Nasib Permainan Tradisional di Era Gadget yang Mulai Ditinggalkan

Date:

Permainan tradisional merupakan warisan budaya yang diturunkan kepada masyarakat secara turun-temurun dan bersifat kearifan lokal.

Namun, keberadaannya kini terancam punah. Anak-anak dan remaja sebagai ‘pelaku’ utama permainan ini banyak yang memilih memainkan game online.

Jika menengok ke belakang, bermain permainan tradisional menjadi kegiatan seru yang mengasyikkan bagi generasi kelahiran 1900-an dan 2000-an. Sepulang sekolah, memainkan permainan tradisional sudah menjadi aktivitas rutin sehari-hari mereka.

Tak perlu bertanya kumpul di mana, mereka sudah tahu meski tidak ada WhatsApp atau aplikasi pesan singkat sejenisnya.

“Kalau waktu zaman abah kecil (sekitar tahun 1979), permainan tradisional memang sudah rutin ya (dimainkan). Kadang-kadang sebelum berangkat ngaji itu dimanfaatkan waktunya untuk permainan tradisional seperti egrang, bakiak, ucing sumput, atau galah asin,” kenang Deden Supandi, pria yang kini berusia 63 tahun.

Permainan tradisional tak perlu mengeluarkan biaya mahal-mahal. Permainan yang bersifat kearifan lokal ini bisa saja dimainkan dengan bahan seadanya yang memanfaatkan alam. Meski sederhana, tapi permainan ini mengandung banyak nilai yang bermakna.

Permainan tradisional bisa melatih kerja sama, kekompakan, keseimbangan, ketangkasan, hingga kejujuran. Terpenting adalah permainan ini mengajarkan bagaimana cara bersosialisasi dengan orang lain, sesuatu yang jarang ditemukan dalam game online.

Di samping fungsinya sebagai edukasi, permainan tradisional juga menjadi sarana hiburan bagi anak-anak untuk mengisi waktu senggang. Dalam beberapa momen tertentu, kepiawaian bermain permainan tradisional bisa dilombakan untuk melihat siapa juaranya.

Ragam Permainan Tradisional
Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara yang punya keragaman budaya dan bahasa. Negeri Seribu Pulau ini juga punya banyak permainan lokal yang khas di setiap daerahnya.

Misalnya, di Jawa ada cublak-cublak suweng dan gatrik. Kalimantan punya telok penyok dan tempong. Di Sumatera ada pecah piring dan kutau. Kemudian maggasing dan marraga du di Sulawesi serta inkaropianik dan nysa asya/tok asya di Papua.

Ada kalanya nama permainan tradisional di daerah tertentu berbeda, tapi cara bermain dan peralatannya sama. Sebagai contoh, di Yogyakarta namanya gobak sodor, tapi ketika dimainkan oleh orang Sunda namanya menjadi galah asin. Aturan bermain gobak sodor dan galah asin tidak jauh beda.

Penyebab Permainan Tradisional Mulai Ditinggalkan
Banyak faktor yang membuat permainan tradisional terancam punah. Mengutip penelitian Nur dan Asdana (2020) dalam Phinisi Integration Review, setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan permainan tradisional mulai ditinggalkan.

Pertama, tidak adanya sarana dan tempat bermain. Lahan yang dulunya menjadi tempat bermain kini berubah menjadi pusat perumahan, belanjaan, dan gedung perkantoran.

Kedua, kehadiran game online menggeser permainan tradisional. Permainan modern ini dinilai lebih menarik karena mengikuti perkembangan zaman. Di samping itu, pilihan game online lebih bervariasi dibanding permainan tradisional.

Ketiga, tidak ada pewarisan budaya yang dilakukan oleh orang tua. Pada akhirnya, anak-anaknya tidak mengenal permainan tradisional, akhirnya terpengaruh dengan perkembangan zaman.

Cara Melestarikan Permainan Tradisional
Permainan tradisional sebagai identitas budaya bangsa harus dilestarikan. Bagaimana cara melestarikan warisan leluhur ini? Berikut di antaranya, dirangkum dari berbagai sumber.

1. Mempromosikan permainan tradisional sebagai alternatif hiburan yang menyenangkan untuk anak-anak
2. Melibatkan anak-anak dalam acara budaya
3. Mengenalkan permainan tradisional kepada generasi muda, baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat
4. Mengadakan perlombaan permainan tradisional yang meriah dan mengasyikkan
5. Membangun komunitas pencinta permainan tradisional sebagai wadah yang memiliki visi sama untuk melestarikan dan mengenalkan permainan tradisional
6. Pemerintah memfasilitasi sarana dan prasarana permainan tradisional..

Penulis: Chairil Mustami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...