Kodokushi dan Persepsi Hidup di Panti

Date:

Peristiwa mengenaskan terjadi di Jonggol, Jawa Barat. Sepasang lansia meninggal dunia di rumah berhari-hari tanpa diketahui oleh tetangganya, sampai bau busuk menyebar ke seluruh kompleks perumahan. Padahal pasangan Hans Tomasoa (83) dan Rita Timasoa (72) konon mempunyai 3 orang anak.

Uniknya, meski kematian kedua lansia ini sudah menyebar lewat media dan viral, namun saat itu ketiga anaknya juga belum muncul.

Peristiwa sebelumnya juga terjadi di Palangkaraya. Seorang kakek ditemukan tak bernyawa setelah warga mencium bau tak sedap dari rumahnya

Di Jepang kejadian orang meninggal sendirian tak diketahui siapapun selama dalam jangka waktu tertentu disebut kodokushi. Di negeri Doraemon ini kodokushi semakin sering terjadi.

Data dari Badan Kepolisian Nasional Jepang menunjukkan periode Januari hingga April 2014 saja terdapat 17 ribu kasus lansia yang meninggal dalam kondisi sendiri, tanpa teman.

Di Indonesia kasus kematian sendiri ini bisa dihindari sedini mungkin. Salah satunya dengan tinggal di panti wredha. Atau kalau memang kondisi memungkinkan bagi lansia yang tinggal sendiri bisa menyewa perawat lansia.

Persepsi soal Panti

Tapi persepsi soal panti wredha bagi orang-orang yang masih berpikiran konvensional dianggap negatif. Mereka merasa dikirim ke tempat pembuangan. Di asingkan!. Dan tragisnya anak-anaknya akan dituduh sebagai anak durhaka karena tak mau merawat orangtua kandungnya. Beberapa lansia ada yang menuntut anaknya untuk mengurus dirinya. Karena memang niatnya mempunyai anak agar kelak saat lansia bisa merawat dirinya.

Padahal tinggal dengan anak itu akan terjadi banyak benturan. Apalagi anaknya sudah berumah tangga dan punya anak. Masalah akan bertambah ruwet dan absurd. Ini bukan masalah anak durhaka seperti Malin Kundang. Namun karena memang faktanya ada begitu banyak perbedaan antara anak dan orangtua.

Karena usia yang terpaut jauh banget, otomatis gaya hidup, keyakinan dan kebiasaan sehari-hari pun sudah tidak sama: waktu tidur, pilihan menu makanan dan lainnya yang bisa menimbulkan ketegangan.

Masalah lain yang memicu bentrokan adalah soal pola pengasuhan dan pendidikan anak. Bagi lansia yang tidak update informasi, mereka akan sotoy dan merasa paling tahu semua hal karena merasa telah berpengalaman lebih lama. Tentu saja dia akan ngotot menerapkan pengetahuan yang dimilikinya meskipun telah expired.

Tantangan paling krusial adalah soal keuangan. Bagaimana pembagian tanggungjawabnya? Apakah seluruh kebutuhan lansia menjadi tanggun jawab anaknya? Ini akan menjadi sumber konflik karena tidak ada kejelasannya. Tidak hanya konflik antara anak dan orangtua, tapi juga orangtua dan menantu.

Lansia yang tinggal serumah bersama anaknya kemungkinan privasinya berkurang. Apalagi kalau menumpang, rumah yang ditempati bukan rumahnya sendiri. Diam-diam perang dingin bisa terjadi.

Lansia biasanya egonya tinggi. Karena lebih tua, ia merasa paling berpengalaman. Efeknya dia menjadi otoriter. Segala permintaanya harus dituruti. Semua kepentingannya harus didahulukan. Celakanya ada yang merasa bahwa mendapat perlakuan istimewa itu adalah hak yang harus dia terima dari anak.

Banyak orangtua yang masih menganggap anaknya tetap bocah imut, polos dan belum pintar meski anaknya sudah punya anak. Tak jarang ia nyerocos memberi nasihat-nasihat usang dengan menceritakan petualangan masa mudanya saat berada di puncak kejayaan. Dan ini dilakukan berulang-ulang tak kenal waktu.

Karena itu kalau tidak bisa memahami dan mengetahui cara berkomunikasi yang tepat, efektif dan efisien hidup serumah bersama lansia itu seperti meditasi: harus piawai mengatur nafas agar bisa memanaj emosi sehingga bisa tetap tenang, sabar dan fokus dan tidak dendam.

Apalagi jika lansia sudah benar-benar sepuh dan kesehatanya mulai terganggu. Misalnya mengidap dimensia, amnesia dan penyakit fisik lainnya. Perlu seseorang dengan keahlian khusus untuk mendampingi dan merawatnya.

Namun jika memang benar-benar tidak memungkinkan untuk tinggal serumah dengan anak, alternatif lain terbaik adalah tinggal di panti Wredha. Meskipun ada pejabat yang marah-marah, menganggap konsep panti wredha tidak sesuai dengan budaya kita. Mirip cagub yang pengen pamer.

Padahal panti wredha itu tak seburuk yang dipersepsikan banyak orang, terutama kaum boomer. Tinggal di panti wreda, lansia akan memperoleh pelayanan yang memadai dan ini akan lebih menyehatkan secara fisik maupun emosional.

Ada banyak alasan kenapa lansia lebih nyaman tinggal di panti wredha dibanding tinggal serumah dengan anaknya.

Di panti, lansia akan menerima perawatan medis dan dari tenaga profesional terlatih yang memahami dengan baik kondisi kesehatan lansia. Perawat, dokter, dan terapis, mereka telah berpengalaman dalam menangani penyakit kronis, demensia, serta kondisi pasca-operasi, sehingga layanan yang diberikan akan tepat sasaran dan konsisten.

Biasanya panti wredha menyelenggarakan berbagai aktivitas sosial dan rekreatif seperti senam ringan, permainan kelompok, seni kerajinan tangan, serta musik. Program-program ini dirancang untuk menjaga para lansia tetap aktif dan terhibur sekaligus meningkatlan interaksi sosial guna mencegah rasa kesepian dan isolasi yang kerap terjadi saat tinggal di rumah.

Yang pasti, lingkungan di panti wredha lebih aman karena dilengkapi dengan fitur keamanan seperti lantai anti-slip, pegangan tangan, alarm darurat, serta pemantauan selama 24 jam sehari.

Fitur-fitur ini bertujuan untuk mengurangi risiko jatuh atau cedera sehingga menciptakan lingkungan lebih aman dibandingkan tempat tinggal biasa yang mungkin belum mengalami modifikasi khusus untuk kebutuhan lansia.

Panti wredha juga sering menawarkan layanan rehabilitasi seperti fisioterapi dan terapi okupasi, membantu lansia pulih dari cedera atau operasi. Layanan ini mendukung pemulihan yang lebih cepat dan peningkatan mobilitas.

Di sini juga lansia berpeluang untuk berinteraksi dengan sesama rekan sebaya sehingga dapat mengurangi rasa kesepian maupun isolasi sosial. Mereka bisa membangun hubungan baru dalam komunitas yang saling memahami.

Bisa saling curhat pengalaman masa lalu, pamer kesuksesan anak-anaknya atau kegiatan yang sesuai hobi, namun tidak membahayakan.

Dan bagi lansia yang jomblo bisa-bisa saling jatuh cinta. Kenapa tidak?

Soal menu makanan, panti wredha menyediakan makanan yang bergizi dan disesuaikan dengan kebutuhan diet khusus lansia, seperti diet rendah garam, rendah gula, atau tinggi serat. Ahli gizi memastikan bahwa makanan yang disajikan mudah dikonsumsi dan dicerna, membantu menjaga kesehatan lansia. Jika tinggal serumah dengan anak, kemungkinan layanan seperti ini tidak akan bisa didapatkan.

Jika lansia sudah sepuh dan fisiknya rapuh, tak mampu lagi mengurus kebutuhan dasarnya, di panti terdapat layanan personal pribadi seperti mandi, berpakaian, dan kebersihan pribadi dengan penuh perhatian.

Panti wredha menyediakan jadwal kegiatan harian yang teratur, memberikan struktur pada kehidupan sehari-hari lansia. Rutinitas ini membantu mengurangi kebingungan dan stres, serta memberikan kepastian dan kenyamanan.

Dan menempatkan lansia di panti wredha bisa mengurangi beban tanggung jawab bagi anak-anak yang sibuk dengan pekerjaan dan keluarga mereka sendiri. Ini memungkinkan keluarga untuk tetap memberikan perhatian dan kasih sayang tanpa tekanan merawat sehari-hari secara langsung.

Memang tak semua panti wredha bisa menyediakan semua fasilitas lengkap seperti di atas. Tinggal pilih saja sesuai kamampuan finansialnya. Bagaimana kalau terkendala finansial? Tenang, semoga negara yang akan mengurusnya. Sesuai pasal Pasal 34 UUD 1945 ayat 1: Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

Dengan tinggal di panti, peristiwa memilukan seperti pasangan di Jonggol, Bogor tidak akan terulang lagi.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...