Badan Meteorologi Klilamotologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 10.789 gempa bumi terjadi di Indonesia pada 2023. Apabila dirata-rata, maka dalam sehari terjadi sebanyak 40 lebih gempa bumi.
BMKG mengklasifikasikan aktivitas gempa signifikan berdasarkan magnitudonya dengan magnitudo di atas 5,0 pada tahun 2023 terjadi sebanyak 219 kali.
Sementara gempa kecil dengan magnitudo kurang dari 5,0 terjadi sebanyak 10.570 kali, dan gempa yang dirasakan guncangannya oleh masyarakat terjadi sebanyak 861 kali.
Jumlah gempa 2023 meningkat dibandingkan tahun 2022 yang hanya berjumlah 10.587 gempa bumi. Gempa 2023 dan 2022 juga lebih tinggi daripada rata-rata jumlah gempa tahunan yakni sekitar 7.000 kali gempa.
Memang, dari seluruh gempa yang terjadi, tak semuanya bisa dirasakan manusia. Hanya saja, pertanyaan yang muncul kemudian adalah kenapa Indonesia begitu sering diguncang gempa?
Nah, sebelum membahas penyebab gempa, mari kita ketahui terlebih definisi gempa.
Apakah Gempa Bumi?
Mengutip laman BMKG, gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi.
Akumulasi energi penyebab terjadinya gempabumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempabumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.
Mengapa Gempa Bumi Terjadi ?
Lempeng Tektonik
Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas
Oleh karena itu, maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi, gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi.
Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).
Jalur Gempa Bumi Dunia
Indonesia merupakan daerah rawan gempabumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.
Lempeng Indo-Australia bergerak relatip ke arah utara dan menyusup kedalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatip ke arah barat. Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi gempabumi besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi menimbulkan tsunami sehingga Indonesia juga rawan tsunami.
Berikut ini adalah penyebab gempa bumi yang sering terjadi di Indonesia, melansir situs IDN Times.
Penyebab Gempa Bumi yang Sering Mengguncang Indonesia
1. Indonesia terletak di wilayah cincin api pasifik
Sering mendengar istilah ring of fire? Faktanya, cincin api pasifik adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu daerah yang sering mengalami letusan gunung berapi aktif dan gempa bumi, tutur laman Facts of Indonesia.
Wilayah ini meliputi sekitar cekungan Samudra Pasifik dan memiliki bentuk seperti tapal kuda.Panjang area yang termasuk dalam cincin api pasifik adalah 40.000 km. 90 persen gempa bumi yang terjadi di dunia, 81 persen terjadi di daerah yang termasuk dalam cincin api Pasifik.
Setidaknya, terdapat 33 wilayah di bumi yang masuk dalam cincin api Pasifik, tentu Indonesia termasuk di dalamnya.
2. Indonesia berada di pertemuan 3 lempeng bumi
Tahukah kamu bahwa Indonesia terletak di pertemuan 3 lempeng bumi sekaligus? Lempeng bumi yang mengelilingi Indonesia adalah lempeng Pasifik, lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia, tutur laman Facts of Indonesia.
Pergeseran lempeng bumi dapat menyebabkan gempa terjadi.Tak hanya itu, bila antar lempeng bumi saling bertabrakan, maka ini akan mengakibatkan gempa bumi dan tsunami sekaligus. Misalnya, yang terjadi di Aceh pada Desember 2004 silam.
Beberapa daerah di Indonesia yang rawan gempa bumi dan tsunami ialah Aceh, Sumatra Utara, Lampung, Banten, Bali, Jawa Timur bagian selatan dan masih banyak lagi
3. Indonesia berlokasi di Alpine Belt
17 persen dari gempa bumi terbesar atau 5-6 persen dari gempa bumi yang terjadi di seluruh dunia terjadi di daerah sabuk alpine (alpine belt). Wilayah yang termasuk di antaranya adalah Jawa, Sumatera, Himalaya, Mediterania hingga Antarktika, tutur laman Facts of Indonesia.Meski membuat Indonesia rawan gempa, berada di wilayah Sabuk Alpine dan cincin api Pasifik juga memberi keuntungan.
Hal ini membuat tanah Indonesia subur serta kaya akan unsur mineral dan zat hara. Tak heran, berbagai macam tanaman bisa tumbuh subur di Indonesia.
4. Gempa bumi dipengaruhi aktivitas gunung berapi
Sebagian besar gempa bumi disebabkan oleh interaksi dan pergerakan lempeng. Namun, tidak sedikit pula yang disebabkan oleh aktivitas gunung berapi. Keduanya dinilai saling berkaitan. Inilah yang disebut gempa bumi vulkanik.
Contohnya, seperti yang terjadi pada Gunung Soputan di Sulawesi Utara yang erupsi karena dipengaruhi gempa bumi.Pergerakan magma di bawah gunung berapi dapat mengakibatkan gempa.
Magma memberi tekanan pada sekitarnya, membuat area di sekitarnya retak dan memicu munculnya gempa kecil, ungkap laman Oregon State University. Gempa ini biasanya terlalu lemah untuk dirasakan tetapi dapat dideteksi dan direkam oleh instrumen dan alat khusus.
5. Terletak di batas konvergen lempeng Sunda dan lempeng Indo-Australia
Mengapa gempa bumi sering terjadi di pulau Sumatra? Jawabannya adalah karena pulau ini berada di batas konvergen dimana lempeng Sunda ditundukkan di bawah lempeng Indo-Australia, ungkap laman Facts of Indonesia.
Lempeng ini bergerak miring pada kecepatan 60 mm per tahun dan komponen belahan di bagian kanan didorong oleh patahan-patahan di Pulau Sumatra.
Misalnya, pada gempa di Provinsi Aceh, Sumatra pada 2 Juli 2013. Gempa ini disebabkan oleh lempeng Sunda yang disubduksi dengan lempeng Indo-Australia. Pergerakan lempeng-lempeng itu menyebabkan gempa di Pulau Sumatra dan sekitarnya.
6. Selain disebabkan oleh alam, gempa juga bisa dipicu oleh ulah manusia
Sebagian besar gempa memang disebabkan oleh kekuatan alam. Namun, tahukah kamu bahwa gempa juga bisa disebabkan oleh aktivitas manusia? Misalnya, kegiatan pertambangan dapat merusak kontur alami kerak bumi, membuatnya tidak stabil dan rentan terhadap gesekan, ungkap laman Facts of Indonesia.
Begitu pula kegiatan pengeboran minyak dan gas alam. Eksploitasi yang terjadi dalam skala besar memberi efek langsung pada ketersediaan ruang bebas di bawah lempeng bumi. Jika ruang kosong ini mengalami ketidakstabilan karena tekanan dari luar atau desakan dari dalam, tak pelak gempa akan muncul setelahnya.
7. Berkurangnya air tanah dan kepadatan tanah juga bisa memicu gempa
Percayakah kamu bahwa berkurangnya air tanah dan kepadatan tanah bisa menyebabkan gempa? Walau sangat jarang dan hanya berskala kecil, ini bisa terjadi. Faktanya, eksploitasi besar-besaran sumber daya air tanah dapat memicu bencana. Terlebih, ketika jumlah air yang ditarik keluar dari tanah lebih besar dari jumlah yang masuk, tutur laman Facts of Indonesia.
Perbedaan yang jauh ini menyebabkan ruang kosong di bawah tanah dan bisa mengakibatkan gempa kecil yang tidak biasa. Begitu pula dengan struktur permukaan tanah yang telah mengalami penurunan fungsi akan meningkatkan resiko gempa bumi. Tanah yang tandus, tidak stabil dan tanpa struktur ikatan yang kuat oleh akar pohon dapat menyebabkan gempa bumi dan tanah longsor sekaligus.
Demikian penjelasan apa itu gempa bumi dan kenapa gempa bumi sering terjadi di Indonesia. Semoga bermanfaat.
Penulis: Mikail Dzan


