Fenomena embun es belakangan begitu populer di kalangan traveler. Sensasinya yang menakjubkan membuat orang-orang memburu embun es walau tak bisa dipastikan waktu kemunculannya.
Lazimnya, embun es muncul pada musim kemarau, kisaran Juni-September. Juli dan Agustus adalah puncak potensi kemunculan embun es.
Fenomena embun es paling terkenal adalah di Dieng, Jawa Tengah. Sebab, embun es kerap kali muncul di komplek Candi Arjuna. Dengan demikian, banyak yang mengabadikannya.
Kemunculan embun es di tempat wisata adalah berkah untuk pelaku wisata. Pengunjung membeludak, penginapan penuh, sampai-sampai banyak yang tak kebagian kamar.
Selain di Dieng, ternyata embun es juga kerap muncul di tempat lain. Kedua tempat tersebut adalah Lereng Semeru, Lumajang, Jawa Timur dan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.
Potensi Munculnya Embun Es di Lereng Semeru dan TN Bromo-Tengger
1. Lereng Semeru, Lumajang, Jawa Timur
Fenomena embun es pernah terjadi tahun lalu di lereng Gunung Semeru, tepatnya di Danau Ranu Pani.
Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Miming Saepudin mengatakan, meski fenomena embun es bisa juga terjadi di lereng Semeru, namun potensinya masih lebih kecil dibanding Dieng.
2. Taman Nasional Bromo
Prakirawan Cuaca BMKG, Agita Vivi mengatakan, berdasarkan laporan BMKG, daerah lain yang berpotensi terjadi fenomena embun es selain Dieng dan Semeru adalah Kawasan Nasional Bromo, di Jawa Timur.
Menurut Vivi, hal tersebut disebabkan karena oleh udara dingin yang datang dari Australia. Jika dilihat dari data dan potensi udara dingin dari Australia yang menjadi penyebab fenomena es ini, wilayah Jawa umumnya lebih berpotensi jika dibandingkan dengan pulau yang lain.
Memperkirakan Kemunculan Embun Es
Deputi Bidang Klimatologi (BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan Fenomena embun es muncul saat suhu udara sangat dingin dan embun yang terkondensasi membeku. Akibatnya, lapisan es yang muncul akan menutupi tumbuhan dan permukaan tanah.
Fenomena embun es berlangsung pada periode waktu terbatas, terutama saat musim kemarau (Juni – Oktober). Walaupun Indonesia merupakan negara tropis dengan iklim hangat (warm climate), frost dapat terjadi pada wilayah dataran tinggi apabila beberapa kondisi cuaca terpenuhi.
“Fluktuasi kejadian fenomena embun es Dieng ini diperkirakan juga dipengaruhi oleh adanya fenomena iklim global seperti El Nino dan La Nina serta adanya perubahan iklim,” ujar Ardhasena, melansir situs bmkg.go.id.
Di sisi lain, akibat cuaca ekstrem yang menghasilkan embun es di dataran tinggi Dieng, Ardhasena berujar fenomena ini memiliki dampak negatif yang perlu dipertimbangkan.
Pada sektor pertanian, menyebabkan tanaman menjadi layu, mati dan mengering. Fenomena ini juga berdampak pada kondisi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah setempat.
Namun, di balik dampak buruknya, fenomena frost meninggalkan keunikan yang dapat dijadikan wisata bagi masyarakat.
“Jika fenomena kemunculan embun es ini dapat dikelola dan dipromosikan dengan baik, dapat menjadi potensi wisata unik di Dieng yang dapat mendatangkan lonjakan kunjungan wisatawan yang signifikan dan meningkatkan perekonomian lokal,” ungkap Ardhasena.


