Kisah Bukit Pentulu, Sisi Misterius Pos Suwung Belanda di Kebumen

Date:

Pagi hari menjadi waktu terbaik di Bukit Pentulu, Karangsambung, Kebumen. Sinar mentari perlahan menyibak kabut dan awan yang menyelimuti dua gunung kembar, Sindoro-Sumbing di Kejauhan.

Lantas, awan caping menghias puncak dua gunung itu. Pada puncak musim kemarau, matahari terbit persis di tengah-tengah dua gunung itu.

Maka, bayangkan selembar lukisan keindahan alam karya anak usia sekolah dasar. Seperti itulah deskripsi matahari terbit bukit Pentulu pada akhir kemarau.

Pemandangan kerapkali terganggu oleh kabut pekat. Namun, di sinilah sensasinya. Kabut justru menciptakan sensasi pagi yang tak bakal ditemui di tempat lainnya.

Bukit batuan purba yang hanya tampak pucuknya, layaknya kepala para raksasa yang menutup diri dengan halimun. Hitamnya bukit terlihat kontras dengan kabut putih yang tak kunjung menguap.

“Kalau sedang bagus cuacanya, di bawah sana kelihatan aliran Sungai Luk Ulo, yang juga sungai purba bawah laut,” ucap pengelola Bukit Pentulu Indah (PI), Adman, beberapa waktu silam.

Bukit Pentulu Ramai Dikunjungi Wisatawan

Bukit Pentulu Indah, Karangsambung, Kebumen – IG @anggaaaaar

Pada hari-hari biasa, Bukit Pentulu Indah dikunjungi oleh sekitar 50-100 orang per hari. Pada akhir pekan, jumlahnya melonjak menjadi antara 200-300 orang.

Bahkan di hari-hari tertentu, terutama libur panjang, bukit ini bisa dikunjungi oleh lebih dari 500 orang per hari. “Rata-rata usia remaja,” dia menambahkan.

Rata-rata, per bulan, Bukit Pentulu yang kini masih dalam tahap pembenahan dan pengembangan ini dikunjungi sekitar 2.000-3.000 wisatawan.

Tiketnya pun murah, hanya Rp 5.000 per orang. Pengelola tak membedakan harga tiket hari biasa dan hari libur.

Rencananya, area wisata Bukit Pentulu bakal diperluas hingga lima hektar. Kini, Bukit Pentulu baru termanfaatkan sekitar 1,5 hektar.

Adman bercerita, Pentulu, dalam bahasa lokal Kebumen berarti menonjol. Bukit dengan puncak setinggi 250 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu, terletak di atas kawasan punggung bukit besar.

Tiga tahun lalu dan masa sebelumnya, Bukit Pentulu hanya lah kawasan Perhutani yang sepi mencekam. Tak ada aktivitas lain di luar para penyadap getah pinus.

Kisah Pos Suwung Belanda

Bukit Pentulu Indah, Karangsambung, Kebumen – IG @explorekebumen

Persis di kaki Bukit Pentulu, ada daerah yang disebut sebagai Pos Suwung, yang berdasar cerita masyarakat setempat adalah pos penjagaan pada masa penjajahan Belanda. Namun, tiap penjaga yang ditugaskan di pos ini selalu hilang.

Maka, muncul kepercayaan bahwa daerah ini wingit dan angker. Jin dan lelembut menculik pada penjaga itu dan menyembunyikannya di belantara bebatuan purba.

Dua tahun belakangan, bukit ini ramai dikunjungi wisatawan. Mereka ingin menyaksikan sensasi menyaksikan bukit-bukit batuan purba yang merupakan singkapan dasar samudera ratusan juta tahun lalu.

Secara umum, wilayah Karangsambung dan tiga kecamatan di sekitarnya, seperti Sadang, Karanggayam dan Aliyan didominasi oleh perbukitan batuan purba yang tercipta ratusan juta tahun lalu. Ini termasuk Bukit Pentulu yang terletak di Desa Karangsambung.

Secara umum, wilayah Karangsambung Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah didominasi oleh perbukitan batuan purba. Ini termasuk Bukit Pentulu yang terletak di Desa Karangsambung.

Singkapan Dasar Samudera di Cagar Geologi Karangsambung

Bukit Pentulu Indah, Karangsambung, Kebumen – IG @danusayogo

Kepala Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi Kebumian (UPT BIKK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Karangsambung, Edi Hidayat mengatakan mengatakan wilayah Karangsambung adalah titik lempeng samudera dan lempeng benua bertumbukan dan mengangkat dasar samudera menjadi daratan.

Kehidupan bawah laut dan proses kebumian pun menjadi artefak yang terus digali, untuk menyingkap tabir sejarah kehidupan bawah laut di masa lalu. Di tempat ini, terbentang 22 ribu hektar kawasan konservasi geologi.

Di kawasan ini, terdapat batuan hasil proses kebumian batu beku seperti basal, granit, gabro, andesit, diabas dan dasit. Selain itu, ada pula batuan sedimen yang meliputi rijang, konglomerat, batu pasir, gamping merah dan kalkarenit.

Adapun batuan metamorf terdiri dari kuarsit, serpenit, sekis mika, filit, karmer dan gnels. Batuan purba itu tercipta antara 120-60 juta tahun yang lalu. Seluruhnya tersaji di area tiga kabupaten, meliputi Kebumen, Banjarnegara dan Wonosobo.

“Kami mendorong agar masyarakat penambang berubah menjadi masyarakat pariwisata. Mungkin perlahan, tetapi kami optimis itu akan berhasil,” dia menerangkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...