Kematian massal sedikitnya 50 ekor paus pilot (Globicephala macrorhynchus) di pesisir perairan Pureman, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (6/9/2024), memantik keprihatinan publik.
Ini adalah salah satu tragedi paling memilukan mamalia laut di Indonesia, bahkan dunia.
Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti jumlah paus pilot yang mati. Sebab, selain yang terdampar di pantai, diduga masih banyak paus pilot yang mati di tengah laut.
Angka 50 ekor adalah hasil perhitungan warga yang masih harus dikonfirmasi oleh pihak berwenang.
Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang mengklaim telah menerjunkan tim. Hanya saja, lokasi yang jauh dan sulitnya komunikasi membuat koordinasi begitu lambat.
Kepala Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Imam Fauzi pada Jumat malam mengatakan BKKPN belum mengetahui pasti penyebab kematian 50 mamalia laut itu.
BKKPN Kupang, Imam berujar, akan mengambil sampelnya untuk diuji di laboratorium di Denpasar agar bisa mengetahui penyebab kematiannya lebih lanjut.
Menurut Imam, kondisi wilayah dan perairan di sana cukup sulit dijangkau, sehingga BKKPN Kupang berkoordinasi dengan Polres Alor untuk melakukan indentifikasi awal. Termasuk mendata dan memastikan kondisinya di lokasi kejadian secara langsung.
“Hasil pendataan awal akan menjadi dasar untuk penanganan lanjutan dari pihak UPTD Pengelola Taman Perairan Kepulauan Alor dan BPSPL Denpasar Kementerian Kelautan dan Perikanan,” jelas Imam, kepada wartawan.
Dia juga mengimbau kepada warga setempat agar tidak mengambil bagian apapun dari paus tersebut. Ini untuk mencegah hal-hal tidak diinginkan akibat dari kematian yang belum diidentifikasi.
Alhasil, penyebab kematian massal paus pilot di Alor ini masih belum terjawab. Namun, barangkali kasus kematian bersama paus pilot lain bisa menjadi perbandingan. Salah satunya di kawasan Selat Madura.
Tragedi Kematian Paus Pilot di Selat Madura
Syahdan, dua hari sebelum peringatan World Whale Day, Minggu (21/2/2021), kawasan selat Madura digegerkan dengan kematian massal paus yang teridentifikasi sebagai paus pilot sirip pendek atau Short fin pilot whale (Globicephala macrorhynchus) di perairan Bangkalan.
Petugas BKSDA melakukan evakuasi hampir 12 jam. Sebanyak 49 paus pilot tersebut mati dan dikuburkan secara massal di dekat lokasi kejadian dengan bantuan alat berat. Pemantauan dengan drone juga dilakukan.
“Melalui foto udara, didapatkan fakta sebanyak 52 paus mati, sementara hanya ada 1 paus yang masih hidup,” demikian tertulis di laman unair.ac.id, dikutip Minggu (8/9/2024).
Peneliti sekaligus Wakil Dekan Penelitian, Publikasi, Kolaborasi, dan Relasi Publik Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga (FPK UNAIR) Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T., menyebutkan, sekawanan paus pilot tersebut diduga mati karena cuaca ekstrem.
Mengingat, cuaca ekstrem terjadi beberapa minggu terakhir. Yakni, La Nina yang menyebabkan badai di kawasan selatan pulau Jawa atau Samudera Hindia.
Selain cuaca ekstrem, menurut Sapto, kematian paus itu diduga disebabkan sejumlah hal terkait kondisi lingkungan terkini. Terutama akibat perilaku dan perubahan alam yang terjadi. Menurutnya, ada kemungkinan empat hal yang menyebabkan paus tersebut mati.
Penyebab Paus Pilot Mati Massal
1. La Nina dan El Nino
“Fenomena alam La Nina dan El Nino juga memungkinkan perubahan magnetik di laut. Perubahan itu dapat berpotensi mengubah sistem sonar pada paus,” ungkap dosen mata kuliah biologi laut tersebut, dikutip dari laman UNAIR.
Dengan asumsi fenomena alam itu, sekawanan paus pilot bermigrasi ke wilayah yang lebih tenang dan berusaha berteduh dari kondisi badai laut di kawasan ini. Namun, dugaan disorientasi ke wilayah yang semakin dangkal menyebabkan sekawanan paus justru berenang ke arah perairaan selat Madura yang lebih dangkal.
Kejadian serupa terjadi pada Juni 2016. Menurut Dr. Sapto, kejadian tersebut sangat mungin terjadi dengan kondisi yang sama dengan kasus di Bangkalan. Namun, sekawanan paus pilot itu mengarah ke selatan selat Madura, hingga akhirnya merapat di Perairan Probolinggo. Dari kasus saat itu, dilaporkan 10 paus mati dari kawanan paus yang berjumlah 32 ekor.
2. Tingkah Laku, Umur dan Penyakit
Selain cuaca, Dr. Sapto menegaskan bahwa kematian paus memiliki beragam aspek yang masih perlu mendapatkan kajian secara mendalam.
Baik dari sisi habitat tempat hidupnya, behavior-nya yang hidup dalam kelompok, maupun kemungkinan penyakit pada paus Alpha (pemimpin) yang menyebabkan anggota kelompok paus tersebut ikut mati.
”Ini kami juga terus meneliti terkait itu,” katanya
3. Pencemaran di Laut
Masalah pencemaran di daratan serta banyaknya pencemaran sampah plastik yang terus meningkat juga menyebabkan kualitas perairan pesisir laut semakin menurun. Di sisi lain, paus melakukan migrasi ke daerah itu dalam rangka mencari kawasan yang tenang dan aman.
“Dengan kondisi sedimentasi yang tinggi dan pencemaran domestik berupa sampah dan plastik yang juga tersebar,ini menjadikan tingkat stres paus-paus yang terdampar sangat tinggi,” sebutnya.
4. Aktivitas Manusia
Dr. Sapto mengomentari beberapa video amatir yang tersebar di sejumlah media online. Terlihat masyarakat yang tengah asyik berfoto-foto dan bahkan menaiki paus yang dalam kondisi yang semakin stres.
Menurutnya, kesadaran masyarakat terkait ekosistem laut perlu menjadi perhatian dan kajian ke depan. Terutama terkait dengan pengetahuan terhadap biota dan ekosistem laut. Fenomena itu juga menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi dalam upaya kampanye ekosistem laut ke depan.
“Belum lagi warga yang berkerumun di sekitar ikan paus yang mencoba memberikan pembasahan, namun kemungkinan dilakukan pada bagian dekat blow hole (Lubang pernapasan terletak berdekatan dengan bagian depan kepala dan condong ke kiri, Red). Ini malah menyebabkan mamalia laut stres akibat sulit bernafas,” katanya.
Pada akhir, Dr. Sapto mengungkapkan bahwa upaya perbaikan kualitas lingkungan laut masih menjadi tugas besar bagi kita bersama. “Intinya, mari kita memperbaiki lingkungan laut sekaligus menjaga keanekaragaman hayati laut Indonesia,” ujarnya.


