Banyak orang yang memaknai bahagia identik dengan melimpahnya jumlah uang yang dimiliki. Karena itu orang-orang seperti berlomba-lomba, berpacu dengan waktu untuk bisa sesegera mungkin kaya raya, bebas finansial. Kadang memakai segala cara.
Benarkah uang bisa membeli kebahagiaan? Jawabannya tentunya bisa. Dengan uang kita bahkan membeli kebebasan dan kekuasaan. Bebas untuk membeli sesuatu yang kita suka atau beraktivitas yang sesuai dengan visi misi dan tujuan hidup kita. Misalnya membangun bisnis, membuat gerakan kemanusiaan atau filantropi, mengerjakan sesuatu sesuai passion dan kebebasan lainnya.
Jadi jangan percaya lagi jargon-jargon lama yang sering beredar di grup-grup Whatsapp atau yang dipakai sebagai takarir di Instagram. Kata-kata yang itu sudah expired.
Misalnya uang bukan segalanya, uang tak menjamin kebahagiaan, dengan uang bisa membeli ranjang yang mewah tapi tidak bisa membeli rasa nyenyak atau uang tak menjamin kita masuk surga dan seterusnya.
Selama ini narasi yang sering beredar orang-orang kaya (baru) dikaitkan dengan perilaku negatif gaya hidup yang glamour dan hedon yang terkait dengan miras, over dosis, bunuh diri dan hal-hal yang dianggap tak bermanfaat. Banyak contoh kasus para pesohor dunia yang mengalaminya dan diberitakan media.
Padahal banyak juga orang-orang yang punya uang banyak hidupnya bahagia, hanya kadang tidak pernah dieskspose.
Pendapatan Rp 100 Juta
Ada temuan yang menarik dari survei yang dilakukan American Dream Poll soal kebahagiaan. Survei itu mengungkap bahwa orang Amerika akan merasa bahagia jika mempunyai pendapatan sekitar Rp 100 juta rupiah
Kalau di kita kira-kira berapa?
Survei kecil-kecilan di grup Whatsapp yang aku ikuti pun hasilnya mirip. Mereka akan bahagia tergantung transferan uang yang ia terima. Semakin banyak uang yang dia punyai, ia mengaku kebahagiaannya semakin melimpah.
Namun kebahagiaan bukan hanya milik orang-orang beruang banyak. Meski tak punya penghasilan 100 juta per bulan, kita bisa menciptakan kebahagiaan versi kita sendiri. Meskipun kita tinggal di metropolitan Jakarta yang identik dengan tekanan hidup yang tinggi.
Di balik Gedung-gedung yang tinggi dan hiruk pikuk jalan raya, kota ini menyimpan banyak hal yang bisa membuat warganya lebih bahagia.
Hidup bahagia di kota yang masuk dalam 10 besar kota termacet ini mungkin seperti paradoks, namun dengan cara yang tepat, kita dapat menemukan kepuasan dan kedamaian di tengah kesemrawutan (mantan) ibukota.
Salah satu kunci untuk manjadi bahagia adalah dengan menemukan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional. Ini klise tapi tak bisa di bantah juga. Banyak pekerja Jakarta yang bekerja overtime dan bahkan malah bangga ketika 24 jam belum tidur dan masih di kantor.
Banyak Pilihan Hiburan
Apalagi saat ini, ketika semuanya sudah terhubung, tuntutan untuk menyelesaikan pekerjaan bisa tak kenal waktu, meskipun sudah berada di luar jam kerja dan sedang santai di rumah bersama keluarga.
Juga karena persaingan yang ketat, menuntut tiap pekerja untuk bisa memberikan kontribusi terbaiknya. Jadi kemungkinan bisa menyeimbangkan antara kehidupan sosialnya dengan kehidupan profesionalnya agak susah, tapi bukan berarti tidak mungkin.
Jakarta menawarkan berbagai macam pilihan hiburan yang dapat membantu kita melepaskan penat setelah seharian bekerja.
Kita bisa pergi ke pusat perbelanjaan, mal, kafe-kafe, warung kopi, klub malam hingga taman kota yang asri, semuanya dapat menjadi tempat pelarian yang menyenangkan. Namun, penting untuk diingat bahwa kebahagiaan tidak hanya terletak pada hal-hal materi.
Menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga dan teman-teman, melakukan hobi yang kita sukai, atau sekadar bersantai di rumah sambil Tiktok-an, membaca buku juga dapat memberikan kesenangan lain.
Networking atau berjejaring juga merupakan faktor penting dalam menciptakan kebahagiaan. Kota ini memiliki komunitas yang sangat beragam, mulai dari komunitas seni hingga komunitas olahraga.
Hidup menjadi lebih bermakna.
Bergabung dengan komunitas yang seminat tidak hanya dapat memperluas jaringan pertemanan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk belajar hal-hal baru dan berbagi pengalaman dengan orang lain.
Dulu kala, saya tiap hari Jumat membuat agenda untuk bertemu dengan seseorang yang mempunyai skill tertentu. Ini penting, selain menambah jaringan pertemanan, hal lain yang diperoleh adalah pengetahuan dan pengalaman baru.
Dengan berkomunitas kita bisa memberi kontribusi pada orang-orang yang membutuhkan, dengan berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau menjadi relawan, kita dapat merasakan bahwa kehadiran kita berarti bagi orang lain. Hidup menjadi lebih bermakna.
Hal lain yang bisa membuat kita bahagia adalah lingkungan yang sehat. Jakarta memang terkenal dengan tingkat polusi yang tinggi, namun kita dapat menjaga kesehatan diri dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur.
Banyak tempat tersedia untuk melakukan aktivitas olah raga ini. Tinggal pilih yang berbayar atau gratis. Aktivitas ini penting dilakukan karena saat berolah raga tubuh melepaskan endorfin, “hormon kebahagiaan.”
Endorfin dapat meningkatkan suasana hati dan mengurangi rasa sakit, sehingga seseorang merasa lebih bahagia dan nyaman setelah berolahraga.
Lari Pagi atau Meditasi?
Olahraga dapat mengurangi kadar hormon stres. Dengan berolahraga secara teratur, seseorang dapat mengurangi ketegangan dan kecemasan, yang pada gilirannya meningkatkan perasaan kesejahteraan dan kebahagiaan.
Contohnya bersepeda atau lari pagi. Selain menyehatkan dengan bersepeda kita bisa mengurangi kemacetan dan mengurangi tingkat polusi udara.
Kalau masih ada waktu luang, bisa mencoba melakukan meditasi atau kegiatan lain yang berhubungan dengan spiritual. Praktik meditasi ini dapat membantu kita untuk lebih menghargai momen saat ini dan mengurangi stres.
Dengan meditasi, kita dapat lebih fokus pada apa yang sedang kita lakukan dan menikmati setiap momen dalam hidup. Meditasi juga dapat membantu kita untuk menenangkan pikiran dan meningkatkan kesadaran diri.
Menghargai hal-hal kecil juga merupakan cara untuk menciptakan kebahagiaan. Terkadang, kita terlalu sibuk mengejar tujuan yang besar sehingga lupa untuk menghargai hal-hal kecil dalam hidup sehari-hari.
Ada yang Salah dengan Mereka
Misalnya, ucapan yang menginspirasi dari salah satu teman melalui Whatsaap, postingan video-video lucu di lini masa atau melihat birunya langit yang jarang terjadi di Jakarta. Dengan menghargai hal-hal kecil, kita dapat lebih merasakan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Yang penting juga adalah mengembangkan mindset yang positif. Terkadang, kita cenderung fokus pada hal-hal negatif dalam hidup, seperti kemacetan, polusi, atau politik kantor di tempat kerja.
Dengan mengubah cara pandang, kita dapat menemukan hal-hal positif dalam setiap situasi. Misalnya ada teman yang posting sesuatu yang membuat mood kita berantakan, usahakan tetap merespon dengan cara yang positif.
Jadi meskipun tidak punya pendapatan Rp 100 juta per bulan pun tiap orang tetap bisa merasakan kebahagiaan. Sesuai apa yang disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, meskipun hidup dalam kemiskinan, masyarakat Indonesia tetap hidup bahagia.
Tapi tentu saja mempunyai uang banyak jauh lebih membahagiakan dibanding bokek. Dengan uang banyak kita bisa punya kebebasan lebih, bisa menikmati hidup sepenuhnya.
Kalau sampai ada orang yang mempunyai banyak uang tapi hidupnya tidak bahagia, ada yang salah dengan mereka.



Luar biasa menjadi motivasi buat kami….