Tak Cuma Ngaben, Ini 5 Tradisi Pemakaman Unik yang Jadi Daya Tarik Wisata di Indonesia

Date:

Upacara Ngaben di Nusa Penida, Klungkung, Bali (Foto: Ant)

Budaya dan tradisi khas Indonesia  dunia menjadi nilai tambah di luar keindahan alamnya. Bahkan, tradisi pemakaman unik di berbagai daerahpun menjadi daya tarik wisata yang diburu oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Tradisi pemakaman di Indonesia tak hanya dipengaruhi nilai agama. Kearifan dan tradisi lokal juga mewarnai prosesi pemakaman dan membuatnya berbeda antara satu wilayah dengan lainnya.

Paling populer tentu Ngaben di Bali dan Rambu Solo di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Tapi ternyata ada tradisi pemakaman lain yang juga menarik disaksikan.

Berikut adalah beberapa tradisi pemakaman unik di Indonesia yang menjadi daya tarik wisata, melansir situs kemenparekraf, Kamis (18/7/2024).

1. Rambu Solo

Tradisi pemakaman dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan ini dipercaya masyarakat Suku Toraja sebagai penyempurna kematian, serta sebagai bentuk penghormatan dan mengantarkan arwah menuju alam ruh. Namun, tradisi pemakaman Rambu Solo ini harus melewati proses upacara adat yang cukup panjang. Salah satunya adalah keluarga harus kurban hewan, antara babi atau kerbau.

Tak cukup satu atau dua hewan, tapi bisa mencapai puluhan hingga ratusan hewan yang dikurbankan, hal ini menyesuaikan strata sosial jenazah. Tak heran jika upacara adat Rambu Solo bisa digelar selama 3-7 hari berturut. Setelah upacara adat selesai, jenazah baru boleh “dikubur” di tebing batu tinggi atau disebut Lemo. Masyarakat Suku Toraja percaya, jika tradisi Rambu Solo dapat mengantarkan arwah lebih cepat ke Puya atau surga.

2. Ngaben

Jika membahas tradisi pemakaman, mungkin Ngaben menjadi salah satu yang cukup populer dan diketahui banyak orang. Tradisi pemakaman khas umat Hindu Bali ini bertujuan untuk mensucikan roh orang yang sudah meninggal. Namun, untuk melakukan hal tersebut ada beberapa upacara adat yang harus digelar. Salah satunya dengan membangun lembu kayu sebagai tempat jenazah prosesi Ngaben.

Di puncak prosesi Ngaben adalah Ngeseng Sawa: pembakaran jenazah. Lembu kayu tersebut juga turut dibakar dengan tujuan untuk “membingungkan” arwah agar tidak kembali ke dunia. Setelah proses pembakaran jenazah selesai, dilanjut dengan prosesi Nganyut, yakni menghanyutkan abu jenazah ke laut. Sebagai simbolis bersatunya kembali jiwa dengan alam.

3. Mumifikasi

Tradisi pemakaman unik berikutnya hadir dari Tanah Papua, tepatnya dilakukan oleh Suku Asmat, yakni dengan cara mengawetkan jenazah layaknya mumi. Namun, tidak semua orang bisa dijadikan mumi, biasanya mumifikasi dilakukan kepada mereka yang memiliki kedudukan tertinggi, seperti kepala suku atau panglima perang Suku Asmat.

Tubuh jenazah akan diolesi ramuan alami tertentu, kemudian diletakkan di atas perapian untuk melalui proses pengasapan secara perlahan. Setelah beberapa tahun, jenazah yang telah melalui proses mumifikasi tersebut akan berubah warna menjadi hitam, dan kemudian dipajang di depan rumah adat Suku Asmat. Apabila terdapat acara-acara penting seperti ritual adat, maka mumi tersebut akan didudukkan menghadap ke banyak orang guna mengenang jasanya.

4. Tiwah

Sebuah tradisi pemakaman yang dilakukan oleh Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Uniknya, tradisi ini dilakukan setelah jenazah dikubur selama beberapa tahun, sehingga hanya menyisakan tulang-belulang. Menurut kepercayaan masyarakat Dayak Ngaju, Tiwah dilakukan untuk mengantarkan roh nenek moyang ke tempat asal ruh atau Lewu Tatau bersama dengan Ranying, sosok dewa tertinggi dalam kepercayaan masyarakat Dayak.

Umumnya, tradisi pemakaman Dayak Ngaju digelar selama 3 hari sampai satu bulan penuh. Prosesi dimulai dengan membangun Sandung Rahung untuk menyimpan tulang. Kemudian menyiapkan kerbau yang diikat di dekat sandung rahung. Di akhir ritual, arwah akan melakukan perjalanan menuju Lewu Tatau, sambil diiringi prosesi pengurbanan kerbau dengan cara ditombak.

5. Mangokal Holi

Pulau Samosir yang berada di tengah-tengah Danau Toba ternyata juga memiliki tradisi pemakaman yang tak kalah unik. Tradisi tersebut bernama Mangokal Holi, sebuah kepercayaan turun-temurun masyarakat Pulau Samosir dengan pemindahan tulang tengkorak leluhur sebagai bentuk penghormatan.

Tradisi Mangokal Holi dilakukan dengan membongkar makam keluarga yang telah lama meninggal, dan menempatkan tulang-tulang di sebuah tugu. Tradisi Mangokal Holi dipercaya masyarakat Samosir bisa mendekatkan arwah leluhur ke Sang Pencipta. Tradisi pemakaman Mangokal Holi juga bertujuan menyatukan jasad seluruh anggota keluarga di dalam sebuah tugu yang indah. Makin indah, mahal, dan tinggi tugu yang dibuat, maka makin tinggi status marga pemilik makam tersebut.

Penulis: Mikail Dzan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...