lebihan dalam ber-sosmed, seperlunya saja.
Penulis: Karmin


