Kisruh PKB vs PBNU, Geger Geden yang ‘Diharapkan’ Berakhir Gergeran

Date:

Kisruh antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menjadi sorotan publik. Jika tak diselesiakan segara, konflik ini akan meluas dan memperparah situasi dan keharmonisan dua entitas besar Indonesia ini.

Disebut ‘Geger geden’ atau kisruh besar-besaran, karena mencuatnya konflik kepentingan yang melibatkan berbagai pihak.

Tak menutup kemungkinan bakal ada pihak yang menunggangi berbuntut pecah kongsi, dari dua lembaga yang sebenarnya masih satu rahim ini.

Namun, di balik ketegangan yang terjadi, ada harapan bahwa situasi ini bisa berakhir dengan “ger-geran,” atau tertawa bersama.

Istilah ini mencerminkan optimisme bahwa meskipun ada konflik yang serius, masih ada ruang untuk penyelesaian damai yang diakhiri dengan keharmonisan.

Kisruh ini, yang pada awalnya tampak sulit dipecahkan, bisa jadi akan menghasilkan momen keakraban yang memperkuat kembali hubungan kedua belah pihak.

Apapun hasil akhirnya, publik berharap agar para pemimpin PKB dan PBNU dapat menemukan titik temu dan menyelesaikan perbedaan dengan cara yang mengedepankan persaudaraan dan kebersamaan, sehingga peristiwa “geger geden” ini dapat berakhir dengan “ger-geran” yang menghangatkan kembali suasana.

Sikap Optimis KH Ma’ruf Amin
Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin menunjukkan sikap optimis di tengah memanasnya konflik antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Meskipun pertempuran kata-kata antara kedua kubu belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Kiai Ma’ruf yakin bahwa perseteruan ini pada akhirnya akan menemukan jalan damai.

“Sudah biasa, awalnya gegeran, akhirnya ger-geran,” ujar Kiai Ma’ruf usai upacara HUT Kemerdekaan ke-79 RI di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (17/8/2024).

Sebagai mantan Rais Aam PBNU, Kiai Ma’ruf mengungkapkan keinginannya untuk menjadi juru damai dalam konflik yang melibatkan PBNU dan PKB ini.

Dengan pengalamannya yang luas di kedua organisasi tersebut, Kiai Ma’ruf berharap bahwa konflik ini bisa diselesaikan dengan baik, dan kedua pihak dapat kembali pada persatuan dan keakraban yang selama ini menjadi ciri khas hubungan mereka.

KH Said Agil: Kritik Itu Penting, Asal Berniat Baik
Persoalan kritik mengkritik, Mantan Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, angkat bicara mengenai dinamika yang belakangan terjadi antara PKB dan PBNU yang menjadi sorotan publik.

Ia menegaskan bahwa evaluasi dan kritik adalah hal yang wajar dan bahkan diperlukan, asalkan disampaikan dengan niat yang baik.

“Mengevaluasi silakan, mengkritik juga silakan. Kritik itu memang diperlukan, karena tidak ada yang sempurna. Yang penting niatnya baik,” kata Said Aqil saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin malam (19/8/2024).

Said Aqil juga menambahkan bahwa setiap orang, termasuk dirinya, berhak memberikan masukan kepada PKB maupun tokoh-tokohnya. Ia menekankan pentingnya niat yang baik dalam setiap kritik yang disampaikan.

“Siapa pun boleh mengkritik PKB atau Pak Muhaimin secara pribadi, atau bahkan Said Aqil sekalipun. Asalkan niatnya baik,” ujarnya.

Diketahui, konflik antara PBNU dan PKB hingga saat ini masih belum menemukan titik terang. PBNU menilai PKB telah menjauh dari karakter asli NU, sementara di sisi lain, PKB menuduh Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), telah membawa NU melenceng dari prinsip dasar khitah NU 1926 sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.

PBNU Panggil Cak Imin
PBNU secara resmi telah melayangkan undangan kepada Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), terkait kisruh yang terjadi antara PKB dan PBNU.

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), mengungkapkan bahwa undangan tersebut telah dikirimkan pada Senin, dan Cak Imin diminta hadir di ruang rapat Lantai 5 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta, pada Rabu (21/8/2024) pukul 12.30 WIB.

“Kita lihat, apakah beliau bersedia hadir atau tidak,” ujar Gus Yahya.

Penyelesaian dengan Ciri Khas NU
Penyelesaian konflik antara PBNU dan PKB seharusnya menggunakan pendekatan khas Nahdlatul Ulama yang memanfaatkan senyum dan tawa untuk meredakan ketegangan.

Ciri khas ini tidak hanya menunjukkan kemampuan untuk menghadapi perbedaan pendapat dengan sikap positif, tetapi juga mencerminkan komitmen NU terhadap harmoni dan kedamaian dalam menyelesaikan perselisihan.

Dengan pendekatan ini, kedua belah pihak diharapkan dapat menemukan titik temu yang memuaskan tanpa perlu memperburuk situasi.

Proses penyelesaian konflik dengan cara ini memberikan kesempatan bagi kedua pihak untuk berdialog secara terbuka dan jujur, sambil mempertahankan suasana yang ramah dan penuh rasa hormat.

Penggunaan humor dan senyum sebagai alat penyelesaian konflik memungkinkan terciptanya komunikasi yang lebih efektif dan mengurangi ketegangan, sehingga memungkinkan pencapaian solusi yang konstruktif dan saling menguntungkan.

Penulis: Purba Handayaningrat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...