
Bagi kamu yang tinggal di Purwokerto dan demen wisata kuliner, ada informasi menarik nih. Ternyata, untuk menikmati sajian gudeg nan istimewa tak perlu ke Yogyakarta.
Di Purwokerto ada gudeg dengan rasa yang tak kalah ‘maknyus’ dibanding di daerah asalnya. Bahkan, gudeg ini sudah bisa dikatakan sebagai kuliner legend.
Pasalnya, warung gudeg ini telah berdiri sejak tahun 1960-an atau sudah berusia lebih dari setengah abad. Dan kini, warung gudeg ini sudah dikelola oleh generasi kedua.
“Tahun berapa itu dari zaman ibuku, tahun 1960-an,” kata pengelola, dikutip dari akun Instagram @infopurwokerto, Sabtu (3/8/2024).
Namanya, Gudeg Asli Kauman Lama. Letaknya berada di Pasar Wage, Purwokerto, tepat di belakang Toko Istana Mainan. Makanya, untuk menuju ke Gudeg Asli Kauman Lama, kita perlu masuk gang sempit.
Tapi jangan dikira gudeg ini sepi pembeli karena lokasinya yang ‘nylempit-nylempit’. Sejak pagi buta, sudah banyak pelanggan yang mengantre.
Gudeg Asli Kauman Lama buka sejak pukul 04.00 WIB. Uniknya, warung makan ini juga tutup cepat, kisaran pukul 11 siang.
Dimasak dengan Tungku Tradisional
Lazimnya gudeg, satu porsi terdiri dari nasi putih dipadukan dengan krecek, opor tempe, telur bebek, dan tentunya gudeg.
Untuk mempertahankan cita rasanya yang khas, Gudeg Asli Kauman Lama dimasak dengan cara tradisional yaitu menggunakan tungku dan kayu bakar.
Bahkan proses memasaknya pun membutuhkan waktu yang lama. Proses pemasakan yang penuh ketelatenan ini menciptakan cita rasa yang khas.
Cita Rasa dan Harga
Di daerah asalnya, Yogyakarta dan sekitarnya, gudeg identik dengan rasa dominan manis. Namun di Gudeg Asli Kauman Lama rasa gudeg cenderung lebih asin dan gurih.
Besar kemungkinan rasa asin gurih ini disesuaikan dengan lidah orang Banyumas yang cenderung tidak terlalu suka manis. Tentu proses perubahan ini melewati proses yang panjang, sejak zaman pendirinya.
Masih mengutip informasi dari laman IG @Infopurwokerto, seporsi Gudeg Asli Kauman Lama dibanderol seharga Rp15 ribu.
Ini adalah porsi standar yang terdiri dari nasi putih, krecek, opor tempe, telur bebek, dan gudeg. Sementara, apabila ingin ditambah dengan lauk lainnya, seperti ayam, harga menyesuaikan.
Kenapa di Pasar Wage?
Gudeg Asli Kauman Lama memilih lokasi di Pasar Wage bukanlah tanpa alasan. Pasar Wage adalah nadi ekonomi masyarakat Banyumas yang telah berdiri lebih dari seabad lalu, atau sama-sama legendaris.
Merangkum berbagai sumber, Pasar Wage Purwokerto dibangun kira-kira pada abad ke-19 di jaman penjajahan Belanda. Pasar Wage lama terletak di perempatan tengah-tengah kota di Jalan Jendral Soedirman.
Pasar itu sendiri dibangun oleh Belanda bertujuan untuk memperlancarak aktivitas perekonomian dan pemasaran Belanda yang saat itu masih menjajah Indonesia.
Pada saat masih di Jalan Jenderal Soedirman, Pasar Wage lama berdekatan dengan Kademangan yang saat ini dibangun sebuah Klenteng di utara pasar.
Pasar Wage yang saat ini berdiri, dulunya hanyalah sebuah lapangan yang digunakan untuk kegiatan olahraga atapun yang lain.
Nama ‘Wage’ dijadikan sebagai nama pasar karena pada saat Wage, pasar lebihramai dikunjungi pembeli dari pada hari-hari biasa. Namun, belakangan Pasar Wage tak hanya ramai di hari pasaran Wage melainkan ramai tiap hari.
Penulis: Mikail Dzan


