Kampung Gajah Wonderland, terletak di ketinggian Kota Bandung, merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat populer di masa lalu.
Mengutip video dari kanal YouTube @Ilhamschode, Kampung Gajah dibuka pada tahun 2010 dan segera menjadi favorit masyarakat kala itu.
Dengan luas area 36 hektare yang menampung lebih dari 30 wahana permainan, tempat ini menawarkan kegembiraan tak terlupakan.
Kala itu pengunjung rela antre mengular hingga 3 kilometer di Jalan Sersan Bajuri dan Jalan Dr Setiabudhi untuk menikmati berbagai atraksi yang tersedia.
Sementara, dikutip dari berbagai sumber, pada masa kejayaannya, harga tiket masuk hanya Rp10.000, yang kemudian meningkat menjadi Rp15.000 hingga Rp20.000 pada akhir pekan.
Tiket terusan untuk menikmati semua wahana ditawarkan seharga Rp150.000 hingga Rp200.000. Kampung Gajah pada saat itu penuh dengan tawa dan keceriaan, menjadi tempat yang sangat dinantikan oleh keluarga dan wisatawan.
Kemerosotan yang Drastis
Namun, seiring berjalannya waktu, pesona Kampung Gajah mulai memudar. Memasuki tahun 2014, jumlah pengunjung mulai menurun drastis.
Pengelola menghadapi masalah finansial dan berencana untuk menjual tempat tersebut. Tragedi datang pada 14 September 2016, ketika pemiliknya meninggal dunia. Pada Desember 2017, pengadilan memutuskan Kampung Gajah Wonderland bangkrut, dan operasionalnya dihentikan pada Mei 2018.
Sejak saat itu, Kampung Gajah berubah menjadi tempat yang seakan ditinggalkan. Taman bermain yang dulunya ramai kini tertutup oleh ilalang tinggi dan rerumputan liar.
Suara ceria pengunjung telah berganti dengan keheningan yang menyelimuti area tersebut, hanya dipecahkan oleh desiran angin yang menyapu dedaunan.
Kondisi Terkini dan Kenangan yang Tersisa
Meskipun Kampung Gajah Wonderland telah resmi ditutup, tempat ini masih menarik perhatian, terutama bagi kalangan muda.
Mereka datang bukan untuk menikmati wahana yang sudah lama tidak berfungsi, tetapi untuk bernostalgia atau mengeksplorasi cerita-cerita mistis yang beredar di media sosial.
Kampung Gajah kini sering dianggap sebagai objek wisata horor, berkat kondisinya yang mencekam.
Sonny Ginanjar, mantan Human Resources Manager Kampung Gajah, menjelaskan bahwa penurunan pengunjung disebabkan oleh kemunculan berbagai kompetitor baru dan penurunan kualitas pelayanan.
“Salah satu penyebabnya adalah munculnya tempat wisata baru di Bandung utara yang tumbuh pesat,” ujarnya.
Meskipun tidak lagi menjadi destinasi utama, Kampung Gajah tetap memiliki tempat khusus dalam ingatan banyak orang, sebagai bagian dari sejarah dan karakter Kota Bandung.
Kampung Gajah kini mungkin hanya menyisakan kenangan, tetapi kisahnya tetap hidup melalui video-video seperti yang ditayangkan di kanal YouTube.
Tempat ini, meskipun telah berubah drastis, tetap menyimpan cerita dan memori yang berharga bagi banyak orang.
Penulis: Purba Handayaningrat


