Menelusuri Jejak Tsunami Mengerikan di Pulau Jawa dalam Serat Srinata, Babad Tanah Jawi

Date:

Menelusuri Jejak Tsunami di Pulau Jawa dalam Serat Srinata, Babad Tanah Jawi

Gempa dan tsunami menjadi fenomena alam yang direkam oleh manusia sejak masa lampau. Dampaknya yang mengerikan diceritakan dari generasi ke generasi.

Di Indonesia, riwayat tsunami teridentifikasi dalam berbagai budaya. Di Simeulue, Aceh, misalnya ada Smong. Smong menyemalatkan warga Simeulue, dalam tsunami Aceh 2024.

Di Jawa, ada pula berbagai riwayat tantang gempa dan tsunami. Salah satunya melalui Serat Srinata, yang menjadi bagian dari Babad Tanah Jawi.

Kengerian tsunami digambarkan begitu epik. Saking menakutkannya, orang-orang mengira, tsunami yang mengamuk adalah kiamat.

Dikutip dari akun X.com, @widjokongko, tertulis di serat:

Kilat thathit abarungan
Panjumegur swara kagiri-giri
Narka yen kiyamat iku
Toya minggah ngawiyat
Apan Kadya amor mina toyanipun
Semana datan winarna
Ratu Kidul dik Miyarsi

Serat itu kemudian diterjemahkan (transliterasi) oleh Josephine Apriastuty Rahayau (2018), yang artinya kurang lebih,

Kilat dan halilintar bersamaan
Gemuruh suaranya menakutkan
Mengira bahwa itu adalah kiamat
Air naik ke angkasa
Bahkan seperti bercampur dengan ikan airnya
Pada saat itu tidak dikisahkan
Ratu Kidul saat mendengarnya.

Demikian rekaman pujangga di masa silam untuk menggambarkan kengerian yang terjadi saat tsunami datang. Bahkan, sang Ratu Kidul atau Nyi Roro Kidul sekalipun bingung, yang secara detail digambarkan dalam serat berikut,

Sedang tidur beralaskan gading
Kacau sang hati Sang Dewi
Bahkan nagapun lari
Ingin naik untuk berkelahi
Ratu Kidul perlahan berkata:
“selama ini aku belum pernah menyaksikan samudra menjadi pesisir (pantai)

Bahkan panasnya air
Bagaikan api, sangatlah panas airnya
Semua ikan mati
Mungkin hari kiamat ini

Riwayat Serat Sri Nata

Serat Srinata, Babad Tanah Jawi. (Foto: Istimewa/geo.mapid.io)

Menurut pengalih aksara, Antonius Suparnjo , naskah teks Serat Sri Nata ditemukan dari kawasan pesisir utara pulau Jawa (Jawa Tengah). Teks yang ditulis dengan menggunakan metrum macapat ini ditulis dalam 134 pupuh dengan berbagain jenisnya.

Apa yang disampaikan oleh si penulis pada awal teksnya yang “meminta” untuk “di maafkan” dari segala cacat cela dalam berkarya barangkali memang ada benar, karena dari hasil transliterasi yang dilakukan dengan cermat oleh Bapak Anton Suparnjo Dipomenggolo menunjukkan adanya beberapa kekurangan yang cukup sering muncul dalam menyusun kata, kalimat, dan beberapa hal lainnya pada gatra yang terbeber (misalnya, lihat catatan kaki dari naskah transliterasi).

“Adanya kenyataan ini bisa jadi karena yang bersangkutan yang jauh dari ratu (pusat kebudayaan) memang kurang memiliki kemampuan secara utuh penulisan sastra jawa dalam bentuk tembang macapat, atau bisa jadi hanya karena kekurangcermatannya saja ketika mengungkapkan kata-kata puitisnya di dalam teks sastra,” demikian tertulis di koleksiperpus.jakarta.go.id, dikutip Sabtu (14/9/2024).

Wilayah pesisir bukan berarti tidak tersentuh oleh estetika keraton, tetapi persentuhan yang kurang intens Itulah yang menjadikan adanya beberapa kerumpangan pada teks ini.

Mitigasi dan ketangguhan Hadapi di Masa Lalu dan Mitigasi

geo.mapid.io tembang Serat Srinata ini menggambarkan kejadian tsunami yang terjadi pada saat itu melalui pilihan kata yang ada di dalam lagu. Lihat saja dari lirik lagu di atas, liriknya sangat identik dengan kesaksian dari korban tsunami besar.

Lantas, bagaimana dengan masa kini dan nanti?

berdasarkan data Global Navigation Satellite System (GNSS), hampir seluruh selatan pesisir Jawa termasuk Selatan Banten diprediksi akan mengalami tsunami besar meskipun belum bisa diprediksi waktu kejadian persisnya.

Jadi, untuk mencegah timbulnya kerugian dan korban jiwa yang sangat besar, bagaimana mitigasi yang dapat kita lakukan dalam menyikapi ancaman tsunami yang sulit untuk diprediksi ini? Check this out!

Menelusuri Jejak Tsunami di Tanah Jawa

Serat Srinata, Babad Tanah Jawi. (Foto: Istimewa/koleksiperpus.jakarta.go.id)
Serat Srinata, Babad Tanah Jawi. (Foto: Istimewa/koleksiperpus.jakarta.go.id)

Dalam Serat Srinata yang ditulis pada tahun 1866 Masehi dikisahkan bahwa interpretasi tsunami yang terjadi pada zaman dahulu merupakan akumulasi dari ombak di lautan yang naik bagai setinggi angkasa.

Bencana tersebut terjadi diiringi dengan kilat dan halilintar yang bunyi secara bersamaan, dan gemuruh suara yang menakutkan.

“Kejadian tsunami juga memberikan dampak yang dahsyat mengakibatkan semua ikan dan makhluk laut lainnya banyak yang mati. Bahkan kejadian saat itu digambarkan seperti hari kiamat yang mengerikan,” demikian dikutip dari blog geo.mapid.io.

Tsunami besar yang terjadi di masa lalu rupanya telah dicurigai oleh para ahli. Dua tim peneliti menemukan jejak tsunami yang berulang kali terjadi di masa lalu.

Dua deposit tsunami yang ditandai kondisi struktur tanah di pantai Pangandaran, Jawa Barat, dan Cilacap, Jawa Tengah yang terjadi tahun 2006 dan 1867 ditemukan oleh tim peneliti gabungan ITB dan BMKG.

Selain itu, berdasarkan riset ahli paleotsunami dari LIPI, Eko Yulianto, menemukan jejak tsunami di Pangandaran yang diduga terjadi sekitar 400 tahun lalu.

sementara di Lebak, Banten juga ditemukan deposit terduga tsunami yang berumur 331 tahun dan 293 tahun dengan toleransi 24 tahun. Ternyata sudah banyak temuan yang membuktikan bahwa tsunami telah terjadi di masa lampau.

Risiko Tsunami Masa Kini

Berdasarkan penelitian dari (Supendi,. dkk, 2022) yang dituangkan dalam jurnal internasional berjudul “On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis of the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia”, wilayah pantai selatan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera memiliki potensi tsunami yang cukup besar.

Hal ini disebabkan oleh adanya pertemuan lempeng Indo-Australia dan subduksi di bawah lempeng Sunda. Peristiwa megathrust besar yang terkait dengan proses ini kemungkinan menimbulkan bahaya gempa bumi dan tsunami besar bagi masyarakat sekitar.

Hasil penelitian mengungkapkan adanya celah seismik besar di selatan Jawa Barat dan tenggara Sumatera, yang sesuai dengan studi GPS sebelumnya yang menemukan bahwa wilayah tersebut berpotensi menjadi sumber gempa megathrust di masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...