Anies Baswedan merilis pernyataan perdanan usai gagal maju dalam kontestasi Pilkada 2024. Anies mengutarakan penyesalannya lantaran tak jadi maju Pilkada dan rencana ke depan.
Pernyataan itu disiarkan melalui YouTube Anies Baswedan. Sejak diunggah pada 30 Agustus 2024, video berjudul ‘Catatan Anies Pasca Pilpres dan Pendaftaran Pilkada 2024’ telah ditonton sebanyak 421 ribu kali dan terus bertambah.
Ada yang menarik dalam pernyataan Anies. Yakni lukisan Pangeran Diponegoro dan tongkat yang menjadi latar belakang pengambilan video ini.
Benda mirip tongkat itu adalah Tombak Cakra Kotagede yang diterima Anies Baswedan saat ziarah ke makam Raja-raja Mataram Islam pada 2023. Bentuk tombak cakra tersebut mengingatkan publik pada tongkat Tjakra atau Tongkat Kanjeng Kiai Cokro Pangeran Diponegoro.
Dari desain yang dilihat kejauhan, tombak cakra memang sekilas mirip dengan tongkat Pangeran Diponegoro yang pernah dipegang Anies.
Pesan Tersirat

Penataan ‘backdrop’ lukisan Pangeran Diponegoro dan tombak Cokro Koatege yang mirip dengan tongkat Kanjeng Kiai Cokro Pangeran Diponegoro tentu membawa pesan khusus. Meski, Anies menyatakan bahwa lukisan sudah lama berada di tempat tersebut.
Benda tersebut memang mati. Tapi menjadi sangat ‘berbicara’ ketika ditampilkan dalam sebuah pernyataan politik. Terlebih, benda mirip pusaka Pangeran Diponegoro, Tongkat Kanjeng Kiai Cokro.
Anies punya cerita dengan benda pusaka itu. Tongkat pusaka Pangeran Diponegoro itu berbentuk setengah lingkaran atau Cakra, yang disimpan selama 183 tahun oleh keluarga Baud di Belanda dan telah dikembalikan ke Pemerintah Indonesia pada 2015.
Saat itu, Anies menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Artinya, Anies merupakan orang Indonesia pertama yang menyentuh pusaka Pangeran Diponegoro itu.
Salah satunya menyeruak kepercayaan dari kalangan masyarakat Jawa bahwa orang yang memegang Cakra Pangeran Diponegoro akan jadi pemimpin. Hal tersebut sempat diamini anggota tim delapan Koalisi Perubahan Sudirman Said.
“Bahwa ada orang yang percaya, ya kita amini saja,” kata Sudirman Said, di Sekretariat Koalisi Perubahan.
Ratu Adil

Mengutip berbagai sumber, tongkat ini memiliki simbol cakra sepanjang 153 sentimeter yang terletak di ujung tongkatnya. Tongkat ini diperoleh Pangeran Diponegoro dari hasil dari warga selama berziarah di selatan Jawa, termasuk Yogyakarta, pada tahun 1815.
Konon tongkat ini berasal dari Kesultanan Demak Bintoro. Pada masa geger, tongkat pusaka jatuh ke orang biasa.
Belakangan, tongkat ini kemudian diserahkan kepada Pangeran Diponegoro, kira-kira 10 tahun sebelum pecah Perang Jawa.
Tongkat Kanjeng Kiai Cokro menyimbolkan Ratu Adil. Pemegang tongkat ini akan membawa keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat Jawa kala itu.
Ratu Adil (kadang disamakan dengan Satria Piningit) merupakan mitologi dalam tulisan-tulisan kuno Raja Kediri Prabu Jayabaya yang pada abad -11 meramalkan kelak muncul sosok sosok pemimpin Nusantara untuk mengakhiri zaman “Kalabendu” (sukar/sengsara).
Kedatangannya akan menjadi penyelamat, pembawa keadilan, dan kesejahteraan bagi masyarakat. Ia dijuluki “Herucokro” yakni orang yang tidak mengutamakan kekayaan dan materi.
Di dalam kitab Musarar Jayabaya disebutkan bahwa kedatangan Ratu Adil ditandai dengan kemelut sosial, malapetaka alam, serta jatuhnya raja besar yang ditakuti. Serat Jayabaya juga sering disebut ramalan Jayabaya.
Tongkat ini di kemudian hari selalu dibawa oleh sang Pangeran setiap berziarah ke tempat suci untuk berdoa. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap, salah satu panglimanya, yakni Pangeran Dipati Notoprojo, cucu Nyi Ageng Serang, memegang tongkat ini dan oleh Pangeran Dipati Notoprojo diberikan sebagai hadiah kepada Gubernur Jenderal J.C Baud pada tahun 1834 untuk merebut hati pemerintah Hindia Belanda.
Tongkat ini kemudian disimpan oleh salah satu keluarga keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jean Chretien Baud. J.C Baud adalah gubernur jenderal Hindia Belanda ke-44, yang berkuasa pada tahun 1834-1836. Tongkat ini baru dikembalikan lagi ke Indonesia pada 2015.
Secara tersirat, tak berlebihan apabila mengatakan Anies Baswedan mengirim pesan kepada khalayak tentang Ratu Adil. Ratu Adil yang akan berjuang melawan kelaliman dan demi kesejahteraan rakyat.


