Mantan Gubernur Jakarta 2017-2022, Anies Baswedan baru saja merilis video tentang rasa penyesalan tidak mengikuti pilkada hingga langkah ke depan setelah dipastikan gagal maju sebagai calon gubernur. Video tersebut diunggah di YouTube Anies Baswedan dan sudah ditonton ratusan ribu kali.
Ada yang menarik perhatian dari video tersebut. Bukan hanya tentang isinya, tapi juga latar belakang saat Anies memberikan pernyataan. Di video itu, Anies duduk di sebuah joglo dengan latar belakang lukisan Pangeran Diponegoro, tongkat, dan YouTube Creator Awards Gold

Anies menjelaskan, lukisan Pangeran Diponegoro tersebut sudah sejak lama dipajang di tempat itu, bukan di-setting untuk kebutuhan shooting video.
“Ya, memang selalu ada di situ dari dulu. Kan bukan barang baru, selalu ada di sana. Pokoknya lukisan itu sudah lama di situ,” kata Anies di kawasan Jakarta Selatan, Jumat (30/8/2024).
Dalam YouTube-nya, Anies pernah menjelaskan lukisan Pangeran Diponegoro dibuat oleh pelukis Rosid dari Bandung di atas kain batik. Lukisan itu kemudian diserahkan kepada Anies dan dipajang di joglo bekas Pesantren Tegalsari yang berdiri tahun 1743.
“Saat ketemu bilang, ‘Pak Anies kelihatannya lukisan ini cocok buat Pak Anies’. Saya bilang, Alhamdulillah terima kasih, saya pasang’. Dan ternyata rumah ini tempat waktu itu Pondok Pesantren Tegal Sari dan Pangeran Diponegoro pernah belajar di Pesantren Tegalsari,” tutur Anies, dikutip Sabtu (31/8/2024).
Sementara, tongkat yang masuk dalam frame video Anies adalah Tombak Cakra Kotagede yang diterima mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu saat ziarah ke makam Raja-raja Mataram Islam pada 2023.
Setelah video tersebut diunggah, sebagian publik mengingatkan tombak cakra tersebut pada tongkat Pangeran Diponegoro. Dari desain yang dilihat kejauhan, tombak cakra memang sekilas mirip dengan tongkat Pangeran Diponegoro yang pernah dipegang Anies.
Anies memegang tongkat yang bergelar Ratu Adil Jawa “Erucokro” itu saat menerima Pusaka Pangeran Diponegoro dari keluarga Baud tahun 2015 yang disimpan sejak tahun 1834. Penyerahan tongkat Pangeran Diponegoro digelar di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis (6/2/2015) silam.

“Atas nama pemerintah dan bangsa Indonesia, kami terima tongkat ini dan kami akan rawat dan kami jadikan ini sebagai sebuah artefak bersejarah yang bisa dilihat oleh semua anak bangsa lintas waktu,” tutur Anies saat mengisahkan tongkat tersebut di YouTube-nya.
Sekilas Tentang Tongkat Pusaka Pangeran Diponegoro

Tongkat Pusaka Kiai Cokro diyakini pernah dimiliki oleh Pangeran Diponegoro. Menurut mitos yang berkembang di masyarakat Jawa, siapa yang memegang Cakra Pangeran Diponegoro akan mendapatkan kekuatan dan pengaruh tertentu dengan menjadi seorang pemimpin.
Namun, sejarawan Rushdy Hoesein belum menemukan bukti apakah Pangeran Diponegoro memiliki tongkat atau tidak. Pasalnya, dalam foto dan lukisan di Museum Diponegoro pun tidak pernah muncul Pangeran Diponegoro memiliki tongkat.
Jika melihat tongkat Pangeran Diponegoro yang pernah disentuh Anies, menurut Rushdy tongkat tersebut semacam alat kelengkapan perang, bukan tongkat yang dipakai untuk berjalan.
Ada satu arsip yang tersimpan di Arsip Nasional Belanda mengonfirmasi jika tongkat itu adalah milik Pangeran Diponegoro. Arsip itu berupa nota penyerahan pusaka tersebut dari Pangeran Notoprojo kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jean Chretien Baud tertanggal 4 Desember 1834.
Mengutip laman Kemdikbud.go.id, tongkat Pangeran Diponegoro diberikan kepada leluhur Baud pada 1834. Tongkat Kanjeng Kiai Tjokro (Cakra) tersebut diterima leluhur Baud sebagai hadiah dalam sebuah periode yang bergejolak akibat adanya persaingan politik dan hubungan kekuasaan kolonial.
Seiring berjalannya waktu dan generasi yang silih berganti, sejak ayahanda ahli waris Jean Chretien Baud meninggal dunia pada 2012, tongkat tersebut disimpan di rumah saudara perempuan bernama Erica.
Pada Agustus 2013, pihak keluarga dihubungi oleh Harm Steven dari Rijksmuseum yang menyampaikan tentang asal usul tongkat itu. Setelah ditelusuri mengenai asal usul tongkat tersebut, sejumlah ahli memastikan tongkat tersebut pernah dimiliki Pangeran Diponegoro.
Pihak keluarga sadar betapa pentingnya penemuan itu dan tanggung jawab untuk merawat tongkat pusaka tersebut. Setelah mengetahui makna dan konteks pemberian tongkat pusaka tersebut dari leluhur, pihak keluarga sebagai ahli waris memutuskan memberikan tongkat pusaka Pangeran Diponegoro kepada Bangsa Indonesia.
Anies Ziarah ke Makam Pangeran Diponegoro

Tak hanya menyimpan lukisan dan memegang tongkat pusakanya, Anies juga pernah menziarahi makam Pangeran Diponegoro di Kecamatan Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Saat itu, Anies ziarah bersama Muhaimin Iskandar yang didampingi istrinya.
“Pangeran Diponegoro ini adalah inspirasi perjuangan yang ketika beliau bergerak bukan hanya menggerakkan pasukannya, tapi juga seluruh rakyat tanah Jawa pada waktu itu, untuk memilih menjadi bagian dari gerakan perlawanan,” kata Anies di kompleks pemakaman, Minggu (24/9/2023).
Anies mengatakan, Pangeran Diponegoro adalah seorang pejuang keadilan. Sosoknya selalu berada di depan dalam membela hak-hak rakyat yang terpinggirkan, terutama soal pajak dan penindasan terhadap rakyat kecil.
“Kami merasa bersyukur bisa berziarah ke sini. Dalam sejarah Indonesia dijelaskan bahwa akibat pemberontakan Pangeran Diponegoro, Belanda menjadi bangkrut dan akibat bangkrut muncul politik tanam paksa,” ujar Anies.
Dampak politik tanam paksa adalah munculnya politik etis untuk membayar balik atas penindasan kejam yang dilakukan Belanda. Kata Anies, politik etis itulah yang menghasilkan anak-anak muda Indonesia yang terdidik.
“Lewat pendidikan itulah muncul gerakan politik modern yang berujung pada kemerdekaan. Jadi, kemerdekaan dulunya adalah Perang Jawa, Perang Diponegoro yang kita rasakan semua dampaknya sampai sekarang. Jadi, kami memberikan rasa hormat dan mudah-mudahan ini menjadi inspirasi buat perjuangan,” imbuh mantan Mendikbud itu.
Penulis: Chairil Mustami


