Siapa sangka, di kali kecil pedesaan di Banjarnegara, ada jejak peradaban prasejarah. Diduga lukisan batu itu adalah peninggalan dari masa peradaban megalitikum.
Di salah satu tebing Sungai Pundung, Desa Gembongan, Kecamatan Sigaluh, terdapat batu berukuran berdiameter kurang lebih satu meter. Di batu tersebut terdapat ukiran diduga figur ikan, tepatnya udang.
Namun, ada pula yang menyangkanya sebagai gunting. Itu sebab, situs tersebut oleh masyarakat setempat disebut sebagai watu supit urang dan watu gunting.
Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara, Aryadi Dewanto mengungkapkan lukisan batu yang ada di Desa Gembongan memang Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dari zaman megalitikum.
Menurut dia, temuan situs prasejarah ini sangat wajar mengingat lokasinya yang berada di pinggir sungai. Manusia selalu mendekati sumber makanan dan air untuk bertahan hidup.
“Orang menyebutnya Watu Gunting, ada juga yang menyebut Supit Urang. Tapi kalau kita lihat sekilas, mungkin juga itu figur gambar ikan. Sangat wajar karena itu di tepi sungai,” ujar Aryadi, melalui keterangan tertulis, dikutip Kamis (5/9/2024).
Pembelajaran Penting untuk Generasi Muda

Sementara, pada Selasa (3/9/2024), siswa kelas XI 3 SMAN 1 Sigaluh Banjarnegara berjalan keluar sekolah menuju makam Desa Gembongan yang berjarak kurang lebih 800 meter dari sekolah.
Mereka sedang mengikuti pembelajaran sejarah tingkat lanjut di bawah bimbingan guru sejarah mereka Heni Purwono. Tema pembelajaran mereka adalah peradaban kuno dunia.
Heni mengungkapkan pembelajaran di lapangan ini bertujuan mengenalkan siswa secara langsung dengan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang ada di sekitar mereka.
“Pembelajaran ini durasinya cukup panjang, tiga jam pelajaran. Jadi kalau hanya di kelas pasti akan membosankan. Kebetulan di dekat sekolah ada batu yang diduga lukisan pra sejarah, maka mereka saya ajak ke sini,” jelas Heni.
Dengan cara seperti ini, tambah Heni, harapannya siswa juga paham jika di daerahnya terdapat ODCB harus berbuat seperti apa.
“Rata-rata tidak tahu apa yang bisa diperbuat kalau menemukan ODCB, karenanya saya beri sedikit pemahaman mengenai undang-undang Cagar Budaya,” ucap Heni.
Siswa SMAN 1 Galuh, Cahyo Setyo Utomo mengungkapkan belajar di luar ruangan seperti itu sangat menyenangkan.
“Tidak bosan di dalam kelas terus. Kita jadi tahu tentang kebudayaan kuno ternyata ada juga yang di dekat kita,” ujar Cahyo.
Penulis: Heni Purwono


