Hizbullah dan Israel terus saling menyerang sehari setelah militer Israel melancarkan gelombang serangan udara ke Lebanon yang menewaskan lebih dari 500 orang dan mengubah sekolah menjadi tempat pengungsian. Tindakan Israel meningkatkan kekhawatiran adanya perang habis-habisan yang tak berujung damai.
Pada Selasa (24/9/2024), Hizbullah mengatakan, pihaknya meluncurkan serangkaian serangan roket ke pangkalan udara Israel, termasuk lapangan terbang Megiddo dekat Afula utara, dan ke pabrik bahan peledak sekitar 60 km ke wilayah Israel. Menski begitu, tentara Israel mengaku sistem pertahanan rudal Iron Dome mencegat sebagian besar salvo yang hanya menyebabkan kerusakan minimal.
Militer Israel menyatakan, lebih dari 50 proyektil ditembakkan dari Lebanon ke Israel utara dan sebagian besar serangan dapat dibatalkan hingga tak ada laporan korban jiwa. Pihaknya juga menargetkan lusinan sasaran Hizbullah di beberapa wilayah di Lebanon selatan dalam semalam.
Serangan baru ini terjadi setelah Israel mengatakan pihaknya meluncurkan lebih dari 1.600 proyektil ke Lebanon pada hari Senin (23/9/2024). Serangan pertama menghantam sejumlah daerah di selatan negara itu. Militer Israel lalu memperluas pemboman ke Lembah Bekaa di wilayah timur, yang merupakan gejolak kekerasan terbesar sejak perang terakhir kedua negara tersebut pada 2006.
Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon mengatakan, serangan udara tersebut menewaskan 558 orang, termasuk 50 anak-anak dan 94 wanita, dan melukai sedikitnya 1.835 lainnya.
Serangan tersebut menuai kecaman global dan seruan untuk melakukan deeskalasi ketika para pemimpin dunia bertemu di New York untuk menghadiri Majelis Umum PBB.
Juru bicara badan pengungsi PBB (UNHCR) Matthew Saltmarsh mengungkapkan, puluhan ribu orang terpaksa meninggalkan rumah awal pekan ini dan jumlahnya terus bertambah di malam berikutnya. Dia mengecam aksi tersebut dan mengatakan, jumlah warga sipil yang tewas benar-benar tidak bisa diterima.
Jalan raya menuju ibu kota, Beirut macet sepanjang malam saat orang-orang memutuskan melarikan diri dari bagian selatan negara tersebut.
Sementara itu, dua sekolah diubah menjadi tempat penampungan di Beirut dan dapat menampung sekitar 120 keluarga. Meski begitu, lebih banyak pengungsi masih terus berdatangan. Para penjaga mengatakan, warga sipil datang dalam keadaan terkejut, bingung, marah, khawatir dan tidak yakin bagaimana dapat terus bertahan hidup.
Hampir 150 sekolah telah dialokasikan untuk diubah menjadi tempat penampungan oleh pemerintah. Keluarga dengan anak-anak berdatangan tidak hanya dari Lebanon selatan, tetapi juga dari pinggiran selatan Beirut yang telah menerima dua kali serangan dari Israel.
Sementara itu, pertahanan sipil Lebanon menangani sekitar 176 lokasi kebakaran akibat serangan Israel. Dikatakan bahwa pihaknya telah mengatasi kebakaran di lahan pertanian di Harf Miziara dan Qartaba dan di tempat pembuangan sampah di Mashha.
Menteri Kesehatan Lebanon Firass Abiad mengatakan serangan udara Israel menargetkan pusat kesehatan, ambulans, dan warga yang berkendara tengah mencoba melarikan diri. Serangan itu menimbulkan gelombang kejutan baik di dalam maupun luar negeri.
Menurut situs web bandara internasional Rafic Hariri, lebih dari 30 penerbangan internasional dari dan menuju Beirut dibatalkan. Qatar Airways mengatakan pihaknya telah menangguhkan penerbangan ke dan dari Beirut hingga Rabu pekan ini.
Lufthansa Jerman, Air France dan Delta Air Lines Amerika Serikat juga telah menunda penerbangan ke Beirut dalam beberapa hari terakhir serta layanan beberapa maskapai penerbangan ke Israel dan Iran juga terkena dampaknya.
Penulis: Amelie Fabiola


