Presiden Joko Widodo kembali menjadi perbincangan publik. Tapi, kali ini bukan terkait dengan isu-isu panas yang berkembang, semisal putusan MK atau gaya hidup hedon anak bungsunya, Kaesang Pangarep dan menantu tersayang, Erina Gudono.
Jokowi jadi bahan olok-olok karena pura-pura wawancana cegat alias doorstep.
Mula-mula warganet tak menyadari bahwa wawancara Presiden Jokowi adalah setting-an. Belakangan, sejumlah tokoh yang aktif di media sosial dan praktisi media mengulas sesi wawancara Jokowi yang diduga sengaja diset bak wawancara betulan dengan sejumlah awak media Istana.
Pada wawancara pertama, Jokowi memberikan keterangan terkait isu yang hangat kala itu, putusan Mahkamah Konstitusi. Isu ini ramai lantaran dikaitkan dengan rencana si bungsu, Kaesang yang hendak maju Pilkada namun terkendala batas usia minimal.
Sepekan kemudian, pada 27 Agustus, Jokowi memberikan keterangan soal isu krusial lainnya, yakni UU Perampasan Aset hingga permintaan khususnya yang ‘humanis’, untuk membebaskan demonstran, apabila masih ada yang ditahan aparat.
Ada kejanggalan yang begitu terasa dalam sesi wawancara Jokowi. Tak ada kekhasan doorstep yang riuh, pertanyaan wartawan tak terkonsep dan terkesan buru-buru. Wawancara cegat itu terlalu tenang, lengang kalau bisa dibilang.
Jika diperhatikan dengan teliti, dalam wawancara 21 Agustus dan 27 Agustus 2024, tak ada mikrofon media televisi yang berebut tempat agar suara narasumber bisa ditangkap jelas. Mikrofon yang disodorkan adalah mikrofon biasa. Sementara, tangan-tangan ‘wartawan’ lainnya menyodorkan ponsel sebagai alat rekam.
Model wawancara doorstep kedua lebih pura-pura lagi. Seolah-olah wartawan menyapa ketika sedang menunggu presiden. Jokowi yang berjalan mendekati kamera menjawab juga, “Selamat sore”.
Lantas, wawancara pun berjalan dengan sangat tertib. Anehnya, pertanyaan dan jawaban itu tanpa disusul dengan pendalaman, lazimnya wawancara wartawan terkait sesuatu yang begitu penting. Banyak sudut pandang yang biasa wartawan cecar untuk menjadi bahan pemberitaan.
Perlu diketahui, Pada 27 Agustus 2024, Jokowi memberikan keterangan soal aksi demonstrasi atas pengesahan revisi Undang-Undang Pilkada oleh DPR. Dalam keterangannya juga Jokowi menagih langkah cepat DPR dalam Rancangan Undang Undang Perampasan Aset. Jokowi juga meminta agar kepolisian membebaskan demonstran yang ditahan.
Komentar Menohok Praktisi Media

Sontak pura-pura wawancara ini pun jadi bahan gunjingan warganet. Dua di antaranya, cukup dikenal, yakni pegiat, Puthut Eko Arianto dan Co Founder Watchdoc & Koperasi Indonesia Baru, Dandhy Laksono.
Terlepas dari isu yang dibahas Jokowi, Dandhy Laksono menyindir wawancara doorstop yang begitu tenang, dengan Jokowi yang berkali-kali berkontak mata dengan kamera utama.
“Kalau memang penting dan genting, kenapa soal Perampasan Aset gak bikin Perppu seperti waktu Ormas dan Omnibus Law?
Btw, hebat camera personnya, “doorstep interview” tapi bisa anteng eye level bahkan dapat eye contact khusus,” cuit Dhandy Laksono di X @Dandhy_Laksono, 28 agustus 2024, dikutip Jumat (30/08/2024).
Ratusan me-retweet unggahan Dandhy. Beberapa di antaranya turut mengomentari video pura-pura wawancara itu.
“Doorstep tapi by briefing ini, jadi set nya sangat proper hehe,” tulis @jackjackparrr.
Lain lagi dengan Puthut EA, salah satu pendiri sekaligus kepala suku Mojok.co. Puthut menyoroti betapa mudahnya mengetahui bahwa wawancara itu hanyalan settingan.
“Pengen ketawa… Kok bisa ya seperti seolah-olah diwawancara beneran. Kan mudah ketahuan kalau itu setingan ,” tulis Puthut di akun X-nya, @puthutea.
Unggahan Puthut ini juga di-retweet dan dikomentari ratusan pengguna X.
“Jangan keras-keras,mas Put Kita sudah tahu xixixixi,” balas @SuarSleman.
Komentar ‘pura-pura wawancara’ itu pun membanjiri akun Instagram @Jokowi. Dalam unggahan yang berisi materi tentang aksi demonstrasi mahasiswa yang menolak RUU Pilkada dan berlanjut meminta pelepasan demonstran yang ditahan kepolisian. Tanya jawab lalu berlanjut ke isu RUU Perampasan Aset yang muncul bersamaan dengan aksi massa menolak RUU Pilkada.
Di dalam kolom komentar akun @Foll**a*b** menuliskan, “Itu pns ngapain akting wartawan” sambil memberikan emoticon tertawa.
Sontak komentar tersebut memancing komentar lainnya. Misalnya saja akun @usa***yu yang menulis, “oo jadi kenyataannya gt ya? Banyak pns pura2 jadi wartawan? Hmmmm miris”
Isu Sensitif
Informasi yang diperoleh IDDB, Jokowi memang kerap menghindari wartawan saat ada isu sensitif. Semisal, saat putusan MK dan soal perampasan aset.
Terlebih, apabila sedang ada isu ‘miring’ terkait dengan keluarga atau koleganya. Barangkali, doorstep interview pura-pura ini menjadi jalan Jokowi untuk memberikan keterangan resmi.
Apapun itu, Jokowi kini punya gaya baru. Memberikan penjelasan tentang sebuah hal penting dan sensitif dengan sesi pura-pura wawancara. Tak berlebihan jika menyebut Jokowi sebagai ‘Presiden rasa Konten Kreator’.


