Jatuh cinta pada PM (private message) pertama itu menyenangkan, makin membahagiakan lagi ketika orang yang kita suka membalasnya. Semua tampak menjadi tidak penting selain bersama dia. Apapun akan dilakukan demi membahagiakan orang yang dicintainya. Mirip-mirip cerita sinetron atau drakor yang viral.
“Kelemahan” itulah yang dimanfaatkan para pencoleng, penjahat di dunia online mengelabui korban-korbannya. Love scamming, penipuan berkedok cinta. Mereka, para pencoleng itu gentayangan di sosial media, di aplikasi-aplikasi kencan, aplikasi chatting dengan identitas palsu. Tujuannya tentu saja menyedot uang sebanyak-banyaknya dari “calon pacar” atau target.
Modus atau strategi mereka melancarkan aksinya sebenarnya cukup familiar. Mereka sangat selektif memiliih korban-korbannya, terutama perempuan. Orang-orang yang tampak rentan secara emosional dijadikan target utamanya. Biasanya para perempuan yang posting status perkawinan, misalnya baru saja bercerai, ditinggal mati pasangan atau memang sengaja ingin mencari pasangan serius.
Para pencoleng ini sengaja memakai foto profil yang menarik dan meyakinkan. Dengan foto yang diambil dari internet atau membuat foto sendiri memakai aplikasi yang berbasis AI. Untuk lebih meyakinkan, foto dibuat agar tampak cakep, berkesan sukses dan punya sex appeal tinggi.
Mulailah dia melancarkan jurus-jurusnya. Dia akan menghubungi korban dengan pesan-pesan yang manis dan penuh perhatian. Mereka antusias dan tampak memahami perasaan korban. Komunikasinya cukup agresif, langsung membahas soal hubungan yang serius, termasuk rencana-rencana masa depan.
Dia makin intens mengirimkan foto, pesan romantis untuk memperkuat hubungan emosional. Uniknya, mereka pasti menolak untuk melakukan video call dengan 2024 alasan. Sayangnya ketika jatuh cinta, kadang orang kehilangan rasionalitas. Apapun yang dia katakan pasti akan dipercaya.
Jurus Maut Dilancarkan
Saat hubungan terasa sudah sedemikian dekatnya itulah, jurus maut dilancarkan. Pencoleng mulai menciptakan skenario masalah keuangan. Dia akan mengaku mengalami kecelakaan, kehilangan pekerjaan, masalah keluarga yang mendesak, atau situasi lainnya yang membutuhkan uang secepatnya.
Biasanya dengan jumlah kecil pada awalnya, tapi bisa meningkat seiring waktu. Mereka akan memberikan alasan yang meyakinkan, seperti biaya pengobatan, tiket perjalanan, atau investasi bisnis.
Jika korban merespon dengan memberikan sejumlah uang, pelaku akan terus meminta lebih banyak dengan berbagai alasan. Mereka mungkin juga meminta korban untuk membayar dengan kartu kredit, pulsa, transfer bank, atau metode pembayaran lain yang sulit dilacak.
Usai korban memberikan uang atau mulai curiga, pelaku biasanya menghilang. Dia memblokir semua bentuk komunikasi di manapun dan menghapus profil dan akun-akun sosial medianya sehingga sulit dilacak.
Saat itulah korban baru menyadari, dia baru saja ditipu orang asing. Hancurlah hati dan isi dompetnya. Menangislah di pojokan.
Gadis 13 Tahun Jadi Korban
Salah satu korban love scamming berada di Bandung, seorang siswi sekolah menengah pertama (SMP) berusia 13 tahun. Ia berkenalan dengan seorang pria dan mereka “jatuh cinta. Pria yang menjadi pacarnya meminta Siswi mengirimkan foto seksinya. Siswi menuruti saja perintahnya.
Rupanya foto itu dijadikan alat untuk memeras siswi. Ia mengancam akan menyebarkan fotonya jika tak mentransfer sejumlah uang. Siswi akhirnya mengirimkan yang sebanyak Rp 600 ribu ke rekening penipu. Tentu saja siswi SMP malang itu bukan satu-satunya korban.
Seperti disampaikan oleh Polri beberapa waktu lalu, Polri membongkar kasus penipuan dengan modus love scam melalui aplikasi kencan online. Sebanyak 21 orang ditangkap. Tiap bulan komplotan ini dapat meraup keuntungan kurang lebih Rp 40-50 miliar.
Jumlah yang fantastis.
Itu baru satu komplotan. Jumlah yang telah menjadi korban love scam pastinya sangat jauh lebih banyak. Karena mereka yang telah menjadi korban enggan melaporkan kejahatan ini ke kantor polisi. Mereka biasanya malu atau karena tidak nyaman. Atau bisa jadi para korban ini pesimis kasusnya akan ditanggapi secara serius.
Penipuan dengan modus love scam ini tampaknya makin berkembang. Dengan makin banyaknya pengguna internet di Indonesia, makin besar juga peluang terjadinya love scam.
Pakai Modus Terbaru
Selain itu para penipu ini akan memanfaatkan modus terbaru dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk melancarkam aksinya.
Para korban love scam biasanya tidak mengikuti perkembangan teknologi terbaru. Netizen kurang kritis. Sayangnya kondisi ini kurang disadari oleh mereka sendiri. Mereka perlu memahami pentingnya soal literasi digital, keamanan data pribadi dan lainnya.
Namun sebenarnya kita bisa mengenali tanda-tandanya untuk mencegah penipuan online berkedok asmara. Salah satunya adalah tetap ekstra hati-hati ketika seseorang yang baru saja dikenal via online menyatakan cinta atau membahas masa depan bersama.
Selanjutnya jangan mudah terbawa perasaan alias baper. Biasanya mereka akan menceritakan drama kehidupannya yang sedih, sedang dalam kondisi darurat. Teror-teror semacam ini jika tidak kuat mental, kita akan mudah terbawa perasaan, jatuh iba lalu menstransfer sejumlah uang.
Jangan lupa, investigasi dulu siapa sebenarnya dia. Cek foto dengan aplikasi apakah foto itu dicomot dari internet. Jika foto tersebut muncul di beberapa situs lain dengan nama yang berbeda, ini indikasi bahwa dia bukan orang baik-baik.
Ajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban konsisten. Jika informasi tentang pekerjaan, tempat tinggal, atau latar belakang mereka sering berubah atau tidak masuk akal, ini bisa menjadi tanda bahwa mereka berbohong.
Biasanya kalau bukan penipu akan memiliki jejak online di akun-akun media sosial seperti Linkedin facebook, X, Tiktok dan situs-situs lain yang berhubungan dengan profesinya. Jika tidak ditemukan sama sekali, fix dia adalah penipu.
Jangan Mudah Percaya
Bagi kita, jangan mudah berbagi informasi pribadi terlalu cepat. Hindari memberikan info alamat rumah, nama alumni, nomor telepon, atau rincian keuangan terlalu cepat. Apalagi sampai nomor rekening bank, kartu kredit dan data private lainnya.
Jika memang tidak yakin, diskusikan apa yang sedang dihadapi ini dengan teman, keluarga atau orang yang punya kompetensi di bidang itu. Mereka mungkin bisa memberikan perspektif yang lebih rasional dan objektif.
Dengan memahami dan menerapkan langkah-langkah ini, kita dapat melindungi diri dari menjadi korban love scam. Kebanyakan profil di internet tidak seperti yang mereka klaim, dan kehati-hatian adalah kunci untuk menghindari penipuan yang merugikan baik secara emosional maupun finansial.
Jika sudah terlanjur jadi korban love scam, segera lapor ke pihak berwenang atau situs (aplikasi) tempat pertama kali berinteraksi dengan pelaku.
Love scam adalah bentuk manipulasi emosional yang sangat berbahaya karena memanfaatkan kebutuhan manusia untuk dicintai. Dengan memahami cara kerjanya, kita bisa lebih waspada dan melindungi diri dari penipuan semacam ini.
Agar tak menjadi korban love scam, ada baiknya kita selalu skeptis dan berprasangka buruk bahwa semua orang di online itu jahat sampai terbukti sebaliknya. Jangan sampai karena cinta berujung petaka.
Love scam hanya salah satu modus penipuan online. Masih ada beragam modus yang sering beredar. Beberapa diantaranya adalah give away palsu, bagi-bagi uang, phising, lowongan kerja, undian palsu dan lainnya. Jadi hati-hati saja.


