Lawang Sewu, terletak di jantung kota Semarang, adalah salah satu bangunan bersejarah yang paling terkenal di Indonesia. Dibangun antara tahun 1904 dan 1907 oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).
Gedung ini awalnya digunakan sebagai kantor pusat administrasi kereta api Belanda. Arsitektur Lawang Sewu dirancang oleh Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, dua arsitek dari Amsterdam, yang menghadirkan desain berbentuk huruf L dengan banyak jendela dan pintu untuk meningkatkan sirkulasi udara di dalam gedung.
Meskipun dikenal dengan julukan “Lawang Sewu” atau “seribu pintu,” jumlah pintu yang ada sebenarnya hanya sekitar 429. Nama ini, menurut pendapat umum, mencerminkan keagungan dan kemegahan bangunan tersebut pada zaman itu.
Seiring berjalannya waktu, Lawang Sewu telah mengalami beberapa perubahan fungsi. Pada tahun 1942, gedung ini diambil alih oleh pemerintah Jepang dan digunakan sebagai kantor Riyuku Sokyoku, yaitu jawatan transportasi Jepang.
Selama periode ini, ruang bawah tanah gedung B diubah menjadi penjara dengan eksekusi mati dilakukan di sana.
Setelah masa penjajahan Jepang berakhir, gedung ini kembali beralih fungsi, termasuk menjadi markas tentara Belanda dan kemudian kantor DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia).
Desain Unik dan Ornamen Bersejarah

Menurut informasi dari kaiwisata.id, desain Lawang Sewu mencerminkan keunikan arsitektur kolonial dengan elemen lengkung yang khas.
Bangunan ini juga dilengkapi dengan ornamen kaca patri yang diproduksi oleh Johannes Lourens Schouten, yang menggambarkan kemakmuran dan kekuasaan Belanda atas Semarang dan Batavia, serta kejayaan kereta api.
Selain itu, terdapat berbagai hiasan arsitektural lain seperti tembikar di atas balkon, kubah tembaga di puncak menara air, dan hiasan perunggu di menara.
Saat ini, Lawang Sewu berfungsi sebagai museum yang menyajikan koleksi beragam dari masa ke masa perkeretaapian di Indonesia. Koleksi ini meliputi berbagai artefak seperti seragam masinis, alat komunikasi kuno, mesin hitung, dan replika lokomotif uap. Proses pemugaran gedung juga dipamerkan di museum ini melalui foto, video, dan material restorasi.
Misteri dan Kisah Horor yang Tak Pernah Pudar

Dalam ulasan yang dipublikasikan oleh kanal YouTube @Ilhamschode, Lawang Sewu dikenal tidak hanya karena arsitekturnya yang megah tetapi juga karena kisah-kisah mistis yang menyelimutinya.
Menurut review dari kanal ini, Lawang Sewu menjadi salah satu tempat paling menyeramkan di Asia versi National Geographic pada tahun 2013. Di dalam ulasan tersebut, disebutkan bahwa Lawang Sewu seringkali menjadi lokasi acara uji nyali di televisi nasional.
Salah satu acara tersebut menampilkan penampakan-penampakan mistis dan isu bahwa beberapa peserta uji nyali meninggal dunia beberapa hari setelah acara tersebut. Meskipun kebenaran isu tersebut belum terkonfirmasi, Lawang Sewu terus dikenal dengan aura mistisnya yang kuat.
Salah satu area yang paling terkenal dengan kisah-kisah horornya adalah ruang bawah tanah, yang pada masa pendudukan Jepang digunakan sebagai penjara dan tempat penyiksaan.
Saat ini, area tersebut telah ditutup untuk umum, tetapi lorong-lorong gelap dan bau lembap yang tersisa tetap menambah kesan angker bagi pengunjung.
Lawang Sewu kini dibuka untuk umum sebagai tujuan wisata sejarah dan budaya. Gedung ini dapat dikunjungi setiap hari dari pukul 07.00 hingga 21.00 WIB. Harga tiket masuk adalah Rp20.000 untuk dewasa dan mahasiswa, Rp10.000 untuk anak-anak dan pelajar, serta Rp30.000 untuk wisatawan mancanegara.
Dengan perpaduan antara arsitektur yang megah dan kisah-kisah misterinya, Lawang Sewu menawarkan pengalaman yang unik dan memikat bagi para pengunjung yang tertarik dengan sejarah dan misteri.
Penulis: Purba Handayaningrat


