Pelaku upaya pembunuhan terhadap mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pekan lalu ternyata meninggalkan sebuah pesan untuk mengajak orang lain terlibat menghabisi Trump. Dalam sebuah surat dengan tulisan tangannya, ia bahkan menjanjikan uang senilai USD 150 ribu atau setara Rp 2,2 miliar bagi siapa saja yang bisa menuntaskan ‘pekerjaannya’ tersebut.
Melansir laman Politico (24/9/2024), pekan lalu Trump yang kembali mencalonkan diri di pemilu presiden tahun ini menjadi target penembakan seorang pria yang belakangan diketahui bernama Ryan Routh. Ia ternyata telah menyusun rencana untuk menghabisi Trump dalam beberapa bulan terakhir.
Jaksa mengatakan, tersangka meletakkan surat tulisan tangan yang mengerikan itu ke dalam kotak berisi peralatan dan bahan bangunan yang ditinggalkan di rumah seorang rekan yang tidak disebutkan namanya. Ditujukan kepada dunia, pesan tersebut menyoroti rendahnya karakter moral Trump dan menyalahkan kebijakannya terhadap Iran.
Dalam suratnya, Routh menyatakan dirinya gagal membunuh Trump setelah mencoba menembak mantan presiden AS tersebut. Dia lantas mengajak siapa saja yang mau menuntaskan aksinya menghabisi Trump dengan imbalan fantastis bernilai Rp 2,2 miliar.
“Sekarang saya serahkan pada kalian untuk menyelesaikan pekerjaan itu dan saya akan menawarkan uang US$ 150 ribu kepada siapa pun yang dapat menyelesaikan pekerjaan itu,” tulis Routh dalam sebagian surat yang diungkapkan jaksa dalam pengajuan pengadilan Senin pagi, sebelum sidang jaminan yang dijadwalkan untuk tersangka.
Ia juga menyatakan bahwa Trump tidak layak menjadi apapun di dunia ini, apalagi hingga menjabat sebagai orang pertama AS. Menurutnya Trump tidak pantas memimpin dengan karakter moralnya saat ini.
“Presiden setidaknya harus mewujudkan tatanan moral AS, dan bersikap baik, peduli, dan tidak mementingkan diri sendiri serta selalu membela kemanusiaan,” tulis Routh.
Menurut pengajuan pengadilan, Routh juga memprotes dalam suratnya bahwa Trump mengakhiri hubungan dengan Iran seperti anak kecil dan sekarang Timur Tengah telah terpecah belah. Tahun lalu, Routh menulis dan menerbitkan buku sendiri yang mengecam keras aksi Trump dan menyerukan agar Iran membunuh Trump.
Catatan telepon seluler milik Routh menunjukkan dirinya melakukan perjalanan dari North Carolina ke West Palm Beach pada 14 Agustus. Jaksa juga menyebut, ia mengunjungi lokasi dugaan upaya pembunuhan beberapa kali pada hari-hari menjelang penangkapannya.
Sebagai informasi, pada Sabtu (15/9/2024) seorang pria berupaya melakukan penembakan pada Donald Trump di lapangan golf pribadi Trump di West Palm Beach. Namun, aksi tersebut berhasil digagalkan setelah seorang agen dinas rahasia melihat senapan semi otomatis yang diacungkan Routh dan Trump pun selamat dari kejadian tersebut.
Routh sempat berupaya melarikan diri sebelum akhirnya berhasil dibekuk pihak berwajib. Routh didakwa dengan kepemilikan senjata api dengan nomor seri yang dilenyapkan, meski tidak pernah dipakai untuk percobaan pembunuhan. Ia pernah berurusan di hukum saat ketika dia didakwa memiliki alat peledak pada 2002, dan yang lainnya pada 2010, ketika dia divonis bersalah memiliki barang curian.
Penulis: Amelie Fabiola


