
Setiap bulan Agustus, menjelang peringatan ulang tahun kemerdekaan Indonesia, warga desa Ronggojati antusias menyambutnya. Mereka secara bersama-sama memeriahkan ulang tahun Indonesia itu dengan melaksanakan banyak kegiatan. Sejak awal bulan, warga sudah berinisiatif memasang penjor, umbul-umbul dengan nuansa merah putih di sepanjang kiri kanan desa.
Warga dengan semangat bergelora juga beramai-ramai mengecat pagar, gapura-gapura perbatasan dusun, tugu-tugu ikonik dan juga memasang bendera merah putih di tempat-tempat strategis.
Para remaja juga mengadakan berbagai macam lomba, turnamen bola voli, bulutangkis dan sepak bola dengan beragam hadiah yang tak seberapa. Meriah sekaligus mengharukan.
Mereka seperti melupakan sebentar, permasalahan hidup yang mereka hadapi setiap hari, setiap bulan yang terus berulang. Tahun ini, Indonesia kita tersayang merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-79.
Namun, sebenarnya apakah kita sebagai warga negara sudah benar-bener merdeka? Merdeka dari siapa, merdeka dari apa? Apakah tujuan kemerdekaan seperti yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan sudah benar-benar kita nikmati sekarang ini? Semua akan sepakat menjawab belum.
Seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 45 alinea keempat, salah satu tujuannya adalah memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan keadilan sosial. Namun faktanya masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan untuk mewujudkannya. Apalagi sampai level rakyat adil makmur sejahtera.
Faktanya, data Biro Pusat Statistik (BPS) mencatat masih ada sekitar 25,22 juta penduduk miskin pada Maret 2024. Mereka adalah warga negara Indonesia yang pendapatannya rata-rata per bulan sebesar Rp 582.932. Artinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari mereka menghabiskan Rp 19 ribuan. Tak cukup untuk sekadar membeli secangkir kopi di kafe.
Salah satu contoh penduduk miskin itu berada di wilayah Ronggojati, Batuwarno, Wonogiri. Salah satu petani, sebut saja namanya Ringin selalu mengeluhkan sulitnya mendapatkan benih padi waktu tanam. Begitu juga obat hama dan pupuk, langka. Kalaupun ada, harganya sangat tinggi. Sementara ketika panen tiba, harga dikuasai para tengkulak atau pengepul. Mereka mematok harga rendah, petani tak berdaya menghadapi.
Memang sebenarnya masih ada cara untuk mengatasi masalah tersebut yakni dengan menanam sistem organik sehingga tak ada ketergantungan lagi soal pupuk kimia. Pupuk dan obat hama organik bisa dibuat sendiri. Namun tak ada yang mengedukasi dan mementori.
Tidak hanya petani, para guru, pahlawan tanpa tanda jasa ini pun belum bisa menikmati kesejahteraan. Salah satunya dialami oleh Lukas Kolo, guru yang telah mengajar selama 10 tahun tapi tak pernah mendapatkan gaji bulanan. Ia mengajar di SMP Negeri Wini yang lokasinya berada di Humusu C, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk menghemat biaya transportasi ia menginap di ruang perpustakaan.
Kondisi yang cukup miris dan tragis.
Padahal, konon Indonesia menyimpan kekayaan alam yang melimpah ruah. Bukan sekadar hasil tambang, laut dan segala macam budaya semuanya ada di Indonesia. Seperti yang pernah disampaikan mantan Ketua KPK Abraham Samad yang menyebutkan, bila tidak ada korupsi di pertambangan (pertambangan saja ya), tiap warga negara bisa mendapatkan Rp 20 juta gratis dari negara. Sebagian warga negara Indonesia belum merdeka secara ekonomi.
Di tempat lain masih ada warga negara yang belum merdeka dari kebodohan. Seperti video yang viral lagi. Sebanyak 29 siswa di SMP Negeri 1 Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat tidak bisa membaca. Maksudnya sekadar membaca huruf, bukan membaca data dan seterusnya.
Buta huruf atau ketidakmampuan untuk membaca dan menulis ini ternyata juga terjadi di wilayah lain. Anak berusia 15 tahun ke atas yang masih mengalami buta huruf terjadi juga di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jogjakarta dan wilayah luar Jawa. Tertinggi di Papua disusul Nusa Tenggara Barat (NTB) –data dari BPS, 2024.
Selain belum merdeka dari ekonomi, pengangguran dan putus sekolah, merdeka dari koruptor dan merdeka dari ketergantungan dari negara asing, di era digital ini ada yang lebih urgen, yakni merdeka dari gaptek, kesepian dan keterasingan.
Masih banyak warga yang belum memahami manfaat internet secara maksimal. Ponsel dan komputer hanya dipakai untuk hal-hal yang bersifat menghibur saja. Mereka belum memanfaatkan fitur-fitur canggih untuk membantu memudahkan perkerjaan dan mengatasi masalah kehidupan sehari-hari.
Mereka tentu saja mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara online, tidak update info terbaru, tidak bisa membedakan berita valid dan hoaks, kesadaran soal pengamanan data pribadi masih rendah, juga soal penipuan yang modusnya tiap haru berubah dan makin canggih. Kondisi ini diperburuk oleh infrastruktur yang belum memadai: koneksi internet yang lemah sehingga dan daya beli kuota yang rendah.
Meski kita semua sudah terhubung dengan teman, keluarga, kenalan, kolega dan warga seluruh dunia kapan saja dan di mana saja banyak orang masih merasa kesepian dan terasing.
Ada beberapa alasan, salah satunya interaksi atau komunikasi di internet sering kali terasa kurang mendalam, tidak sekuat komunikasi yang dilakukan secara langsung dengan bertatap muka dan berjabat tangan.
Apalagi jika ekspektasi kita terhadap seseorang terlalu tinggi dan faktanya sebaliknya, hal ini hanya akan menambah keterasingan. Misalnya ketika pesan di Whatsapp hanya dibaca tidak dibalas, otomatis kita merasa diabaikan atau disepelekan. Pasang foto profile yang telah diedit memakai filter berlapis-lapis padahal kenyataanya tak secakep fotonya.
Pernah mengalami juga kan?
Keterasingan itu bisa diperparah dengan adanya algoritma yang cenderung mensuplai informasi hanya yang sesuai dengan minat kita. Hal ini memicu adanya filter buble yang membatasi diri kita dari pandangan, opini yang berbeda atau berseberangan. Kita jadinya seperti katak dalam tempurung. Celakanya banyak yang belum menyadarinya sehinggg selalu menganggap dirinya yang paling benar dan tahu segalanya.
Tekanan untuk selalu terhubung dan mengikuti tren di media sosial juga dapat memicu kecemasan. Perasaan tidak nyaman itu juga akan memicu rasa keterasingan pada diri seseorang.
Dunia digital adalah dunia image atau citra. Semua konten, baik video maupun foto yang kita posting harus tampak sempurna, karena akan dibandingkan dengan sosok lain. Nyaris semua pengguna sosmed, akan berlomba-lomba tampil terbaik untuk memenangkan perhatian netizen. Selalu membanding-bandingkan ini juga bisa memicu keterasingan.
Memang, literasi digital yang rendah bisa berkontribusi pada rasa terasing dan kesepian. Literasi digital mencakup kemampuan untuk menggunakan teknologi secara efektif dan kritis, memahami dampak sosial dari teknologi, dan mengelola identitas dan hubungan online dengan bijak.
Kurangnya literasi digital dapat menyebabkan penggunaan teknologi yang tidak sehat atau tidak produktif, memperburuk perasaan kesepian dan keterasingan.
Kita memang belum merdeka dari banyak hal. Namun, kita harus optimistis. Di HUT kemerdekaan RI ke -79 ini kita masih punya harapan. Ke depan semoga apa yang dikatakan Sukarno, founding father bangsa ini segera terwujud:
Saya katakan bahwa cita-cita kita dengan keadilan sosial adalah satu masyarakat yang adil dan makmur dengan menggunakan alat-alat industri, alat-alat teknologi yang sangat moderen. Asal tidak dikuasai oleh sistem kapitalisme.
Penulis: Karmin


