Pidato perdana Prabowo Subianto sebagai Presiden RI menjadi momen yang paling ditunggu. Pasalnya, pidato itu menandai titik tolak kepemimpinan Prabowo-Gibran lima tahun ke depan.
Pidato Prabowo juga menjadi cerminan visi dan misi Prabowo dalam pemerintahannya kelak. Ada pula ambisi Prabowo dan pesannya yang menyentuh.
Di tengah pidatonya yang heroik tentang kepahlawanan, Prabowo menyinggung ‘wong cilik’. Dia meminta agar semua pihak ingat terhadap pengorbanan ‘wong cilik’ terhadap kemerdekaan Indonesia.
Menurut Prabowo, kemerdekaan Indonesia diraih dengan pengorbanan masyarakat.
“Kita harus paham dan ingat selalu, pengorbanan dari rakyat kita paling miskin, wong cilik yang memberi makan pada pejuang,” kata Prabowo dalam pidatonya.
Dia menjelaskan, para petani dan nelayan adalah mereka yang memberi makan para pejuang kemerdekaan saat negara tak memiliki anggaran, APBN, untuk menghidupi para pejuang dan pahlawan.
Prabowo mengajak agar masyarakat Indonesia harus menjadi bangsa berani. Dia mengajak agar Bangsa Indonesia tidak takut terhadap tantangan dan ancaman.
“Saya mengajak, kita menjadi bangsa berani, tidak takut tantangan, bangsa tidak takut rintangan, tidak takut ancaman,” katanya.
Demokrasi tanpa Caci Maki
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo Subianto juga menyerukan semua pihak bersatu padu membangun negara dalam semangat demokrasi tanpa caci maki dan kemunafikan.
“Kita menghendaki demokrasi yang cocok dan berasal dari sejarah dan budaya kita, demokrasi harus santun, demokrasi beda pendapat harus tanpa permusuhan, demokrasi tanpa caci maki,” ujar Prabowo.
“Bertarung tanpa membenci dan bertanding tanpa membuat curang, demokrasi hindari kekerasan, adu domba, demokrasi harus sejuk, menghindari kemunafikan,” lanjut Prabowo.
Prabowo-Gibran resmi dilantik dan mengucapkan sumpah janji sebagai presiden dan wakil presiden di Sidang Umum Paripurna MPR, Minggu (20/10). Prabowo dengan demikian menjadi Presiden kedelapan, sementara Gibran akan menjadi Wapres ke-14.


