Anies Rasyid Baswedan lahir pada 7 Mei 1969 di Kuningan, Jawa Barat dari pasangan Awad Rasyid Baswedan dan Aliyah. Ia merupakan salah satu tokoh nasional yang memiliki rekam jejak kepemimpinan sejak kecil.
Saat mengenyam pendidikan di SD Negeri 5 Laboratori 2 dan SMP Negeri 5 Yogyakarta, Anies hampir selalu dipilih menjadi ketua kelas dan Pramuka. Saat SMP, pengalaman organisasinya ditambah dengan Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
Anies terpilih menjadi Wakil Ketua OSIS SMA Negeri 2 Yogyakarta saat masih kelas 10. Di tahun keduanya menempuh pendidikan SMA, Anies terpilih menjadi Ketua OSIS SMA 2 Yogyakarta tahun 1986.
Pada tahun yang sama, Anies sebagai ketua OSIS di sekolah mengikuti pelatihan kepemimpinan di Jakarta. Pelatihan tersebut diikuti oleh 300 ketua OSIS se-Indonesia. Saat pelatihan, diadakan pemilihan ketua OSIS se-Indonesia, dan Anies terpilih menjadi pemimpin OSIS di tingkat nasional.
Jejak kepemimpinan Anies berlanjut semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Anies. Pada 1990, ia terpilih menjadi Koordinator AFS International yang bertugas mengoordinasi proses wawancara dan pemilihan siswa SMA yang mendaftar untuk berpartisipasi dalam program pertukaran pelajar AFS.
Tahun berikutnya, dia memimpin kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) UGM. Sebagai ketua ospek, Anies memimpin dan menggordinasikan kegiatan orientasi bagi 4.500 mahasiswa baru UGM yang melibatkan 500 panitia.
Kesuksesan Anies dalam memimpin organisasi membawa dia menjadi Ketua Senat Fakultas Ekonomi UGM. Di bawah kepemimpinannya, Anies mengaktifkan kembali peran organisasi kemahasiswaan sebagai salah satu motor pergerakan mahasiswa setelah dibekukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lewat kebijakan NKK/BKK di tahun 1978.
Anies terpilih sebagai Ketua Senat UGM pada 1992. Ia memimpin organisasi kemahasiswaan terbesar di UGM dengan jumlah mahasiswa saat itu mencapai 35.000 orang.
Menjadi Akademisi
Dirangkum dari laman aniesbaswedan.com, setelah lulus dari UGM, Anies melanjutkan pendidikannya di School of Public Policy di University of Maryland, Amerika Serikat. Ia meraih gelar PhD di bidang Kebijakan Publik dari Northen Illinois University, Amerika Serikat dengan disertasi tentang otonomi daerah dan demokrasi di Indonesia.
Sebelum terjun ke dunia politik, Anies dikenal sebagai akademisi. Tugas Anies selama menjadi dosen tidak hanya mengajar dan melakukan penelitian. Dia aktif di berbagai organisasi. Kemudian diangkat menjadi Rektor Universitas Paramadina (2007-2014) pada usia 37 tahun. Ia adalah rektor termuda di Indonesia saat itu.
Sepanjang kariernya sebagai akademisi, ia telah menerima banyak penghargaan bergengsi dari lembaga dalam negeri maupun internasional. Beberapa di antaranya adalah salah satu dari 100 Intelektual Dunia oleh Majalah Foreign Policy (2008), masuk dalam 20 Tokoh Masa Depan Dunia oleh Majalah Foresight (2009), dan masuk dalam 500 Muslim Paling Berpengaruh versi Royal Islamic Strategic Studies Center, Yordania (2010).
Kesuksesannya sebagai akademisi yang cerdas membuat dia diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 27 Oktober 2014. Namun, jabatan tersebut tidak berlangsung lama. Posisi Mendikbud digantikan oleh Muhadjir Effendy pada 27 Juli 2016.
Terjun ke Politik
Anies mulai terjun ke politik praktis adalah ketika dia diusung oleh Partai Gerindra, PKS, Perindo, dan Idaman di Pilkada DKI Jakarta 2017. Pada pemilihan kepala daerah tersebut Anies dipasangkan dengan Sandiaga Salahuddin Uno. Anies-Sandi menang dari pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat pada putaran kedua.
Ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta (2017-2022), Anies dipilih oleh para gubernur se-Indonesia untuk menjadi Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi se-Indonesia. Dia juga dipilih oleh C-40 (Asosiasi kota besar sedunia) menjadi Wakil Ketua Dewan Pengarah C-40 bersama Wali Kota London dan Gubernur Tokyo. Anies adalah orang Indonesia pertama yang menduduki posisi kepemimpinan pada asosiasi tersebut.
Selama menjadi orang nomor 1 di DKI Jakarta, dia mendapat banyak penghargaan dari level nasional hingga internasional. Satu di antaranya penghargaan Lee Kuan Yew Exchange Fellow ke-72 dari Lee Kuan Yew Exchange Fellow (LKYEF) Pemerintah Singapura.
Setelah menyelesaikan tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta 2017-2022, Anies yang tidak berpartai diusung oleh PKS, PKB, dan NasDem untuk berkontestasi di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Sayangnya, mantan Mendikbud itu kalah dari pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Kini, Anies akan kembali melanjutkan kejayaannya sebagai pemimpin Jakarta. Anies bersama Rano Karno diusung oleh PDIP, Hanura, dan Buruh untuk bertarung di Pilkada Jakarta 2024.
Penulis: Chairil Mustami


