Sebentar lagi masyarakat akan berjumpa dengan momen istimewa, yakni Tahun Baru Hijriah, 1 Muharam. Dalam kalender Jawa, Muharram disebut dengan bulan Suro.
Berdasarkan kalender nasional, 1 Suro atau 1 Muharam akan jatuh pada Minggu 7 Juli 2024. Namun, lantaran menggunakan penanggalan bulan (qamariyah), pergantian hari akan terjadi begitu matahari tenggelam pada Sabtu petang (6/7/2024).
Sebab itu, maka yang lebih populer adalah malam 1 Suro, sebuah malam yang digambarkan begitu keramat. Sebagian masyarakat jawa menggelar berbagai tradisi, mulai dari kungkum, melek mbengi (berjaga semalaman) hingga semedi.
Karena kekeramatannya, 1 Suro juga dikaitkan dengan orang berweton tulang wangi. Weton tulang
wangi dianggap istimewa, karena dipercaya memiliki daya ‘linuwih’ atau lebih dibanding orang biasa.
Mereka juga diberkati kekeramatan.
Apa Itu Weton Tulang Wangi?
Merangkum berbagai sumber, dalam buku berjudul Kitab Primbon Jawa Serbaguna (2009) karya R.
Gunasasmita, disebutkan bahwa pemilik weton Tulang Wangi adalah sosok yang dipercaya disukai
oleh makhluk gaib karena tubuhnya yang harum secara alami.
Weton Tulang Wangi, atau juga dikenal sebagai balung kuning, merupakan bawaan dari lahir yang
dianggap sebagai warisan dari leluhur mereka. Menurut kepercayaan, orang yang memiliki weton ini
biasanya merupakan titisan dari garis keturunan orang-orang sakti atau individu yang memiliki
keistimewaan khusus.
Mereka yang dilahirkan dengan weton Tulang Wangi sering kali memiliki kemampuan untuk
merasakan atau melihat hal-hal supranatural, yang memungkinkan mereka untuk menyaksikan apa
yang tidak bisa dijangkau oleh indera manusia biasa.
Orang dengan weton ini dikenal memiliki kepekaan yang tinggi terhadap dimensi astral, yang
membuat mereka mampu merasakan kehadiran makhluk-makhluk gaib di sekitar mereka. Kepekaan
ini bukan hanya sekadar kemampuan fisik, tetapi juga mencakup kepekaan emosional dan spiritual,
yang sering kali dianggap sebagai tanda dari warisan leluhur yang kuat.
Sensitivitas yang tinggi terhadap dimensi astral ini kemudian menyebabkan makhluk-makhluk gaib
‘menyukai’ orang dengan weton Tulang Wangi. Mereka dipercaya memiliki aura yang menarik bagi
makhluk-makhluk tersebut, yang membuat mereka lebih rentan terhadap gangguan atau interaksi
dengan dunia gaib.
Oleh karena itu, terdapat larangan bagi mereka untuk keluar rumah pada malam 1 Suro, sebuah
malam yang sangat penting dalam kalender Jawa. Malam 1 Suro dianggap sebagai saat ketika pintu
dunia astral terbuka lebar, dan makhluk-makhluk gaib keluar untuk mencari korban.
Ketakutan ini timbul dari kepercayaan bahwa pada malam 1 Suro, energi supranatural di alam
semesta menjadi sangat kuat, dan makhluk-makhluk gaib yang berkeliaran pada malam itu bisa lebih
mudah menemukan dan mengganggu orang-orang dengan weton Tulang Wangi.
Jika mereka tidak memiliki kekuatan mental atau batin yang cukup kuat, interaksi ini dapat memicu
berbagai gangguan kejiwaan atau membawa petaka. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk
tetap berada di dalam rumah dan melakukan berbagai ritual atau doa untuk melindungi diri dari
gangguan gaib. Kepercayaan dan praktik ini mencerminkan betapa kuatnya pengaruh spiritual dan
supranatural dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, serta pentingnya menjaga harmoni
antara dunia fisik dan dunia gaib.
Hari Lahir dan Pasaran Orang Weton Tulang Wangi
Ada 11 hari yang termasuk dalam golongan weton tulang wangi, antara lain sebagai berikut:
- Weton Senin Kliwon
- Weton Senin Wage
- Weton Senin Pahing
- Weton Selasa Legi
- Weton Rabu Pahing
- Weton Rabu Kliwon
- Weton Kamis Wage
- Weton Sabtu Wage
- Weton Sabtu Legi
- Weton Minggu Pon
- Weton Minggu Kliwon
Meskipun begitu, perlu diingat bahwa tidak semua orang dengan weton-weton tersebut otomatis
memiliki ‘Tulang Wangi’. Hal ini sangat individual dan mungkin berbeda-beda pada setiap orang.
Ciri-Ciri Orang Berweton Tulang Wangi
1. Fisik Menarik
Pada umumnya, orang-orang dengan weton Tulang Wangi diyakini memiliki daya tarik fisik yang luar
biasa sehingga menarik perhatian orang lain. Pemilik weton ini dipercaya memiliki aura yang memancar, kulit yang bersih, dan wajah yang menawan. Hal ini sering membuat mereka mendapatkan pujian dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya, bahkan dari makhluk tak kasat
mata.
2. Karakteristiknya Kuat dan Positif
Orang yang termasuk memiliki weton Tulang Wangi biasanya menunjukkan sifat-sifat seperti jiwa
kepemimpinan yang tangguh, daya kreativitas yang tinggi, dan bakat dalam berbagai bidang.
Karakter-karakter positif ini menjadikannya istimewa dan memberikan pengaruh baik dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari. Keunikan ini membuat mereka mampu menghadapi berbagai
tantangan dengan lebih baik.
3.Memiliki Indra Keenam
Disebut sebagai weton yang menarik perhatian makhluk halus, pemilik weton Tulang Wangi dikenal
memiliki kepekaan terhadap dunia gaib. Mereka mampu melihat dan merasakan kehadiran makhluk
gaib di sekitarnya. Kemampuan ini membuat mereka lebih waspada dan sensitif terhadap lingkungan sekitar yang tidak kasat mata.
4. Kerap Mimpi Gaib
Orang yang memiliki weton Tulang Wangi sering mengalami mimpi-mimpi yang berkaitan dengan
dunia supranatural. Mereka mungkin bermimpi bertemu dengan leluhur, mengunjungi tempat
keramat, atau memimpikan simbol-simbol tertentu. Mimpi-mimpi ini sering dianggap sebagai
petunjuk atau pesan dari alam gaib.
5.Beruntung dalam Aspek Kehidupan
Orang-orang dengan weton Tulang Wangi disebut memiliki keberuntungan dalam berbagai aspek
kehidupan, seperti kelancaran rezeki, kemudahan mendapatkan pekerjaan, atau terhindar dari
bahaya. Keberuntungan ini sering kali membuat hidup mereka lebih mudah dan menyenangkan.
Mereka juga cenderung mendapatkan peluang-peluang baik yang menguntungkan.
6. Punya Kekuatan Spiritual
Ciri lain dari weton Tulang Wangi adalah memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal ajaib,
seperti menyembuhkan penyakit, membaca pikiran orang lain, atau mempengaruhi kejadian di
sekitar mereka. Mereka juga memiliki kemampuan untuk mengaktifkan dan mengembangkan
kekuatan spiritualnya. Kemampuan-kemampuan ini membuat mereka dihormati dan dianggap
spesial dalam komunitas mereka.
Penulis: Mikail Dzan AB


