Pantai selatan Jawa dikenal dengan ombaknya yang ganas. Beda dengan pantai utara yang cenderung lebih kalem, Laut Kidul menyimpan bahaya tak terduga.
Perlu dicatat, sebagian pantai di pesisir selatan Jawa berimpitan dengan laut dalam. Ini berbeda dengan lazimnya pantai-pantai kepulauan di Indonesia yang cenderung dangkal.
Namun begitu pantai selatan juga menyimpan pesona luar biasa. Sepanjang pesisir, terdapat tempat wisata yang antara satu dengan lainnya memiliki kekhasan masing-masing.
Salah satu tempat wisata yang sepertinya sulit dicari tandingannya adalah Bukit Hud, Karangbolong, Kebumen, Jawa Tengah. Sebuah bukit karang yang menjulang tinggi, persis di bibir Samudra Hindia.
Nun jauh di selatan sana, adalah benua lain, Australia. Boleh dibilang, Bukit Hud menyatukan hal yang mustahil. Bukit-bukit beradu dengan samudra.
Darat dan lautan adalah dimensi yang berbeda. Keindahan dan tantangannya jelas berbeda. Tapi di Bukit Hud, Karangbolong, Kebumen, keduanya dipertemukan.
Pulau Jawa di satu sisi, dengan Samudera Hindia di sisi lainnya dipertemukan dari ketinggian Bukit Hud yang memang berada di perbatasan kedua dimensi ini.
Keunikan Bukit Hud

Tak jauh dari Bukit Hud, ada Gunung Purba. Dan, Karangbolong, merupakan wilayah yang kini telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong.
Bukit Hud menyajikan lansekap yang unik dan barangkali menjadi satu di antara sedikit objek wisata yang menggabungkan dua pemandangan yang kontras. Puncak perbukitan Pulau Jawa yang berlomba menyentuh awan, dipadu padan dengan luasnya samudera.
Dari bukit ini, wisatawan dapat melihat luasnya Samudera Hindia tanpa penghalang. Angin yang bertiup dari tengah samudera menyegarkan tubuh.
Apalagi, jika dinikmati dengan kelapa muda sembari menikmati birunya samudra dan ombak-mbak yang berkejaran. Rasa-rasanya sensansinya sulit diperoleh di tempat lain.
Beberapa waktu ini, Bukit Hud menjadi destinasi yang ramai didatangi pelancong. Mereka tertantang berfoto di ketinggian gardu pandang di tebing karang yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.
Pengelola Bukit Hud, Anasir mengatakan peak season atau puncak kunjungan secara rutin terjadi tiap akhir pekan. Pada hari-hari biasa, angka kunjungan di bawah 100 orang.
Adapun pada akhir pekan, kunjungan ke destinasi wisata unik batas Pulau Jawa dengan Samudera Hindia ini bisa meningkat tiga hingga lima kali lipat. Pun pada libur panjang.
“Dibandingkan dengan hari-hari biasa memang ada kenaikan yang drastis pengunjung kalau saat libur,” ucapnya, beberapa waktu lalu.
Fasilitas Wisata dan Harga Tiket

Selain akhir pekan, kata dia, kunjungan juga akan naik jika libur panjang. Pengunjung Bukit Hud, kebanyakan remaja dan pelajar.
Meski semakin populer, harga tiket masuk ke Bukit Hud sangat murah, yakni Rp 4.000 per orang ditambah Rp 2.000 untuk ongkos parkir sepeda motor dan Rp 4.000 untuk mobil. Di area Bukit Hud, pengunjung bisa memilih fasilitas yang hendak dinikmati.
Di Bukit Hud, pengunjung juga menemukan satu wahana yang disebut sebagai Gerbang Cinta. Beda dengan spot kupu-kupu yang mengkominasikan perbukitan dengan lautan, Gerbang Cinta berlatar alam pedesaan.
Anasir menerangkan, Bukit Hud juga memiliki camping ground atau perkemahan yang biasa dimanfaatkan turis untuk berakhir pekan. Pengunjung bisa membawa tenda sendiri mapun menyewa dari pengelola.
Terbaru, di Bukit Hud wisatawan juga bisa menginap di cottage-cottage yang sensasional. Cottage ini menghadap langsung ke lepas samudra.
Namun, idd.id belum memperoleh tarif menginap di cottage tersebut.
Gunung Api Purba Menganti
Berwisata di Bukit Hud juga bisa menjadi sarana edukasi. Berada di Karangbolong, terdapat gunung api purba yang merupakan bagian dari Geopark Karangsambung-Karangbolong.
Di tempat ini tersimpan risalah pembentukan pulau Jawa lewat proses geologi ratusan juta tahun lampau. Karangbolong, adalah destinasi wisata alam yang sangat menunjang dikembangkan menjadi wisata minat khusus atau geologi.
Ahli Geologi Universitas Jenderal Soedirman, Fadlin mengatakan Dome Karangbolong, Kebumen banyak dijumpai batuan gunung api purba yang masuk dalam Formasi Gabon (Tomg) dan dike Andesite (Tma). Beberapa di antaranya tak diketahui umur dan muasal kantong magmanya.
Batuan gunungapi Lava basalt Menganti merupakan batuan hasil erupsi gunung api purba bawah laut yang diduga berumur Oligosen-Miosen atau sekitar berumur 35-25 juta tahun.
Keberadaan gunung purba di wilayah cincin api ini diyakini sebagai cikal bakal atau permulaan aktivitas gunung api di selatan Pulau Jawa yang kemudian tertutup oleh batuan karbonat berupa batu gamping.
Lantaran lokasinya yang berada di pantai, beberapa bagian gunung api purba di selatan Kebumen ini terancam punah oleh gempuran ombak pantai selatan. Adapun gunung api purba yang berada di daratan dikhawatirkan rusak lantaran aktivitas manusia.
Sebab itu, Fadlin mengusulkan agar dibangun geowisata sebagai kegiatan pelestarian berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk mendorong pemahaman akan lingkungan hidup dan budaya, apresiasi dan konservasi serta kearifan lokal.
Potensi wisata ini mesti dipertimbangkan menilik keunikan dan langkanya batuan Gunung Api Purba Menganti. Yaitu berupa kekar kolom, kekar berlembar hingga berbentuk lava bantal.


