Serangan Israel ke Gaza yang dimulai Oktober 2023 lalu terus berlangsung hingga sekarang. Akibat konflik tersebut, sebanyak 625 ribu anak di Gaza terpaksa putus sekolah.
Melansir laman Al Jazeera, Kamis (12/9/2024), anak-anak, guru dan orangtua siswa merasakan kesedihan yang sangat mendalam lantaran sekolah berhenti beroperasi dan banyak siswa tak dapat mengenyam pendidikan yang layak. Tak bisa memulai tahun ajaran baru, 625 ribu anak putus sekolah.
“Semua hancur begitu saja karena perang ini. Saya masih tak percaya, kami kehilangan semuanya akibat perang di Gaza ini,” tutur seorang guru di Gaza.
Ada kesedihan dan duka yang sangat mendalam dirasakan anak-anak dan orangtuanya. Bagaimana tidak, sedikitnya 9.839 siswa tewas terbunuh pada sejumlah serangan yang dilancarkan Israel.
Tak hanya itu, tercatat 411 guru dan staf sekolah juga tewas dalam rentetan serangan tersebut. Hingga saat ini sebanyak 12 universitas hancur dibombardir. Akibatnya, sebanyak 88 ribu mahasiswa tidak mampu melanjutkan studinya.
Hingga awal September, tercatat lebih dari 85 persen (477 dari 564) bangunan sekolah di Gaza hancur dan rusak berat akibat rentetan serangan Israel. Para siswa di sana tidak bisa lagi memulai tahun akademik baru dan dunia melanjutkannya tanpa Gaza.
Dalam tiga hari terakhir, sedikitnya 14 warga setempat, termasuk wanita dan anak-anak, tewas dalam serangan udara Israel di sebuah sekolah yang berubah menjadi tempat penampungan di kamp Nuseirat di Jalur Gaza tengah. Pasukan Israel di Tepi Barat, menangkap 30 warga Palestina di Hebron, Jenin, Ramallah dan Betlehem.
Penulis: Amelie Fabiola


