
Fiersa Besari tidak hanya dikenal sebagai musisi dan penulis, tapi ia juga sebagai YouTuber pendakian. Pengalaman mendaki ke beberapa gunung di Indonesia ia bagikan di channel YouTube Fiersa Besari.
Setelah menjelajahi berbagai gunung di Indonesia dengan jalur pendakian dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda, Fiersa Besari memberikan empat rekomendasi gunung untuk pendaki pemula yang ada di Pulau Jawa.
Menurut Fiersa Besari, sebenarnya setiap orang adalah pendaki pemula di gunung yang baru dikunjungi. Tapi rekomendasi gunung yang cocok untuk pemula ini diasumsikan sebagai gunung yang rintangan dan tantangannya tidak seberat gunung-gunung lain yang sering didaki.
1. Gunung Ijen
Rekomendasi pertama gunung yang cocok didaki pemula dari Fiersa Besari adalah Gunung Ijen yang terletak di Jawa Timur, tepatnya di perbatasan antara Banyuwangi dan Bondowoso. Gunung ini berada di ketinggian sekitar 2.386 mdpl. Salah satu daya tarik Gunung Ijen ini adalah melihat blue fire di kawahnya.
“Jalur pendakiannya terbilang mudah. Udah gitu banyak campur tangan manusia. Ada pagar. Ada banyak tangga. Kalau ke sana banyak ketemu bule, tapi itu gak mengurangi esensi Kawah Ijen itu sendiri,” kata Fiersa Besari.
Fiersa Besari menyarankan menggunakan masker ketika mendaki Kawah Ijen karena di sana gas beracunnya membaur di udara. Ini antisipasi agar tidak terjadi apa-apa terhadap kesehatan pendaki.
“Setelah menikmati blue fire, kalian harus ke atas lagi, pergi ke puncak Ijen dan menikmati sunrise. Terus pemandangan kaldera atau kawahnya cantik banget,” ujar Fiersa Besari.
2. Gunung Sindoro
Gunung Sindoro yang berada di Jawa Tengah berdekatan dengan Gunung Sumbing. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 3.153 mdpl. Meskipun tingginya di atas 3.000 mdpl, Fiersa Besari memasukkan Sindoro ke daftar gunung yang cocok didaki oleh pemula/
“Sindoro ini jauh lebih mudah dibandingkan trek Sumbing. Kalau Gunung Sumbing itu ke atasnya luar biasa sekali. Sindoro ini masih aman lah untuk kawan-kawan yang baru melaksanakan pendakian. Di sana juga ada warung legendaris, di atas warungnya ada pos sunrise. Pos itu tempat saya dan kawan-kawan dulu nge-camp,” ceritanya..
Menurut dia, puncak Sindoro lebih cantik posnya. Jika cerah, pendaki ketika bangun pagi bakal disuguhkan panorama matahari terbit yang indah. Meski menawarkan pesona yang menakjubkan, pendaki harus berhati-hati karena di pos tersebut biasanya ada babi yang mengintai.
3. Gunung Kerenceng
Rekomendasi berikutnya dari Fiersa Besari adalah Gunung Kerenceng di Sumedang, Jawa Barat. Jalur pendakian Gunung Kerenceng cukup panas karena ketinggiannya hanya 1.736 mdpl. Masih terbilang gerah, tapi serunya gunung ini punya jalan setapak menuju puncak.
“Di luar dari itu, pemandangannya sangat keren. Apalagi kalau lagi turun kabut. Jadi, sebisa mungkin nge-camp dulu satu malam di jalur pendakian, nanti subuh-subuh baru naik ke atas puncaknya biar dapet kabut. Kalau foto-foto kece lah,” katanya.
4. Gunung Papandayan
Menurut Fiersa Besari, Gunung Papandayan termasuk objek wisata pendakian yang cocok untuk pemula. Gunung ini pertama kali ia taklukkan pada 2012. Selama mendaki, ia melihat banyak pemandangan cantik, baik dari jalur naik atupun turun.
“Ketinggian Gunung Papandayan ini sekitar 2.665 mdpl, tapi kita gak boleh ke puncaknya karena memang gak boleh dilewati. Ada beberapa spot di Papandayan yang masuk kawasan observasi. Jadi perhatikan juga jalurnya, harus jalur yang resmi,” katanya.
Meskipun tidak menikmati puncak gunung, tapi Papandayan punya tempat berkemah yang seru, yaitu Padang Savana Edelweis. Tantangannya adalah bakal ketemu babi. Ia menyarankan, buat pendaki yang memasak di Papandayan sebisa mungkin bersihkan alat masaknya. Jika tidak sempat, alternatifnya adalah digantungkan ke pohon agar tidak mudah diraih babi.
“Papandayan menurut saya salah satu gunung yang wajib kawan-kawan kunjungi, apalagi untuk kawan-kawan yang berada di Jawa Barat,” katanya.
Meskipun gunung-gunung tersebut tidak cukup berat, tapi Fiersa Besari meminta agar pendaki tetap mengutamakan keselamatan. Kata dia, jangan remehkan gunung seringan apapun jalurnya, karena di alam kita tidak pernah tahu apa yang terjadi.
Penulis: MHT


