
Dedy Mulyadi (Ig)
Kasus kematian tak wajar remaja Eki dan Vina asal Cirebon yang kembali mencuat setelah pembebasan Pegi Setiawan pada 8 Juli 2024, telah menarik perhatian banyak pesohor Indonesia.
Tokoh-tokoh terkenal dari berbagai bidang menggunakan platform mereka untuk bersuara tentang pentingnya keadilan bagi Vina dan keluarganya.
Kehadiran mereka di muka publik ini dapat membantu meningkatkan kesadaran dan mendesak penegak hukum untuk bertindak lebih transparan dan adil.
Dukungan dari pesohor sering kali membawa perhatian media yang lebih luas, sehingga tekanan publik terhadap pihak berwenang meningkat.
Mengacaukan Pemahaman
Namun, ada juga risiko bahwa keterlibatan pesohor dapat mengacaukan pemahaman kasus jika informasi yang mereka sampaikan tidak akurat atau terlalu emosional.
Pesohor dengan jutaan pengikut dapat membentuk opini publik yang tidak berdasarkan fakta lengkap, yang bisa mempengaruhi proses hukum. Oleh karena itu, meskipun dukungan mereka bisa sangat bermanfaat dalam meningkatkan perhatian dan mendorong perubahan, penting bagi pesohor untuk memastikan bahwa informasi yang mereka bagikan benar dan didasarkan pada sumber yang terpercaya.
Ini akan membantu menjaga fokus pada keadilan bagi Vina dan keluarganya tanpa menimbulkan kebingungan atau prasangka yang tidak berdasar.
Suara Oegroseno
Tokoh ini merupakan Mantan Wakapolri periode 2013-2014, Komjen Pol (Purn) Oegroseno, memberikan pandangan kontroversial terkait kasus pembunuhan Vina Cirebon tahun 2016, dengan menyebut kronologi yang beredar di publik hanya cerita karangan.
Menurutnya, versi yang diketahui masyarakat—bahwa Vina dan Eky dilempari batu saat melintasi kawasan SMPN 11 Kota Cirebon sebelum dikejar oleh geng motor dan akhirnya dipukuli hingga tewas— tidak sepenuhnya akurat.
Oegroseno yakin bahwa pelaku dan korban saling mengenal, dan bahwa ada komunikasi sebelumnya antara mereka sebelum terjadinya pembunuhan tersebut.
Pandangan Oegroseno ini tentunya mengundang banyak reaksi, mengingat kasus Vina Cirebon telah menjadi perhatian publik sejak pertama kali mencuat.
Banyak yang mempertanyakan dasar dari pernyataan tersebut, sementara yang lain mendukung dengan harapan bisa mendapatkan sudut pandang baru yang mungkin terlewatkan selama ini.
Kontroversi ini juga memicu diskusi lebih lanjut mengenai transparansi dan akurasi dalam penanganan kasus kriminal, menekankan pentingnya investigasi yang mendalam dan adil demi memperoleh keadilan bagi semua pihak yang terlibat.
Ini Pesohor Lain yang Ikut Berbicara
Dikutip dari beberapa sumber, berikut adalah beberapa pesohor yang turut menyuarakan pendapat dan terlibat dalam kasus Vina dan Pegi Setiawan.
Hotman Paris Hutapea
Kala itu, pengacara terkenal Hotman Paris Hutapea turut menunjukkan perhatiannya terhadap kasus Vina Cirebon. Ia menyatakan kesiapannya untuk menjadi kuasa hukum Pegi Setiawan, yang sempat menjadi tersangka dalam kasus tersebut.
Menurut Hotman, Pegi Setiawan adalah korban dalam kasus ini dan ia berkomitmen untuk membantu Pegi mendapatkan keadilan. “Saya melihat banyak kejanggalan dalam proses hukum yang dijalani Pegi. Ini harus diusut tuntas agar keadilan benar-benar ditegakkan,” kata Hotman dalam sebuah wawancara. Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa ada pihak-pihak yang mencoba memanipulasi kasus ini untuk keuntungan pribadi.
Deddy Corbuzier
Deddy Corbuzier, melalui podcast bersama Tsamara DKI, aktif mengangkat isu-isu terkait kasus Vina Cirebon yang kembali memanas. Dalam beberapa episode podcast-nya, Deddy menunjukkan kepeduliannya dengan membahas berbagai kejanggalan yang ditemukan dalam proses hukum kasus ini.
Bersama Tsamara, mereka mengupas tuntas kronologi kasus, mulai dari penemuan jasad Vina dan Eky, penetapan tersangka Pegi Setiawan, hingga pembebasannya melalui praperadilan.
“Ini bukan hanya tentang mencari siapa yang salah, tetapi juga memastikan bahwa keadilan ditegakkan untuk semua pihak,” ujar Deddy dalam salah satu episodenya. Mereka juga tidak segan untuk mengkritisi keputusan pengadilan yang dianggap tidak adil dan tidak mencerminkan rasa keadilan bagi keluarga korban.
Olivia Lubis Parapat
Aktris senior Olivia Lubis Parapat turut menunjukkan kepeduliannya terhadap kasus Vina Cirebon yang kembali memanas. Ia menyatakan rasa prihatinnya atas tragedi yang menimpa Vina dan keluarganya, serta menyatakan dukungannya untuk perjuangan mereka dalam mencari keadilan.
“Ini adalah tragedi yang menyakitkan, dan kita semua harus peduli. Keadilan harus ditegakkan dan pelaku harus dihukum seadil-adilnya,” kata Olivia melalui akun media sosialnya.
Olivia memanfaatkan media sosialnya untuk menyuarakan pendapatnya dan mengimbau masyarakat untuk ikut memperhatikan kasus ini. Ia juga berharap agar tekanan publik dapat mendorong penegak hukum untuk bekerja lebih transparan dan adil.
Uya Kuya
Uya Kuya, seorang presenter dan entertainer, juga menunjukkan kepeduliannya terhadap kasus Vina Cirebon yang melibatkan nama Pegi Setiawan. Ia mengundang Pegi Setiawan, yang sempat menjadi tersangka dalam kasus tersebut, ke acaranya untuk menceritakan kronologi kejadian dan pengalamannya selama tersandung kasus tersebut. Dalam acara tersebut, Pegi menceritakan detail tentang penangkapannya, proses hukum yang ia jalani, dan perasaannya setelah dibebaskan.
“Saya ingin memberikan Pegi platform untuk berbicara, agar masyarakat bisa mendengar langsung dari dirinya,” kata Uya Kuya. Selain itu, Uya juga mewawancarai kuasa hukum Pegi untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang kasus ini. Dalam beberapa kesempatan, Uya mengungkapkan rasa prihatinnya atas apa yang dialami Pegi dan berharap agar pelaku sebenarnya di kasus Vina Cirebon dapat segera ditangkap dan dihukum.
Suara Susno Duadji
Salah satu yang lantang bersuara bahkan dijadikan saksi ahli yang dihadirkan adalah mantan Kabareskrim Polri, Komjen Pol (Purn) Susno Duadji.
Usai memberikan keterangannya di hadapan majelis hakim, Susno pun menyampaikan pendapatnya tentang kasus yang terjadi delapan tahun lalu itu.
‘’Kalau mau dikatakan kecelakaan, kan sudah ada buktinya dan sudah divonis oleh Polres Sumber (Polresta Cirebon) ya, itu kecelakaan. Sampai sekarang, perkara kecelakaan itu tidak pernah dilimpahkan, tidak pernah dibatalkan,’’ ujar Susno.
Namun kemudian, kematian Vina dan Eky dinyatakan akibat pembunuhan, yang masuk pada wilayah hukum Polres Cirebon Kota (Polres Ciko).
‘’Nah, pembunuhan itu, ya silakan ada buktinya apa tidak? Ada TKP-nya apa tidak? TKP-nya dimana? Buktinya apa? Nah, silakan mereka berdebat di dalam. Bukti, saksi, saling bertentangan.
Bukti ahli, berupa visum tidak menunjukkan secara langsung. CCTV, sidik jari dan lainnya tidak ada. Silakan, aku tidak bisa menentukan ini pembunuhan
Suara Unik Kang Dedi Mulyadi
Kang Dedi Mulyadi (KDM) punya pendapat yang unik, namun cukup telak menyindir berbagai pihak terkait kasus Vina Cirebon.
Menurutnya, gonjang-ganjing Indonesia gegara kasus Vina ini disebabkan oleh seorang anak yang lulus SD (Sekolah Dasar) di usia 17 tahun.
“Kasus Vina Cirebon yang membuat kegaduhan ini gara-gara anak yang tamat SD nya saja di usia 17 tahun,” tutur KDM, Sabtu, 14 Juli 2024.
Dedi Mulyadi menyebutnya bahwa kasus Vina Cirebon merupakan “karya ilmiah” anak yang empat kali tinggal kelas atau tidan naik kelas saat duduk di bangku SD.
Anak yang tidak naik kelas sampai empat kali di SD itu ialah Sudirman, merupakan salah satu dari tujuh terpidana kasus Vina Cirebon dengan vonis seumur hidup.
Sudirman dikenal sebagai anak yang mengalami keterbelakangan intelektual. Dibuktikan dengan selama duduk di bangku SD, tidak naik kelas sampai empat kali.
Namun saat Pegi Setiawan lulus SD, Sudirman tertinggal. Sudirman baru lulus SD di usia 17 tahun.
Penulis: Purba Handayaningrat


