Menjelang Akhir Jabatan Presiden, Kisah Soekarno hingga Jokowi

Date:

Setiap perjalanan dimulai dengan awal dan diakhiri dengan sebuah akhir. Konsep ini berlaku dalam banyak aspek kehidupan, termasuk dalam periode kepemimpinan presiden.

Setiap presiden memulai masa jabatannya dengan harapan dan visi, dan mengakhirinya dengan warisan serta hasil dari kepemimpinannya. Proses ini menegaskan bahwa tidak ada yang abadi, dan setiap fase akan mencapai titik akhirnya.

Berdasarkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 3 Tahun 2022 tentang Tahapan dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Umum Tahun 2024, pengucapan sumpah/janji presiden dan wakil presiden dilaksanakan pada Minggu, 20 Oktober 2024.

Merujuk pada prosesi pengucapan sumpah masa jabatan 2019-2024, pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih diselenggarakan melalui Sidang Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Dengan rencana pelantikan presiden baru Prabowo Subianto dan wakil presiden Gibran Rakabuming Raka yang semakin mendekat pada 20 Oktober 2024, masa kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) segera berakhir.

Dalam hitungan hari, Indonesia akan memasuki babak baru kepemimpinan setelah satu dekade di bawah Jokowi. Namun, seperti halnya setiap presiden sebelumnya, akhir masa jabatan Jokowi tidak terlepas dari dinamika dan kontroversi yang mencerminkan kondisi politik dan sosial negara.

Dirangkum dari berbagai sumber, sejarah mencatat bahwa setiap presiden Indonesia menghadapi tantangan besar menjelang akhir masa jabatannya, dan perjalanan mereka memberikan pelajaran berharga tentang transisi kekuasaan dan perubahan politik.

1. Soekarno (1945-1967) dari Proklamator ke Penurunan Kekuasaan

Sebagai proklamator kemerdekaan dan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno memulai masa jabatannya dengan kejayaan.

Namun, statusnya sebagai Presiden seumur hidup yang ditetapkan oleh TAP MPRS No III pada 1963 mulai goyang ketika Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dikeluarkan pada 1966.

Surat tersebut, awalnya dimaksudkan untuk memperkuat kekuasaan Letjen Soeharto dalam membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI), malah digunakan untuk menyingkirkan Soekarno dari kekuasaan.

Pada 1967, Soeharto diangkat sebagai presiden, mengakhiri kekuasaan Soekarno yang berlangsung lebih dari dua dekade. Soekarno kemudian menjalani masa-masa sulit di bawah pengawasan ketat hingga meninggal pada 1970.

Kehidupan Sukarno berubah drastis setelah itu. Ia diusir dari Istana Negara Jakarta dan kemudian sempat menjadi ‘tahanan rumah’ di Istana Bogor, lalu berpindah ke Wisma Yaso di Jakarta.

Disebutkan, Soekarno menghabiskan hari-harinya dengan seorang diri, lantaran anak-anaknya pun hanya diizinkan menjenguk dengan waktu terbatas.

Tak hanya terasing, hari-hari terakhir Sukarno juga harus dilewati dengan menjalani pemeriksaan terkait peristiwa G30S di kediamannya.

Setelah tiga tahun melewati hari-hari yang terasing, dan sakit-sakitan Soekarno mengembuskan napas terakhirnya pada 21 Juni 1970.

2. Soeharto (1967-1998), Era Orde Baru yang Berakhir dengan Gejolak

Soeharto, presiden kedua Indonesia, memimpin selama hampir 32 tahun dan dikenal dengan kebijakan Orde Baru-nya. Namun, akhir masa pemerintahannya ditandai oleh krisis ekonomi yang parah dan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat.

Demonstrasi besar-besaran dan kerusuhan pada Mei 1998, termasuk Tragedi Trisakti yang menyebabkan kematian empat mahasiswa, memicu tekanan besar terhadap pemerintahannya.

Akhirnya, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 di tengah kekacauan politik dan sosial, menandai berakhirnya Orde Baru dan awal reformasi.

3. BJ Habibie (1998-1999), Reformasi Singkat dan Tantangan Timor Timur

BJ Habibie, yang menggantikan Soeharto, memiliki masa kepemimpinan yang singkat tetapi penuh tantangan.

Salah satu pencapaiannya adalah pembentukan Undang-Undang Pemilu yang membuka peluang bagi partai politik baru. Namun, keputusan Habibie untuk memberikan kemerdekaan kepada Timor Timur pada 1999 menimbulkan kontroversi.

Meskipun menganggap keputusan ini sebagai langkah penting untuk menentukan nasib sendiri, keputusan tersebut menghadapi kritik tajam dari berbagai kalangan.

Pada Sidang Istimewa MPR pada November 1999, pidato pertanggungjawaban Habibie ditolak, mengakhiri masa kepemimpinannya.

4. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (1999-2001), Dilengserkan Secara Politis

Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, terpilih sebagai presiden dalam situasi politik yang tegang, menghadapi sejumlah tantangan besar.

Meskipun memulai kepemimpinannya dengan kebijakan reformasi dan rekonsiliasi, termasuk pembaharuan tubuh militer dan dukungan terhadap keturunan Tionghoa, kepemimpinannya tidak berjalan mulus.

Isu-isu seperti Buloggate dan Bruneigate, serta langkah kontroversial seperti dekrit presiden yang membekukan parlemen, menyebabkan ketidakstabilan.

Dalam catatan sejarah, pada 23 Juli 2001, Gus Dur dimakzulkan dalam Sidang Istimewa MPR, mengakhiri masa kepemimpinannya yang penuh dinamika.

5. Megawati Soekarnoputri (2001-2004), Kepemimpinan di Tengah Krisis Ekonomi

Sebagai presiden wanita pertama Indonesia, Megawati memulai masa jabatannya setelah pemakzulan Gus Dur.

Selama masa pemerintahannya, Megawati menghadapi tantangan besar, termasuk krisis ekonomi dan ketidakstabilan politik. Pada 2003, ia mengakhiri kerja sama dengan IMF dan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Namun, ia kalah dalam pemilihan presiden 2004 melawan Susilo Bambang Yudhoyono, menandai akhir masa kepemimpinannya yang diwarnai dengan berbagai kesulitan.

6. Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014), Stabilitas dan Kontroversi

SBY, presiden ketujuh Indonesia, menjabat selama dua periode dan dikenal karena stabilitas politik yang relatif terjaga. Namun, kepemimpinannya juga diwarnai oleh berbagai kontroversi, termasuk kasus Bank Century dan konflik dengan KPK.

Meskipun berhasil menjaga stabilitas politik dan menghindari gejolak besar, ada kritik terhadap penanganan pelanggaran hak asasi manusia dan hubungan luar negeri.

SBY meninggalkan jabatannya pada 19 Oktober 2014 tanpa ada gejolak politik yang signifikan.

7. Joko Widodo (2014-2024), Menjelang Akhir dengan Berbagai Kontroversi

Jokowi, presiden ketujuh Indonesia, dikenal dengan fokus pada pembangunan infrastruktur dan pemindahan ibu kota.

Namun, menjelang akhir masa jabatannya, ia menghadapi berbagai kontroversi, termasuk dugaan gratifikasi terkait Kaesang Pangarep, kasus Blok Medan yang melibatkan menantunya Bobby Nasution, dan dugaan pemanfaatan media sosial oleh Gibran Rakabuming.

Kebijakan-kebijakan seperti UU Cipta Kerja dan isu-isu lainnya juga menuai kritik tajam. Dengan masa jabatan yang tersisa kurang dari 40 hari, Jokowi menghabiskan waktu di Ibu Kota Nusantara (IKN) sambil menghadapi tantangan-tantangan terakhir sebelum transisi kepemimpinan.

Perjalanan setiap presiden Indonesia mengajarkan banyak hal tentang dinamika politik dan sosial negara. Dari Soekarno hingga Jokowi, akhir masa kepemimpinan mereka sering kali mencerminkan tantangan yang dihadapi bangsa dan bagaimana transisi kekuasaan dapat membentuk masa depan politik Indonesia.

Kini, menjelang pelantikan Prabowo dan Gibran, masa jabatan Jokowi akan segera berakhir, menandai babak baru dalam sejarah kepemimpinan Indonesia.

Penulis: Purba Handayaningrat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...