Di tengah gemerlap dan hiruk-pikuk Kota Yogyakarta, Alun-Alun Kidul (Alkid) tetap menjadi saksi perjalanan Yogyakarta. Pesonanya tak lekang oleh waktu.
Beringin kembar adalah dua raksasa penunggu Alun-Alun Kidul. Dua pohon ini menyimpan ingatan tradisi budaya dan mitos yang hingga kini bahkan masih lestari.
Terletak tidak jauh dari Keraton Yogyakarta, alun-alun ini dikenal dengan dua beringin kembar yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
Salah satu daya tarik utama dari tempat ini adalah mitos Masangin, yang konon menjanjikan terkabulnya keinginan seseorang jika berhasil berjalan di antara dua beringin dengan mata tertutup.
Mitos Masangin memiliki akar sejarah yang dalam, berasal dari tradisi Topo Bisu yang dilakukan pada malam 1 Suro. Para prajurit dan abdi dalem Keraton Yogyakarta melakukan ritual ini dengan berbaris melewati beringin kembar tanpa mengucap sepatah kata pun.
Ritual ini diyakini untuk mencari berkah dan perlindungan dari musuh. Konon, di tengah pohon terdapat jimat tolak bala yang mengusir musuh, sehingga siapa pun yang berhasil melintasi beringin dengan mata tertutup dianggap memiliki kekuatan khusus.
Alun-Alun Kidul juga hidup dengan kerlap-kerlip lampu warna-warni dari odong-odong, suara canda tawa, dan aktivitas kuliner yang menggugah selera. Kuliner khas Jogja, seperti wedang bajigur, wedang ronde, jagung bakar, dan cilok, menambah meriahnya suasana.
Bagi yang mencari hidangan berat, kawasan Wijilan yang terkenal dengan gudegnya tidak jauh dari alun-alun, menawarkan pilihan yang lezat.
Penjelasan Ilmiah di Balik Mitos
Di balik mitos dan misteri tersebut, terdapat penjelasan ilmiah yang menarik. Fenomena psikologis yang dikenal sebagai “veering tendency” menjelaskan mengapa banyak orang gagal berjalan lurus saat Masangin.
Ketika mata ditutup, keseimbangan tubuh terganggu, dan tanpa disadari, seseorang cenderung berbelok ke arah dominan dari tubuh mereka. Ini adalah proses alami yang terkait dengan fungsi otak dan tubuh, bukan semata-mata karena gangguan makhluk gaib.
Dikutip dari beberapa sumber, Veering tendency atau kecenderungan belok adalah fenomena psikologis di mana seseorang secara tidak sadar cenderung berbelok ke arah dominan dari tubuh mereka ketika keseimbangan terganggu, seperti saat mata ditutup.
Fenomena ini dapat menjelaskan mengapa banyak orang gagal berjalan lurus atau mengikuti jalur yang diinginkan ketika mereka tidak dapat melihat.
Jadi, veering tendency menjelaskan bahwa kegagalan untuk berjalan lurus saat mata ditutup lebih merupakan hasil dari bagaimana sistem vestibular (yang mengatur keseimbangan) dan sistem visual bekerja bersama, daripada adanya gangguan gaib atau mistis.
Meski ada penjelasan ilmiah, kepercayaan dan mitos tentang beringin kembar tetap kuat di masyarakat. Alun-Alun Kidul bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga ruang spiritual yang menghubungkan pengunjung dengan sejarah dan warisan leluhur.
Suasana mistis yang terasa saat angin malam berhembus pelan, membawa aroma bunga dan suara alam yang samar, menambah daya tarik tempat ini.
Tubuh yang Tidak Simetris dan Keseimbangan Tubuh
Untuk melengkapi penjelasan Veering tendency, dalam percobaan sederhana yang dijelaskan oleh Bobo.id, jika seseorang berjalan di atas garis lurus dengan mata tertutup, mereka sering kali menemukan diri mereka keluar dari jalur tersebut.
Hal ini disebabkan oleh tubuh manusia yang tidak simetris dan ketergantungan pada sistem keseimbangan yang melibatkan mata, telinga, dan otot.
Tubuh manusia memang tidak sepenuhnya simetris, bagian kiri dan kanan tubuh seringkali memiliki perbedaan kecil dalam ukuran dan fungsi. Misalnya, jantung terletak di sebelah kiri dan hati di sebelah kanan, serta perbedaan dalam ukuran tangan atau mata antara sisi kiri dan kanan tubuh. Ketidakseimbangan ini mempengaruhi kemampuan tubuh untuk bergerak lurus saat tidak ada titik referensi visual.
Selain itu, keseimbangan tubuh bergantung pada koordinasi antara mata, telinga, dan otot-sendi-ligamen. Saat mata tertutup, titik referensi visual hilang, sehingga tubuh harus mengandalkan mekanisme keseimbangan internal yang melibatkan telinga bagian dalam dan sensasi dari otot dan sendi.
Ketidakseimbangan antara komponen ini sering kali menyebabkan individu berbelok secara tidak sadar, menjelaskan mengapa banyak yang gagal dalam ritual Masangin.
Harmoni antara Tradisi dan Modernitas
Terlepas dari persoalan ilmiah, Alun-alun Kidul terus menjadi saksi bisu kehidupan kota Yogyakarta yang tak pernah tidur. Tempat ini merupakan titik pertemuan antara tradisi dan modernitas, di mana mitos dan kenyataan berpadu harmonis.
Jika kamu berkesempatan mengunjungi Yogyakarta, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Alun-alun Kidul. Cobalah berjalan di antara kedua beringin tersebut dan rasakan adrenalin serta keajaiban yang menyelimuti tempat ini.
Penulis: Purba Handayaningrat


