Jam Gadang, Hadiah Ratu Wilhelmina Ikon Bukittinggi

Date:

Jam Gadang, menara jam yang menjulang megah di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat, merupakan simbol kekayaan sejarah dan budaya yang mendalam. Dirancang oleh Yazid Rajo Mangkuto, Jam Gadang bukan hanya sekadar penunjuk waktu, tetapi juga hadiah istimewa dari Ratu Belanda, Wilhelmina, yang menunjukkan perhatian dan pengaruh Belanda pada masa kolonial.

Pembangunan Jam Gadang dimulai pada tahun 1926 dan selesai pada tahun 1927, dengan biaya mencapai 21.000 Gulden. Menara ini didedikasikan untuk Sekretaris Fort de Kock, nama lama Bukittinggi, dan menjadi saksi sejarah perjalanan kota ini.

Dengan ukuran 26 meter, Jam Gadang dikelilingi taman yang tidak hanya memperindah kawasan, tetapi juga menjadi ruang interaksi bagi masyarakat.

Peristiwa Penting di Sekitar Jam Gadang

Jam Gadang tidak hanya menjadi landmark yang menarik perhatian, tetapi juga tempat terjadinya peristiwa penting. Di sini, pengibaran bendera merah putih pada 17 Agustus 1945 menandai awal kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, tempat ini juga menjadi lokasi demonstrasi Nasi Bungkus pada tahun 1950 dan insiden pembunuhan yang melibatkan penduduk setempat pada tahun 1959.

Sejarah Jam Gadang yang kaya ini dimulai dari inisiatif Hendrik Roelof Rookmaaker, yang menjabat sebagai kontroler kota Fort de Kock. Dengan bantuan arsitek Yazid Rajo Mangkuto dan pelaksana pembangunan Haji Moran, Jam Gadang didirikan sebagai simbol kebanggaan masyarakat setempat.

Dikutip dari berbagai sumber, peletakan batu pertama dilakukan oleh putra Rookmaaker yang saat itu masih berusia enam tahun.

Menara ini telah mengalami beberapa perubahan bentuk atap. Awalnya, atap Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di atasnya, sebagai simbol harapan agar masyarakat bangun pagi.

Namun, pada masa pendudukan Jepang, atap tersebut diubah menyerupai Kuil Shinto, sebelum akhirnya kembali ke bentuk atap gonjong yang khas rumah adat Minangkabau setelah Indonesia merdeka.

Dengan ukuran dasar bangunan 6,5 x 6,5 meter dan tingginya yang menjulang, Jam Gadang memiliki lima tingkat, di mana tingkat teratas menyimpan bandul jam. Terdapat empat jam besar dengan diameter masing-masing 80 cm, yang digerakkan oleh mesin khusus yang diimpor dari Rotterdam. Mesin ini merupakan salah satu dari dua mesin serupa yang ada di dunia, dengan yang lainnya terletak di Big Ben, London.

Menariknya, penulisan angka pada Jam Gadang juga memiliki cerita tersendiri. Angka empat pada jam tersebut ditulis dengan IIII, bukan IV, untuk menghindari makna kemenangan yang dapat memicu semangat perlawanan terhadap penjajahan. Keputusan ini menambah lapisan sejarah yang kompleks pada ikon yang satu ini.

Ramai Dikunjungi

Saat ini, Jam Gadang telah menjadi objek wisata yang ramai dikunjungi. Meskipun akses untuk menaiki menara dibatasi, pemandangan Kota Bukittinggi yang indah dan segar akan menyapa pengunjung dari sekeliling taman. Di tempat ini, berbagai acara publik sering diadakan, menjadikannya pusat aktivitas masyarakat.

Sebagai cagar budaya, Jam Gadang telah diakui pentingnya dalam sejarah dan kebudayaan Indonesia. Keberadaan menara ini menandai peristiwa dan perjuangan masyarakat Bukittinggi dalam menghadapi tantangan zaman, serta menegaskan identitas lokal yang kaya.

Dengan semua keunikan dan sejarah yang dimilikinya, Jam Gadang adalah destinasi yang wajib dikunjungi saat berada di Sumatera Barat. Keberadaan menara ini mengajak setiap pengunjung untuk merenungkan perjalanan sejarah yang telah dilalui dan melestarikan nilai-nilai budaya yang ada.

Jadi, saat Anda merencanakan kunjungan ke Bukittinggi, pastikan untuk mengunjungi Jam Gadang, menikmati keindahan arsitekturnya, dan merasakan kehangatan sejarah yang menyelimuti setiap sudutnya.

Penulis: Purba Handayaningrat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...