Mantan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in menghadapi tuduhan serius yang mengancam reputasi politiknya. Dia terjerat skandal dugaan suap yang dilakukan untuk membantu mantan menantunya, Seo, mendapatkan posisi strategis di maskapai penerbangan Thai Eastar Jet.
Kasus ini bermula pada tahun 2018 ketika Seo, yang tidak memiliki pengalaman signifikan di industri penerbangan, diangkat sebagai eksekutif di Thai Eastar Jet, maskapai yang didirikan oleh mantan anggota parlemen Lee Sang-jik.
Pengangkatan ini terjadi saat Moon Jae-in masih menjabat sebagai presiden, dan memicu kecurigaan akan adanya praktik kotor di balik layar.
Para jaksa menduga bahwa Seo menerima sejumlah 223 juta Won (sekitar Rp 2,5 miliar) sebagai gaji dan biaya relokasi selama periode 2018 hingga 2020. Uang ini diduga sebagai imbalan atas bantuan yang diberikan Moon kepada Lee, yang saat itu menjabat sebagai kepala Badan UKM dan Startup Korea.
Penggeledahan Rumah Moon Da-hye, Titik Balik Investigasi
Pada tanggal 30 Agustus, penyelidikan mencapai babak baru ketika jaksa menggeledah rumah putri Moon Jae-in, Moon Da-hye. Langkah ini dilakukan untuk menelusuri aliran dana yang diduga diterima oleh keluarga Moon selama masa jabatannya.
Penggeledahan tersebut menjadi bukti bahwa mantan presiden kini berada dalam pusaran penyelidikan yang semakin intens.
Menurut surat perintah penggeledahan, Moon Jae-in secara resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini, sebuah perkembangan yang mengejutkan banyak pihak di Korea Selatan.
Penyebutan nama Moon dalam konteks kriminal menjadi yang pertama kali dalam sejarah karir politiknya.
Skandal yang Mengguncang Partai dan Publik
Partai Kekuatan Rakyat (PPP) yang kini berkuasa di Korea Selatan, bersama kelompok sipil Justice People, telah mengajukan serangkaian pengaduan terhadap Moon sejak 2020. Mereka menuduh adanya praktik quid pro quo dalam pengangkatan Seo, yang dianggap sebagai bagian dari skema yang lebih besar untuk memperkaya keluarga Moon selama masa jabatannya.
Skandal ini telah mengguncang publik Korea Selatan, yang selama ini melihat Moon Jae-in sebagai sosok pemimpin yang bersih dan berintegritas.
Selain itu, penyelidikan ini juga menyeret beberapa mantan pejabat dari era pemerintahan Moon, termasuk Cho Hyun Ock, mantan sekretaris kepresidenan senior, yang telah didakwa atas dugaan penyalahgunaan kekuasaan.
Masa Depan Moon Jae-in dan Dampak Politiknya
Kasus ini berpotensi membawa dampak jangka panjang terhadap masa depan politik Moon Jae-in dan keluarganya. Dengan skandal yang semakin memanas, publik Korea Selatan kini menanti dengan waspada langkah selanjutnya dari kejaksaan. Bagaimana Moon Jae-in akan merespons tuduhan ini, dan apakah kasus ini akan membawa konsekuensi hukum yang berat, masih menjadi pertanyaan besar.
Sementara itu, Seo, yang telah diperiksa tiga kali oleh jaksa sepanjang tahun ini, terus mempertahankan haknya untuk tetap diam, menambah lapisan misteri dalam kasus yang sudah kompleks ini.
Skandal ini tidak hanya menjadi ujian bagi keluarga Moon tetapi juga menjadi cermin bagi sistem politik Korea Selatan yang terus diuji oleh isu-isu integritas dan keadilan.
Komentar Melanie Subono
Melanie Subono yang dikenal artis cukup vokal di negeri ini kembali mengutarakan kegelisahannya terhadap situasi politik di Indonesia. Unggahannya memancing serta memantik pendapat dan komentar lainnya.
Dalam unggahannya pada 2 September 2024, ia menarik paralel antara kasus mantan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, yang menjadi tersangka kasus suap karena membantu menantunya mendapatkan posisi strategis di perusahaan penerbangan, dengan kondisi di Indonesia.
Melanie menuliskan, “Tahu nggak, fakta: Mantan Presiden Korsel jadi tersangka abis ‘kasih’ jabatan buat mantunya. Pejabat-pejabat di Jepang malah bisa sampe ‘harakiri’ atau minimal mundur secara sadar sendiri begitu tahu buat salah. Gimana di Indonesia?”
Sejumlah netizen merespons dengan kritis, salah satunya berkomentar, “Tidak berlaku di negara kita… Anak bapa ya dilindungi dan bapa ditanya jawabnya saya tidak tau.”
Komentar lainnya menyoroti rendahnya budaya malu di Indonesia, “Intinya karena ‘budaya malu’ di Korea Selatan itu tinggi, kalau di sini ‘nggak punya malu’ alias muka tembok.”
Melanie Subono, yang dikenal sebagai aktivis vokal, kembali mengajak publik untuk merenungkan situasi politik dalam negeri melalui perbandingan ini.
Penulis: Purba Handayaningrat


