Menuju Pilkada Jawa Timur 2024, nama Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak sering disebut sebagai pasangan yang belum memiliki lawan sebanding. Kekuatan politik dan popularitas keduanya membuat pasangan ini tak ada lawan.
Namun, PDIP dikabarkan sedang mempersiapkan lawan tangguh yang dinilai mampu memberikan perlawanan serius kepada Khofifah dan Emil. Nama yang mencuat sebagai penantang utama adalah Tri Rismaharini, mantan Wali Kota Surabaya yang saat ini menjabat sebagai Menteri Sosial.
Pencalonan Risma dianggap sebagai langkah strategis untuk menyaingi Khofifah, mengingat keduanya memiliki latar belakang yang kuat di Jawa Timur.
Menariknya, keduanya adalah sedang dan pernah menjabat Menteri Sosial (Mensos). Ini berpotensi menjadi “perang” antara dua tokoh dengan pengalaman yang sama di tingkat nasional, namun dengan basis massa yang berbeda di Jawa Timur.
Sebagai pengingat, Khofifah Indar Parawansa menduduki jabatan sebagai Menteri Sosial, dari Oktober 2014 hingga Januari 2018. Sedangkan Tri Rismaharini mulai menjabat sebagai Menteri Sosial pada Desember 2020 dan masih menjabat hingga saat ini.
Pertarungan antara dua mensos ini diperkirakan akan menjadi salah satu kontestasi politik paling sengit di Pilkada 2024, mengingat keduanya memiliki rekam jejak yang kuat dan dukungan yang luas di kalangan masyarakat.
Tri Rismaharini, Potensi dan Tantangan di Kancah Politik Jawa Timur
Tri Rismaharini atau yang akrab disapa Risma, adalah sosok yang tak asing lagi di dunia politik Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Kariernya yang cemerlang sebagai Wali Kota Surabaya selama dua periode menjadikannya figur yang sangat dikenal dan disegani.
Risma berhasil membawa Surabaya ke tingkat internasional, terutama dalam hal tata kota dan lingkungan. Kini, sebagai Menteri Sosial, Risma melanjutkan kiprahnya di panggung nasional dengan gaya kepemimpinan yang tetap khas, tegas, lugas, dan dekat dengan rakyat.
Prestasi yang Membanggakan
Selama memimpin Surabaya, Risma menunjukkan kemampuannya dalam mengelola kota dengan visi yang jelas dan kebijakan yang efektif. Ia berhasil mengubah Surabaya dari kota yang penuh masalah lingkungan menjadi salah satu kota terbersih di Asia Tenggara.
Prestasi ini tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di tingkat internasional. Penghargaan dari United Nations Environment Programme (UNEP) menjadi bukti nyata bahwa kebijakan Risma berhasil membawa perubahan signifikan.
Sebagai Menteri Sosial, Risma juga mendapat sorotan positif, terutama dalam upayanya menangani bantuan sosial selama pandemi COVID-19. Ia turun langsung ke lapangan, memastikan bantuan tepat sasaran, dan tidak segan menegur pejabat yang dinilai lalai.
Gaya kepemimpinan ini membuatnya populer di kalangan masyarakat, meskipun sering kali mengundang kontroversi di kalangan politisi dan birokrat.
Tantangan di Depan Mata
Meski memiliki rekam jejak yang impresif, Risma tidak lepas dari tantangan, terutama jika ia memutuskan untuk maju dalam Pilkada Jawa Timur 2024.
Tantangan utamanya datang dari Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak, pasangan yang dianggap sangat kuat dan sulit ditandingi. Popularitas Khofifah sebagai gubernur petahana, ditambah dengan pengalaman Emil sebagai wakil gubernur, membuat mereka menjadi lawan yang berat.
Selain itu, meskipun Risma memiliki basis massa yang kuat di Surabaya, tantangan terbesar adalah bagaimana memperluas dukungannya ke seluruh Jawa Timur.
Tidak semua daerah di Jawa Timur memiliki keterikatan emosional dengan Risma sebagaimana yang dirasakan oleh warga Surabaya. Oleh karena itu, strategi kampanye yang tepat, termasuk membangun koalisi yang solid dan menyampaikan visi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Jawa Timur, akan menjadi kunci kesuksesan Risma.
Gaya Kepemimpinan yang Mengundang Perdebatan
Gaya kepemimpinan Risma yang tegas dan emosional sering kali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, hal ini membuatnya dekat dengan masyarakat, tetapi di sisi lain, sering kali menimbulkan gesekan dengan pejabat atau politisi lain.
Kritik terhadap Risma biasanya berpusat pada caranya berkomunikasi yang dianggap terlalu frontal dan tidak diplomatis. Namun, bagi pendukungnya, inilah yang membuat Risma berbeda dari politisi lainnya. ia dianggap sebagai pemimpin yang benar-benar peduli dan berani bertindak.
Potensi di Pilkada Jawa Timur
Jika Risma benar-benar maju dalam Pilkada Jawa Timur, pertarungan antara dirinya dan Khofifah akan menjadi salah satu kontestasi politik paling menarik.
Dua mantan Menteri Sosial dengan rekam jejak yang kuat akan bersaing memperebutkan kursi gubernur. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing, Khofifah dengan pengalamannya sebagai gubernur dan kedekatannya dengan kalangan Nahdlatul Ulama (NU), sementara Risma dengan prestasinya di Surabaya dan popularitasnya sebagai pemimpin yang tegas dan pekerja keras.
Dalam skenario ini, strategi kampanye, dukungan partai politik, dan kemampuan untuk menarik simpati pemilih di luar basis tradisional mereka akan menjadi faktor penentu. Risma memiliki potensi besar untuk menjadi penantang serius, tetapi ia juga harus siap menghadapi tantangan berat dalam perjalanannya menuju Pilkada Jawa Timur.
Kesimpulannya, Tri Rismaharini adalah sosok yang tak bisa dipandang sebelah mata di kancah politik Jawa Timur. Dengan rekam jejak yang solid dan gaya kepemimpinan yang unik, ia memiliki potensi untuk menjadi pemain utama dalam Pilkada mendatang.
Namun, ia juga harus mengatasi berbagai tantangan untuk mewujudkan ambisinya menjadi gubernur Jawa Timur.
Penulis: Purba Handayaningrat


