Beberapa hari belakangan, jagad media sosial ramai oleh perbincangan tingkah laku anak Presiden Joko Widodo. Putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep, yang diduga menerima gratifikasi mengenai fasilitas jet pribadi saat ke Amerika Serikat bersama istrinya Erina Gudono. Di tengah kegaduhan itu, Jokowi berbicara mengenai media sosial dan kondisi media arus utama yang mulai terdesak.
Selain Kaesang Pangarep, menantunya yang juga Wali Kota Medan, Bobby Nasution, turut menjadi sorotan karena menggunakan jet mewah dan beberapa fotonya tersebar di beragam platform.
Yang tak kalah ramai diperbincangkan adalah sebuah akun @fufufafa yang disebut-sebut milik putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. Konten akun itu cukup mengejutkan, dalam beberapa unggahannya dia menghina, mencaci para tokoh, dan juga merendahkan kaum miskin.
Di tengah ramainya percakapan anak dan menantu, Jokowi melontarkan pernyataan mengenai kondisi media arus utama yang kini mulai terdesak dengan media sosial. Menurut dia, media sosial dengan mudahnya menjadikan seseorang atau kelompok bak wartawan meski tanpa adanya redaksi.
“Media konvensional yang beredaksi mulai terdesak, yang dominan adalah media sosial, media online dan semua orang bisa menjadi wartawan, citizen journalism, tanpa ada dewan redaksi,” jelas Jokowi saat membuka MTQ Tingkat Nasional ke-30, di Kota Samarinda, Minggu (8/9/2024), melalui tayangan Youtube kanal Sektretariat Presiden.
Dia meminta masyarakat dapat menyaring berita dan berita bohong yang ada di media sosial.
“Setiap pembaca berita media sosial, harus mampu untuk menjadi redaksi bagi dirinya sendiri, harus cek dan recheck mana yang benar dan mana yang hoaks atau berita bohong,” kata dia.
Jokowi dan Influencer
Jokowi dikenal akrab dengan kalangan influencer. Hal ini terlihat dengan dilibatkannya para influencer ini di beberapa kegiatan dan kebijakan Jokowi. Terakhir di Ibu Kota Nusantara atau IKN, Minggu (28/7/2024), Jokowi memilih mengundang pesohor ketimbang masyarakat adat, akademisi, atau media arus utama yang memiliki segudang pertanyaan kritis untuk mengulitik pembangunan IKN.
Sebut saja pasangan Raffi Ahmad-Nagita Slavina, Atta Halilintar-Aurel Hermansyah, Irwansyah-Zaskia Sungkar, Ananda Omesh-Dian Ayu Lestari, Ferry Maryadi, Gading Marten, dan Poppy Sovia, dan sederet selebritas lainnya yang turut dalam rombongan tersebut.
Sebagai pesohor, pengikut mereka di media sosial bukan kaleng-kaleng, ribuah bahkan puluhan ribu pengikut. Artinya sekali foto ribuan mata tersorot kepada unggahan sang pesohor.
“ah kitamah sunmoriannya di @ikn_id ajaa.. sambil liat2 jembatan baru namanya PulauBalang .. baguuus bgt. enakeun bgt ternyata @ikn_id,” tulus Ferry Maryadi melalui akun @kangferrymaryadi yang memiliki pengikut 1,2 juta akun.
Gading Marten dalam @gadiiing menampilkan empat unggahan terkait kegiatan di IKN bersama Jokowi, mulai dari kedatangan, menunggang motor, peresmian jembatan, hingga makan malam di IKN.
“Proses pembangunan IKN terkejut dan takjub . sehat sehat smua bapak, ibu…,” tulis Gading dalam akun yang memiliki 24,8 juta pengikut ini.
Kedatangan mereka adalah untuk melihat bagaimana kelanjutan pembangunan di IKN menjelang peringatan HUT ke-79 RI di sana. Perayaan tersebut adalah kali pertama digelar di luar Jakarta oleh Presiden.
Dalam laman presidenri.go.id para pesohor ini mengaku takjub dengan pembangunan IKN.
“Tadi sudah diajak jalan-jalan sama Pak Jokowi ke sekitar Istana, masuk ke dalam Istana masyaallah. Ini kalau memang udah jadi keren banget. Ini jadi kebanggaan monumental, sejarah bangsa kita untuk Istana Kepresidenan kita tempat yang memang bagus banget. Kita selalu support pemerintah,” ujar Raffi Ahmad dalam laman tersebut.
Willie Salim dan Meicy Villia mengaku bahwa apa IKN yang mereka saksikan tersebut melebihi ekspektasi keduanya. Willie mengira IKN akan menjadi kota biasa, namun setelah melihat langsung ia yakin IKN akan menjadi kebanggan masyarakat Indonesia di masa mendatang.
“Pas lihat kesini ternyata IKN itu bisa jadi sesuatu yang mungkin 10, 20 tahun lagi kita banggakan kayak Indonesia punya IKN gitu. Masa depannya bagus. Kalau menurut aku kerennya disana sih. Seperti yang Bapak Jokowi bilang green energy, renewable energy, trus banyak kita mau dicampur sama forest hijau-hijauan juga. Keren sih,” kata Willie Salim dan Meicy Villia.
Penggunaan pesohor dalam memoles kebijakan soal IKN bukan kali pertama. Jokowi juga pernah melakukan hal serupa di 25 September 2023. Mereka yang diangkut Jokowi ke IKN di antaranya, Aurelie Moeremans, Baim Wong, Igor Saykoji, Tiara Andini, Ziva Magnolia, Cak Lontong, Chef Arnold, hingga Asri Welas.
Tidak hanya IKN, saat menjajal kereta cepat dan LRT pun Jokowi kerap mengajak para influencer bersamanya.
Staf Khusus Presiden Grace Natalie merespons pertnayaan publik terkait langkah Jokowi mengajak para pesohor ke IKN. Menurutnya, hal tersebut dilakukan sebagai bentuk transparansi publik.
“Terkait kehadiran para influencer di IKN bersama Presiden Jokowi, beberapa hari lalu, saya ingin menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk transparansi ke publik,” kata Grace kepada wartawan, Selasa (30/7/2024).
Namun, Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu justru mempertanyakan sekaligus mengkritik pola Jokowi yang mengajak sederet influencer ke IKN.
“Saya heran kenapa Presiden datang kemarin ke IKN mengajak youtuber dan influencer. Mustinya diajak pers, dong, mereka bisa melihat dengan jernih, sebetulnya dengan segala komprehensif kebijakan IKN untuk diketahui publik tentang ibu kota negara baru,” ujarnya di Ambon, Kamis, (1/8/2024).
Bukan tanpa alasan, Ninik bilang, wartawan dapat melihat IKN dan segala persoalan yang menjadi percakapan publik dengan prinsip-prinsip jurnalistik, kerja-kerja demokratis, dan profesional, ketimbang influencer yang tidak diikat dengan tuntutan akurasi dan objektivitas.
Selebritas sebagai influencer, kendati tidak spesifik sebagai influencer politik, diharapkan dapat mempromosikan tujuan politik dan isu sosial. Sehingga, ketika seseorang sedang berselancar konten sosial media tak berujung yang direkomendasikan secara algoritmis, mereka akan menemukan konten yang diproduksi influencer yang kemudian dapat menavigasi opini para pengikutnya.
Indeks Kebebasan Pers Era Jokowi
Laporan penelitian Reporters Without Border atau Reporters sans frontieres mencatat terjadi penurunan indeks kebebasan pers di Indonesia dari 2023 ke 2024, dengan skors 51.15 dari 54.83. Penurunan ini terjadi di seluruh indikator yang menjadi komponen penelitian, yaitu indikator politik, ekonomi, legislatif, sosial, dan budaya.
Penurunan ini menyebabkan Indonesia menempati posisi 111 dari 180 negara dalam iklim kebebasan pers pada 2024. Sementara di 2023, Indonesia menempati posisi 108.
“Pemilu 2024 merupakan momen krusial bagi kebebasan pers di Indonesia. Meskipun memiliki program reformis, sepuluh tahun masa jabatan Presiden Joko Widodo yang akan berakhir ditandai dengan serangkaian janji-janji yang diingkari terkait kebebasan pers,” tulis laman rsf.org.
Dalam kerangka hukum, wartawan harus menghadapi Undang-Undang ITE yang menjadi ancaman kebebasan pers. Ancaman ini nyata dengan diseretnya tiga wartawan ke penjara karena kerja-kerja jurnalistiknya selama pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Mereka adalah Muhammad Asrul (Palopo), Diananta (Kalimantan Selatan), Mohamad Sadli Saleh (Buton).
Kejahatan dan kekersan terhadap jurnalis tidak hanya terjadi di ruang fisik, tapi juga di ruang digital. Aktor-aktor non-state kerap melakukan kejahatan Ddos dan Doxing untuk mendelegitimasi jurnalis karena kerja jurnalistik. Hingga saat ini, tidak ada aturan hukum yang mengatur kejahatan tersebut sehingga kejahatan digital terus menimpa dan mengganggu kerja jurnalis.
“Sudah banyak kasus doxing terhadap jurnalis, namun hingga saat ini belum ada satupun yang diusut tuntas oleh pihak kepolisian,” mengutip siaran pers AJI Jakarta, 26 Juni 2024.
Tidak hanya itu, pemerintah berencana merevisi Undang-Undang Penyiaran yang membatasi konten kreator dalam platform media sosial.
Manipulasi Media Sosial oleh Aktor Politik
Media sosial dapat menciptakan citra dan imej yang dianggap sebagai sesuatu yang mewakili si pengguna. Dia dibingkai dalam unggahan yang dapat mempengaruhi persepsi orang terhadap si pengguna media sosial tersebut.
Lihat saja bagaimana seorang Cut Intan Nabila yang dalam setiap unggahannya menampilkan senyum dan keromantisan rumah tangga, sontak membuat terkejut publik ketika dia mengunggah kekerasan yang dilakukan suaminya. Unggahan tersebut ditayangkan awal Agustus 2024. Lebih terkejut lagi rupanya kekerasan dalam rumah tangga yang dia alami sudah lima tahun.
Oxford Internet Institute dalam sebuah survei tentang ‘manipulasi media sosial oleh aktor politik’, menekankan bahwa manipulasi opini publik melalui media sosial merupakan ancaman yang terus berkembang terhadap demokrasi di seluruh dunia, termasuk penggunaan influencer demi kepentingan politik penguasa.
“Para influencer warga negara digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan yang dimanipulasi. Mereka termasuk relawan, kelompok pemuda, dan organisasi masyarakat sipil, yang mendukung ideologi mereka,” tulis Profesor Philip Howard, Direktur Oxford Internet Institute, dalam laporannya yang dikutip dalam laman ox.ac.uk.
Bahkan tingkat manipulasi media ini sudah masuk dalam skala industri sehingga mampu menggelontorkan jutaan dollar dalam proses manipulasi tersebut. Tidak hanya influencer tapi pola-pola pengunaan komputasional untuk menenggelamkan suara-suara dan ideologi yang dianggap berseberangan dengan pemerintah.
Survei tersebut dilakukan di 81 negara pada 2019 terhadap pemerintah, firma hubungan masyarakat, dan partai politik. Laporan tersebut menunjukkan bahwa disinformasi telah menjadi strategi umum digunakan sebagai bagian dari komunikasi politik.


