Hajatan di Kampung: Pesta Pora yang (Selalu) Menyisakan Beban

Date:

Menurut kalender Jawa, bulan ini adalah bulan-bulan baik. Biasanya orang jawa memanfaatkan momen ini untuk merayakan acara-acara penting. Salah satunya acara pernikahan. Termasuk di kampungku yang berada di pinggiran pantai selatan dekat Darwin. Sampai hari ini saya menerima beberapa undangan resepsi perkawinan.

Kalender Jawa bagi warga di sini tidak hanya dimaknai sebagai penanda waktu, namun menyimpan filosofi tertentu yang dijadikan pedoman dalam berperilaku.

Nama-nama bulan dan hari mempunyai nilai dan makna khusus. Untuk menentukan kapan hari baik, perlu perhitungan yang agak rumit. Dan hanya orang-orang tertentu yang mempunyai keahlian yang diwariskan turun temurun selama ratusan bahkan ribua tahun tersebut.

Pernikahan adalah salah satu upacara yang besar. Karena itu perlu ditentukan kapan hari baik untuk menggelar acara . Untuk bisa menentukan hari baik, berbagai data dihimpun, mulai hari dan tanggal lahir kedua mempelai, juga hari pasarnya  dan data lainnya. Warga banyak yang meyakini dengan memilih hari baik tersebut tersimpan doa dan harapan agar semuanya berjalan lancar, tidak ada halangan apapun.

Mereka meyakini jika melanggar tanggal yang telah ditetapkan akan terjadi bencana. Mulai dari hal yang sepele sampai yang serius.

Memang ada sebagian yang menganggap hal itu sebagai mitos belaka.  Namun bagi orang Jawa yang tidak mau terlepas dari ikatan dengan leluhurnya, biasanya akan lebih taat.

Ketika hari baik sudah ditentukan, persiapan untuk menuju hari H segera dilakukan. Panitia pernikahan dibentuk. Anggotanya seluruh warga satu RT, baik laki-laki maupun perempuan dewasa yang jumlahnya sekitar seratusan. Mereka dibagi-bagi dalam sub tim yang menangangi pekerjaan tertentu, dan semua mendapatkan tugas.

Terlalu Banyak Melibatkan Orang

Namun realnya lebih banyak yang hanya duduk-duduk ngobrol dan foto-foto selfie saja karena memang tidak ada yang perlu dikerjakan. Terlalu banyak orang yang dilibatkan. Sebagian orang kerjanya hanya makan, sehari 3 kali. Dan hajatan pernikahan itu digelar paling cepat 24 jam.  Sudah menjadi tradisi, kalau tidak ikut rewang, justru mendapatkan image yang negatif.

Semua kompak, guyup dan tanpa keluhan. Uniknya mereka semua tidak perlu dibayar namun justru sebaliknya.

Ibu-ibu dengan ringan tangan menyumbang berbagai bahan makanan mulai dari beras, gula, teh, bihun dan lainnya dengan jumlah yang siginifikan. Namun bagi para tamu undangan dari jauh, biasanya mereka menyumbang dalam bentuk uang tunai yang disimpan di amplop. Sesampainya di lokasi, seorang petugas keuangan menyambut dan menamai amplopnya sebelum dimasukkan ke “kotak amal”.

Jadi tidak bisa menyerahkan amplop kosong, karena akan ketahuan. Saya pernah melakukannya. Caranya, sebelum dimasukkan ke amplop, uang kertas digulung sekecil mungkin, dan diselipkan di ujung amplop.  Rupanya petugas tidak menyadari, sehingga memanggil namaku dan berteriak, amplopnya kosong mas.

Bedanya hajatan di kampung dengan di kota-kota besar, tidak hanya para warga sekitar yang diundang, namun juga  warga dari desa sebelah dan sebelahnya akan diundang meskipun belum kenal.

Tamu undangan bisa bebas datang jam berapa saja. Begitu loudspeaker sudah terdengar membahana, acara resepsi secara resmi dimulai.

Mengalami Pergeseran Makna

Dulu upacara pernikahan atau hajatan di kampungku, dan banyak tempat di nusantara, adalah momen sakral yang terjadi hanya seumur hidup sekali.

Hajatan ini bukan sekadar seremonial belaka, tetapi perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas berkat kehidupan, rezeki, dan jodoh. Para tamu diundang bukan hanya untuk merayakan kebahagiaan, tetapi juga untuk turut mendoakan pengantin atau keluarga yang berhajat agar selalu diberi keberkahan. Di dalamnya, ada nilai sosial yang kental: solidaritas, gotong royong, dan ikatan kekeluargaan yang lebih dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu dan pergantian generasi, tradisi hajatan berangsur-angsur mengalami pergeseran. Di era modern ini, upacara pernikahan atau hajatan sering kali bukan lagi sekadar bentuk syukur atau adat, tetapi diam-diam berubah menjadi ajang komersial.

Saat ini pernikahan selalu dirayakan secara besar-besaran, dengan panggung dangdut atau campursari. Tuan rumah tidak perlu khawatir soal biaya. Karena ada sponsor atau agen yang memberikan talangan duit untuk berbelanja dan membayar semuanya. Tuan rumah tinggal duduk manis dan tahu beres,  semua telah diurus sama panitia.

Begitu hajatan selesai, uang yang sumbangan dari para tamu dibuka dan langsung dipakai untuk melunasi semua pinjaman yang telah dipakai.

Disinilah muncul ironi-ironi.  Di balik gemerlap dan riuhnya pesta, selalu menyimpan hal-hal yang diam-diam menjadi beban. Baik buat tuan rumah maupun para tamu. Kok bisa?

Sebelumnya, menghadiri hajatan adalah cara untuk menunjukkan dukungan dan kebahagiaan yang mengadakan acara. Namun, kini bagi sebagian warga, kondangan malah menjadi beban tersendiri.

Harus Membawa Amplop

Karena saat bulan baik seseorang bisa menerima hingga 8 undangan hajatan. Tentu saja situasi ini tidak hanya menguras tenaga dan waktu, tetapi juga berdampak pada kondisi finansial, terutama di tengah tuntutan sosial yang membuat kehadiran di setiap acara terasa wajib.

Budaya sosial kita sangat menghargai silaturahmi dan solidaritas, terutama dalam acara seperti pernikahan, khitanan, hingga syukuran lainnya. Masyarakat merasa kehadiran di acara-acara ini adalah bentuk penghormatan dan rasa kebersamaan.

Sayangnya, ada norma sosial yang tak tertulis bahwa jika kita tidak menghadiri undangan, apalagi dari kenalan dekat, hal itu bisa dianggap sebagai sikap kurang menghargai atau bahkan meremehkan.

Norma sosial ini diperkuat oleh keinginan untuk menjaga hubungan baik di masyarakat. Seseorang yang tidak hadir dalam hajatan secara berulang dapat dianggap anti sosial.

Hasilnya, demi menjaga citra diri dan hubungan baik, banyak orang merasa terpaksa menghadiri setiap hajatan, bahkan jika dalam sebulan ada banyak undangan yang harus didatangi. Kalau tidak bisa-bisa dikucilkan.

Sehingga sumbangan yang awalnya dianggap sebagai bentuk partisipasi ringan, kalau bulan-bulan baik seperti sekarang ini berubah menjadi beban. Karena harus mengeluarkan biaya tak terduga yang cukup besar.  Apalagi  sebagian besar warga kampung tidak menerima gaji bulanan.

Dilema

Hal ini sering kali menimbulkan dilema: di satu sisi, mereka ingin hadir dan berpartisipasi, tetapi di sisi lain, kemampuan finansial mereka tidak selalu mencukupi.

Beban itu sebenarnya juga dirasakan tuan rumah yang menyelenggarakan hajatan. Karena ada aturan tidak tertulis bahwa kelak dia juga harus mengembalikan uang sumbangan sejumlah yang ia terima. Misalnya si B menyumbang Rp 1 juta Rupiah, kelak jika si B menggelar hajatan, ia juga harus menyumbang Rp 1 juta juga.

Memang peraturan itu tak pernah diumumkan secara terbuka, namun semua warga sudah memahaminya. Jadi pesta pora itu esensinya apa?

Mengutip ceramah Gus Baha di Tiktok, ulama yang bernama lengkap KH Ahmad Bahauddin Nursalim itu merasa yakin mengadakan hajatan itu haram. Haram buat dirinya sendiri, bukan haram untuk orang lain. Menurutnya, karena awal dari shodaqoh yang tidak ikhlas itu karena orang hajatan. Ia menceritakan, dulu waktu menikah, ia sendirian naik bus ke tempat pihak perempuan. Dia tidak mengajak siapa-siapa kecuali bersama orangtuanya.

Tragisnya orang yang mengeluhkan banyaknya undangan hajatan itu kelak saat anaknya dewasa juga akan menyeleggarakan hajatan juga.

Lingkaran setan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...