Balada Sound Horeg, Tradisi Musik Besar nan Menggetarkan tapi juga Meresahkan

Date:

Belakangan ini, istilah Sound Horeg kerap menjadi perbincangan masyarakat. Aksi-aksinya yang meriah menggetarkan menjadi warna baru dalam blantika permusikan di Indonesia.

Di sisi lain, aksi operator sound horeg terkadang juga menuai kritik lantaran bikin resah atau membahayakan.

Secara sederhana, Sound Horeg merupakan sistem suara berukuran besar yang mengeluarkan suara menggelegar. Meskipun digemari oleh sebagian orang sebagai hiburan, keberadaannya juga menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Mari kita jelajahi lebih dalam mengenai fenomena ini.

Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), musik adalah suara yang disusun dengan irama, lagu, dan keharmonisan. Dalam konteks Sound Horeg, istilah “horeg” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “bergerak” atau “bergetar”.

Dengan kata lain, Sound Horeg adalah alat penghasil suara besar yang menghasilkan volume tinggi, membuat suara yang dihasilkan terasa bergetar dan mengguncang.

Asal Sound Horeg dan Biaya Sewanya

Sound Horeg muncul dari Malang, Jawa Timur, dan sering mengusung genre musik elektronik. Selain ukuran dan suaranya yang menggelegar, Sound Horeg juga dilengkapi dengan lampu berwarna-warni yang meriah.

Dalam konteks acara, Sound Horeg merupakan hiburan rakyat yang bisa disewa dengan biaya sewa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung pada jenis dan popularitas penyedia jasa.

Keunikan Sound Horeg terletak pada lagu-lagu yang diputarnya, yang umumnya merupakan karya cipta dari para penggiat Sound Horeg itu sendiri. Pemilik Sound Horeg biasanya meminta jasa layanan lagu untuk menciptakan musik yang kemudian menjadi hak milik mereka. Hal ini memberikan nuansa eksklusif pada setiap pertunjukan Sound Horeg.

Meskipun belum ada catatan pasti tentang kapan Sound Horeg mulai dikenal, tradisi ini tampaknya muncul dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan jurnal penelitian, persaingan dalam penggunaan Sound Horeg atau adu sound telah berkembang di berbagai daerah di Pulau Jawa.

Awalnya, adu sound ini muncul dalam konteks perayaan menjelang Idul Adha dan Idul Fitri, tetapi kini telah meluas menjadi acara karnaval, hingga hajatan yang melibatkan Sound Horeg dengan ukuran dan suara yang mengesankan.

Menjadi Fenomena Meresahkan

Namun, meskipun Sound Horeg memiliki penggemar setia, banyak orang juga merasa terganggu. Suara yang sangat keras dan getaran yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan pendengaran dan menyebabkan gangguan kecemasan serta jantung. Di samping itu, getaran tersebut berpotensi merusak bangunan di sekitarnya.

Satu hal yang menarik untuk dicatat adalah bagaimana Sound Horeg kini sering dipakai dalam berbagai acara, dari festival hingga karnaval. Meskipun tujuannya adalah untuk menghibur, kebisingan yang ditimbulkan sering kali menjadi masalah serius, terutama ketika digunakan di waktu-waktu yang tidak tepat. Hal ini menyebabkan ketidaknyamanan bagi masyarakat sekitar, bahkan bisa memicu konflik.

Kebisingan dan Pengaruhnya Terhadap Pendengaran
Mengutip dinkes.ntbprov.go.id kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari berbagai aktivitas yang dapat mengganggu kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Menurut Kepmen LH No 48 tahun 1996, kebisingan ini memiliki tingkat dan waktu tertentu yang dapat menyebabkan dampak negatif.

Jenis-jenis kebisingan, seperti kebisingan kontinyu dan terputus-putus, dapat mempengaruhi kesehatan secara berbeda. Misalnya, kebisingan intensitas tinggi dapat merusak pendengaran, sedangkan kebisingan yang lebih rendah meskipun tidak merusak, dapat menimbulkan stres dan gangguan kesehatan lainnya.

Nilai ambang batas kebisingan (NAB) yang ditetapkan adalah 85 dB untuk pekerja yang terpapar suara selama 8 jam per hari. Paparan kebisingan di atas ambang ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk peningkatan tekanan darah, sakit kepala, dan gangguan tidur.

Kebisingan tidak hanya mempengaruhi pendengaran, tetapi juga dapat menurunkan efisiensi dan produktivitas kerja, serta memicu respons masyarakat yang merasa terganggu dan berpotensi mengajukan protes terhadap sumber kebisingan tersebut.

Sound Horeg mencerminkan dualitas dalam budaya hiburan masyarakat. Di satu sisi, ia memberikan keceriaan dan keunikan, di sisi lain, keberadaannya bisa menjadi sumber masalah.

Dalam dunia yang semakin bising, penting bagi kita untuk menemukan keseimbangan antara hiburan dan kenyamanan hidup bersama. Dengan demikian, Sound Horeg dapat tetap menjadi bagian dari kebudayaan yang menghibur tanpa meresahkan orang-orang di sekitarnya.

Penulis: Purba Handayaningrat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...