
Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Pada bulan Muharram, umat Islam dianjurkan meningkatkan amal dan ibadahnya.
Salah satu yang populer di kalangan umat Islam adalah puasa Muharram, yang di dalamnya termasuk puasa Tasu’a dan Asyura.
Puasa Tasu’a dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram. Sedangkan puasa Asyura dilakukan pada 10 Muharram.
Dalil yang mendasari puasa sunnah di bulan Muharram, termasuk puasa Tasu’a dan Asyura, adalah sabda nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, yang artinya,
“Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.’” (HR Muslim).
Kemudian, secara khusus, anjuran mengamalkan puasa Tasu’a dan Asyura didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dengan status marfu.
Dalam hadis ini, Nabi SAW menganjurkan umatnya berpuasa pada hari Asyura. Sebagai pembeda, muslim berpuasa sehari sebelum atau setelah Asyura. Umumnya, umat Islam memilih puasa sehari sebelumnya atau tanggal 9 Muharram.
“Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya’.” (HR Ahmad)
Kapan puasa Tasu’a dan Asyura 2024 diamalkan? Simak berikut jadwalnya menurut kalender Hijriah Kementerian Agama (Kemenag), Muhammadiyah, dan hasil rukyatul hilal Nahdlatul Ulama (NU).
Jadwal Puasa Tasu’a dan Asyura 2024
Awal Muharram 1446 H yang ditetapkan pemerintah-Muhammadiyah dengan NU berbeda. Oleh karenanya, terdapat perbedaan tanggal puasa Tasu’a dan Asyura 2024. Berikut jadwalnya yang perlu dicatat.
Jadwal Puasa Tasu’a dan Asyura versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Senin, 15 Juli 2024 M/9 Muharram 1446 H (hari Tasu’a)
Selasa, 16 Juli 2024 M/10 Muharram 1446 H (hari Asyura)
Jadwal Puasa Tasu’a dan Asyura versi NU
Selasa, 16 Juli 2024 M/9 Muharram 1446 H (hari Tasu’a)
Rabu, 17 Juli 2024 M/10 Muharram 1446 H (hari Asyura)
Niat Puasa Tasu’a dan Asyura
- Niat Puasa Tasu’a
Nawaitu shauma Tâsû’â-a lilâhi ta’âlâ.
Artinya: “Saya niat puasa Tasu’a karena Allah ta’âlâ.”
- Niat Puasa Asyura
Nawaitu shauma Âsyûrâ-a lilâhi ta’âlâ.
Artinya: “Saya niat puasa Asyura karena Allah ta’âlâ.”
Sebagai catatan, niat puasa Tasu’a dan Asyura dimulai sejak malam hari hingga siang sebelum masuk waktu zawâl (saat matahari tergelincir ke barat), dengan syarat belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar atau sejak masuk waktu subuh.
Keutamaan Puasa Tasu’a dan Asyura
Berikut ini adalah keutamaan puasa Tasu’a dan Asyura, mengutip Rumah Zakat:
1. Puasa di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163).
2. Puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu
Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ” Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).
3. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah)
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,
“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,
“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)
Kenapa sebaiknya menambahkan dengan hari kesembilan untuk berpuasa? para ulama berkata bahwa maksudnya adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. Itulah yang ditunjukkan dalam hadits di atas.
Melihat kemuliaan bulan Muharram ini, alangkah baiknya jika sebagai umat Islam melaksanakan amalan-amalan baik sebagaimana ajaran Rasulullah dan tidak terbatas hanya melaksankan puasa Tasua dan Asyuro saja.
Penulis: Mikail Dzan AB


