
Ini tragis!
Long weekend bagi kaum urban identik dengan traveling. Libur panjang itu dimanfaatkan untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat wisata yang eksotis, yang jarang didatangi orang. Atau ke tempat-tempat wisata baru yang sedang viral di media sosial. Orang-orang menyebutnya dengan healing.
Efeknya kerumunan tak terhindarkan, baik di bandara ataupun di jalan darat. Seperti kemacetan parah yang terjadi di jalur Puncak, Bogor, Jawa Barat pada Minggu (15/9). Ribuan kendaraan memadati kawasan wisata tersebut. Akibat kemacetan selama 8 jam itu, seorang wisatawan pria tua meninggal dunia. Lainnya gagal liburan dan kelaparan.
Niat hati ingin healing, namun ternyata kakek itu dipaksa “bersenang-senang” selamanya di tempat yang tak pernah mengalami kemacetan.
Hari ini, kata “healing” kian populer. Healing sering diasosiasikan sebagai kegiatan bersenang-senang dengan cara traveling, staycation atau menginap di hotel mewah untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda dengan kehidupan keseharian.
Orang-orang yang melakukan healing dengan cara traveling ini bertujuan untuk melupakan sejenak keruwetan dan tekanan hidup sehari-hari yang dialami kebanyakan kaum urban. Masalah pekerjaan yang menggunung, keluarga yang sedang tidak harmonis, saldo di rekening yang kian tipis atau cinta yang tak berbalas. Saat mengalami hal itu, rasanya pengen kabur, menjauh dari semua masalah itu.
Namun healing yang model begitu bisa jadi bukan solusi yang bisa “menyembuhkan”. Alih-alih pulang fresh tapi justru makin stress karena harus kembali ke “dunia nyata”. Mereka pergi hanya sekadar melarikan diri dari kenyataan. Atau sekadar ikut-ikutan para selebgram yang sering posting tempat-tempat indah demi konten.
Sekadar Melarikan Diri?
Banyak netizen yang memimpikan healing model ini. Mereka bisa bersenang-senang, menikmati keelokan alam, berenang di pantai, ngopi di kafe-kafe estetis, berfoto-foto lalu diposting ke media sosial. Jumlah komentar, like dan share yang banyak menjadi salah satu indikasi healing-nya “berhasil”.
Traveling fisik seperti itu hanya memberi waktu sebentar untuk melupakan masalah, tapi begitu kita kembali ke realitas, masalah-masalah yang kita tinggalkan itu masih ada, bahkan makin menumpuk.
Mereka mestinya memilih real healing yang bisa jadi tidak ada hubungannya dengan booking tiket pesawat, promo hotel bintang lima atau open trip. Real healing adalah perjalanan terjauh ke dalam diri. Bisa jadi healing yang sebenarnya itu tidak perlu kemana-mana, tidak bersama siapa-siapa dan tak memerlukan biaya sama sekali.
Traveling ke dalam diri hanya perlu one way ticket. Begitu sampai, kita tak akan balik lagi, justru kita akan terus berjalan makin jauh tanpa perlu menengok ke belakang lagi atau mengintip kaca spion.
Real healing terjadi ketika kita tak lagi berusaha menyangkal dan melarikan diri dari masalah yang kita hadapi, namun justru kita mulai menghadapinya dengan penuh kesadaran.
Berbeda dengan traveling ke Maldiv, Maroko atau destinasi wisata lainnya yang hedon, instagenik dan potensial jadi bahan flexing, perjalanan ke dalam diri jauh dari keramaian, sebuah perjalanan yang sunyi dan penuh tantangan untuk menemukan diri kita sendiri, yang selama ini mungkin dilupakan karena sibuk dengan urusan di luar diri.
Abai pada Tujuan Hidup
Banyak yang tidak menyadari, sebagai pekerja selama ini mereka seperti terjebak dalam rutinitas pekerjaan kantor, fokus pada pencapaian target, memenuhi ekspektasi atasan, atau melayani kebutuhan orang lain.
Di dunia urban yang serba cepat dan kompetitif, pekerjaan dan pencapaian materi menjadi ukuran utama kesuksesan. Kita terus-menerus didorong untuk mengejar hal-hal eksternal, seperti gaji yang lebih tinggi, promosi, atau pengakuan sosial.
Fokus yang berlebihan pada pekerjaan dapat membuat kita mengabaikan tujuan hidup yang lebih mendalam, yang lebih besar dari sekedar urusan pekerjaan. Bahkan sering kali suara batin kita sendiri tak pernah benar-benar kita dengar.
Salah satu caranya untuk melakukan perjalanan ke dalam diri adalah dengan ‘diam”, meditasi atau dialog dengan diri sendiri. Agar lebih fokus bisa memilih tempat-tempat yang nyaman dan sepi. Sehingga tidak terganggu dengan suara-suara di luar.
Menurut beberapa sumber, untuk memulai perjalanan ke dalam diri itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah mindset bahwa semua hal akan berubah dan kita harus siap menerima perubahan itu. Termasuk perubahan pada diri kita sendiri.
Pandanglah cermin dan perhatikan baik-baik wajah kita. Ada banyak perubahan telah terjadi sejak kita bisa mengingat dulu. Atau buka album foto-foto pribadi di Facebook, seperti apa kita setahun, dua tahun, sepuluh tahun foto masa bocah yang masih imut. Dulu waktu masih remaja belum ada garis-garis lembut di dahi, tapi sekarang makin kelihatan, rambut yang dulu berwarna hitam pekat pelan-pelan juga memutih.
Perubahan adalah keniscayaan
Begitu juga dengan sirkel pekerjaan, pertemanan juga berubah. Lingkungan di sekitar tempat tinggal kita juga berubah. Perubahan adalah keniscayaan, kita harus bisa menerima dengan lapang dada, tak perlu denial.
Perlu waktu untuk menyendiri, berdialog dengan diri sendiri atau cara lain untuk bisa sampai ke level penerimaan diri apa adanya. Contohnya menyadari sepenuhnya diri kita yang terlahir sebagi laki-laki, anak seorang pencoleng level kecamatan, miskin, keluarga broken home, di sebuah kampung yang nyaris tak terdeteksi google map dan segala kondisi yang ada pada diri kita seperti sekarang ini.
Dalam perjalanan ke dalam diri, tiap orang akan menemukan “oleh-oleh” yang bisa jadi berbeda-beda. Kita akan membawa pulang sebuah pemahaman baru yang lebih mendalam tentang siapa diri kita sebenarnya.
Kita juga akan menyadari dan menerima kelemahan, kekuatan, impian, passion yang terpendam dan memori masa lalu yang mengecewakan, hal-hal yang menyakitkan dan emosi-emosi lain yang sebenarnya tidak real.
Dengan kesadaran baru yang yang diperoleh itu, kita akan lebih memahami bahwa hidup ini lebih dari sekadar rutinitas berkerja di kantor dan target-target yang harus dicapai. Namun ada hal lain yang lebih besar, lebih universal dan hakiki.
Gaya Hidup yang Berubah
Para spiritualis mengatakan, orang-orang yang berhasil dalam melakukan traveling ke dalam diri akan mengalami kebangkitan spiritual. Mereka menjadi “orang baru”. Mereka sudah mampu menyembuhkan luka-luka masa lalu dan siap menghadapi kenyataan,sepahit dan semanis apapun.
Mereka kini mempunyai sudut pandang baru saat melihat sebuah peristiwa. Tidak lagi hitam putih, reaktif, marah-marah dan gampang baper.
Orang-orang yang sudah mendapatkan “pencerahan” biasanya akan mengubah gaya hidupnya lebih simple yang lebih mendukung kesehatan mental, sepert pola makan yang lebih sehat, meditasi atau yoga.
Mereka biasanya juga lebih mudah berempati dengan orang lain. Mereka bisa merasakan penderitaan orang lain dan memiliki dorongan alami untuk membantu serta meringankan beban orang lain. Rasa empati ini tidak terbatas pada manusia saja, tetapi juga meluas ke semua makhluk hidup.
Mereka juga tidak lagi terlalu terikat lagi pada ego atau identitas duniawi mereka. Mereka tidak merasa perlu untuk terus-menerus membuktikan diri atau mencari pengakuan eksternal. Sebaliknya, mereka lebih fokus pada hal-hal yang bersifat batin, atau spiritual sehingga mereka lebih rendah hati dan “biasa saja”.
Mereka juga lebih damai, tidak mengejar-ngejar kebahagiaan. Karena mereka sadar kebahagiaan datang bukan dari luar diri, melainkan dari dalam diri kita sendiri.
.


