Silent Walking dan Pentingnya Gen Z Terhubung dengan Alam

Date:

Istilah silent walking mendadak mencuri perhatian. Aktivitas yang kini digemari oleh Gen Z ini sebenarnya bukanlah hal baru. Namun, di era digital yang serba cepat dan penuh distraksi, berjalan dengan penuh kesadaran—tanpa gangguan notifikasi ponsel—semakin relevan.

Jika kita mundur ratusan tahun, ritual berjalan kaki dalam keheningan ini sudah dilakukan oleh para biksu Buddha di Thailand. Mereka menyebutnya Tudhong, sebuah perjalanan spiritual yang jaraknya bisa mencapai ratusan kilometer. Tudhong bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi meditasi yang mengasah disiplin, perenungan diri, serta kesederhanaan hidup, demi mencapai kesabaran dan kebijaksanaan.

Sampai hari ini ritual berjalan kaki ini masih dilakukan setiap tahun. Perjalanan spiritual ini dilakukan menjelang perayaan Hari Raya Waisak dengan finish Candi Borobudur.

Di Jogja, ada juga ritual mubeng beteng, berjalan kaki dalam keheningnan. Jalan kaki yang dilakukan pada malam 1 Suro menurut kalender Jawa ini biasanya diikuti ratusan hingga ribuan orang. Semua peserta jalan kaki tanpa alas kaki alias nyeker ini dilarang bercakap-cakap. Selama masa perjalanan semua membisu. Tujuannya mirip dengan tudhong, untuk menjaga keharmonisan keraton Jogja  dan juga keseimbangan alam.

Para peserta juga memakai pakaian adat jawa yang terdiri dari beskap, blankon dan kain batik yang dililitkan lengkap dengan keris di pinggang.

Di zaman sekarang, silent walking makin terasa mendesak bagi banyak orang, terutama mereka yang kesehariannya dipenuhi rutinitas pekerjaan dan koneksi digital tanpa henti. Setiap detik, kita dibombardir informasi yang sering kali tidak kita butuhkan.

Di tengah kondisi ini, Silent Walking muncul sebagai solusi sederhana untuk melawan kebisingan teknologi. Meskipun terlihat mudah, tantangan tanpa distraksi ini dapat memberikan dampak yang sangat besar bagi keseimbangan hidup.

Relevan di Era Digital

Tak bisa dipungkiri, era digital membawa banyak kemudahan dan konektivitas. Namun, hidup kita kini semakin terikat dengan teknologi. Banyak orang merasa gelisah hanya karena tidak memegang ponsel selama beberapa menit. Apalagi bagi orang-orang yang pekerjaannya menuntut untuk selalu update berita tiap detiknya. Mereka bisa menghabiskan waktu untuk online selama 20 jam sehari. Padahal efek negatifnya tidak main-main.

Fakta yang mengejutkan datang dari Institute of Mental Health (IMH) di Singapura—remaja yang menghabiskan lebih dari 3 jam sehari di media sosial memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, dan stres.

Di sinilah silent walking memainkan peran penting sebagai bentuk detoks digital. Ketika kita berjalan tanpa gangguan ponsel, otak diberi ruang untuk beristirahat dari ledakan informasi yang tak ada habisnya. Ini adalah momen bagi kita untuk melambat, memproses pikiran, dan merenung, sesuatu yang jarang bisa dilakukan dalam kecepatan dunia digital.

Manfaat Fisik dan Mental Silent Walking

Bagi banyak orang, berjalan kaki dalam keheningan setelah seharian bekerja di depan layar komputer justru memberikan rasa segar. Pikiran yang penuh tekanan seolah di-reset, siap untuk menghadapi tantangan berikutnya. Tanpa distraksi musik atau notifikasi, kita dapat fokus pada ritme tubuh, yang ternyata memberikan manfaat lebih dari sekadar kebugaran fisik.

Berjalan adalah bentuk olahraga paling dasar. Dengan melakukannya secara rutin, kita menjaga kesehatan jantung, memperbaiki sirkulasi darah, dan menguatkan otot. Namun, Silent Walking menambahkan dimensi baru—tubuh lebih sadar akan napas, postur, dan langkah kaki. Ini menciptakan harmoni antara tubuh, pikiran, dan lingkungan sekitar.

Tak hanya itu, ide-ide segar kerap muncul saat kita membiarkan pikiran melambat. Banyak penulis dan filsuf terkenal, seperti Charles Dickens dan Friedrich Nietzsche, menggunakan jalan kaki sebagai cara untuk mencari inspirasi. Ketika pikiran bebas dari gangguan teknologi, kita memberikan ruang bagi imajinasi dan refleksi mendalam.

Kembali Terhubung dengan Alam

Di tengah kesibukan dunia digital, kita sering merasa terputus dari ritme alami kehidupan. Teknologi memaksa kita untuk terus bergerak cepat, merespons pesan, email, dan notifikasi tanpa jeda. silent walking memberikan kita kesempatan untuk kembali ke ritme yang lebih lambat, alami, dan selaras dengan alam.

Silent walking bukan hanya soal meninggalkan gawai di rumah, tapi juga tentang menyadari bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar—alam yang terbentang di luar layar ponsel. Contoh yang paling sederhana adalah berjalan di taman atau hutan. Ketika kita meluangkan waktu untuk menikmati suasana hijau, tubuh dan pikiran kita lebih mudah untuk sinkron dengan ritme alam.

Aturan utama dari silent walking adalah meninggalkan gawai Jika terpaksa harus membawa ponsel, matikan atau setidaknya aktifkan mode pesawat. Saat berjalan, fokuslah pada napas dan langkah kaki. Dengan begitu, kita akan terhubung penuh dengan momen saat ini, jauh dari hiruk-pikuk pikiran dan kekhawatiran sehari-hari.

Bahkan, jalan kaki singkat selama 10-15 menit sudah bisa memberikan jeda berarti dari kesibukan hidup.

Semakin Populer, Semakin Relevan

Popularitas silent walking yang terus meningkat menandakan perlawanan terhadap kehidupan digital yang serba berlebihan. Semakin banyak orang menyadari pentingnya keseimbangan antara dunia online dan dunia fisik di sekitar kita. Di tengah lautan aplikasi dan notifikasi, silent walking adalah oasis yang memberikan ketenangan serta kebebasan dari keterikatan digital.

Fenomena ini juga menandakan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, manusia tetap butuh kembali ke hal-hal mendasar—alami dan tak terdistorsi oleh dunia virtual. Silent Walking menjadi pengingat bahwa mungkin, hidup yang lebih lambat dan hening adalah kunci kesehatan mental dan kesejahteraan yang selama ini kita abaikan.

Silent walking bukan sekadar berjalan tanpa gawai, melainkan sebuah upaya sadar untuk memperlambat hidup, menghargai momen, dan terhubung kembali dengan diri serta alam. Di era yang penuh distraksi, Silent Walking menjadi cara sederhana namun kuat untuk menemukan kembali ritme hidup yang lebih alami dan sehat.

Istilah silent walking ini pertama kali dipopulerkan oleh seorang podcaster Mady Maio. Ia mendapat pujian dari khalayak karena gerakan ini diklaim bisa menguhab hidup.  Meskipun awalnya dia tidak yakin.

Namun setelah mencoba ia menemukan bahwa berjalan dalam keheningan bisa membantu mengubah cara berfikir.  Ia merasa lebih santai menjalani hidup setelah mempratekkan.

Sebenarnya ada banyak kegiatan lain yang sering dilakukan untuk bisa tetap terkoneksi dengan alam. Salah satunya adalah cold plunging (Berendam Air Dingin di danau atau sungai)yang juga dipercaya untuk meningkatkan Kesehatan fisik dan mental.

Bagi yang berjiwa seni, untuk selalu bisa terkoneksi dengan alam adalah dengan nature journaling. Yakni menulis atau menggambar, membuat skets di ruang terbuka yang langsung menghadap langit.

Dan beberapa kegiatan yang belum sepopuler silent walking lainnya: kemah alias kemping grounding alias earthing, waterfall chasing, dan rock balancing.

Kamu lebih cocok yang mana?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...