Ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, meninggal dunia, Kamis (5/9.2024), sekitar pukul 03.50 WIB, di Rumah Sakit Mayapada, Kuningan, Jakarta.
Jenazah selanjutnya dibawa ke rumah duka di Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Selatan. Rencananya, jenazah akan dimakamkan di komplek pemakaman Menteng Pulo. Faisal Basri wafat di usia 65 tahun.
Almarhum sebelumnya sempat dilarikan ke Rumah Sakit Mayapada sejak Senin (2/9/2024) karena mengalami serangan jantung.
Sosok Faisal Basri yang merupakan pengamat kebijakan ekonomi senior ini dikenal dengan suaranya yang lantang dan vokal dalam mengkritik kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah.
Misalnya saja soal kebijakan hilirisasi nikel yang digembar-gemborkan membawa keuntungan berupa penyerapan tenaga kerja, namun pada kenyataanya tidak demikian. Karena smelter merupakan industri yang merupakan industri padat modal dan teknologi, bukan padat karya.
Penciptaan lapangan kerja justru muncul ketika smelter memiliki industri-industri turunan, namun lagi-lagi produk smelter malah diekspor ke China dan yang menikmati adalah China dan pengusaha-pengusaha di sana.
“Jadi pembualan yang luar biasa,” kata Faisal Basri dalam satu tayangan wawancara.


