Work from Anywhere  dan Ilusi Work Life Balance

Date:

Istilah crunch culture viral, setelah co-CEO studio game bernama Brandoville Studios diberitakan melakukan dugaan kekerasan terhadap karyawan-karyawannya. Menurut berita yang beredar para karyawan di studio animasi di Jakarta itu menerima kekerasan fisik dan verbal, kerja lembur tidak dibayar dan perlakuan buruk lainnya.

Crunch culture, istilah ini berkaitan dengan kebiasaan atau budaya kerja di industri video animasi yang sering mewajibkan karyawannya melakukan kerja lembur selama pengembangan sebuah game.  Karyawan bisa bekerja 65-85 jam seminggu dalam jangka waktu lama. Seringnya mereka kerja lembur tanpa mendapatkan kompensasi apa-apa.

Sebenarnya tidak hanya di dalam industri video game saja, soal “budaya” lembur tanpa dibayar ini juga terjadi di industri lain. Banyak karyawan yang lembur sampai malam tanpa dapat kompensasi. Dan itu sudah dianggap normal. Bukan hanya di perusahaan swasta saja. Seorang abdi negara alias ASN pun mengalami hal yang sama.

Contohnya seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kantornya di sebuah kota di Sumatera Selatan. Ia sebut saja namanya Surya Bersinar menceritakan pengalaman buruknya. Ia dipaksa lembur saat ada penerimaan CPNS ( Calon Pegawai Negeri Sipil), seperti sekarang ini yang sedang berlangsung. Ia bekerja lembur biasanya sampai jam 21:00 WIB.

Namun kalau divisi lain yang lebih strategis ada kegiatan mutasi pejabat eselon, lemburnya bisa sampai subuh.  Selama bekerja di luar jam kerja itu ia mengaku tidak dibayar uang, tapi seporsi sate lontong. Karena lembur seperti itu dianggap sebagai bentuk pengabdian kepada negara.

Uniknya menurut dia, kalau datang telat atau pulang duluan, tunjangan langsung dipotong.

Utamakan Loyalitas

Nyaris setiap pekerja di negeri ini pasti mengalami kerja lembur dan tidak dibayar. Kerja lembur di Indonesia menjadi topik yang cukup kompleks karena melibatkan berbagai faktor, seperti budaya kerja, peraturan atau undang-undang ketenagakerjaan, dan dinamika antara karyawan dan perusahaan.

Di Indonesia kebanyakan budaya kerja mengutamakan loyalitas dan dedikasi. Hal ini  sering kali membuat lembur dianggap sebagai bagian wajar dari pekerjaan. Banyak perusahaan yang menganggap jam kerja panjang atau lembur sebagai bukti komitmen karyawan, meskipun tidak selalu diimbangi dengan produktivitas yang lebih tinggi.

Bagi karyawan yang menolak lembur akan dianggap tidak punya etos kerja yang baik, atau dianggap orang yang itung-itungan alias pelit.  Parahnya bisa dianggap tidak bisa bekerja sama. Efeknya bisa jadi perjalanan karirnya mandeg.

Kalau punya atasan yang bossy atau model karakternya feodal,  pekerjaan-pekerjaan di luar jobdesk pun harus dikerjakan agar image bawahan yang bersangkutan tidak terjun bebas di mata bos. Kita sering melihat pemandangan bos yang secara implisit menyuruh membawakan tas kerja dari meja kerja ke lobi dan membukakan pintu mobil.

Kerja lembur yang terus-menerus bisa berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik karyawan.  Mereka bisa mengalami stres, kelelahan, dan burn out. Apalagi tidak ada kompensasi apapun. Kejenuhan akan lebih cepat terasakan.

Lembur Bukan Solusi

Kadang-kadang sebenarnya lembur bukan solusi untuk menyelesaikan target-target. Bisa jadi penyebabnya adalah manajemen waktu yang buruk. Atau lembur karena pilihan karyawan sendiri. Misalnya para pekerja kreatif yang membutuhkan ide-ide fresh dan no box. Seharian mereka ngobrol-ngobrol, gitaran, main game, sorenya ketika semua karyawan sudah pergi baru menemukan ide dan mengeksekusinya.

Kerja lembur menyebabkan berkurangnya waktu untuk istirahat dan bisa mengganggu kehidupan pribadi. Apalagi bagi karyawan yang sudah berkeluarga.

Lalu apa kabar work life balance? Istilah ini tampaknya sudah tidak relate lagi untuk hari ini. Apalagi sekarang karyawan bisa bekerja di mana saja dan kapan saja. Work from Anywhere (WFA).

Tampaknya WFA itu menyenangkan. Dan ini merupakan impian para pekerja gen Z yang sudah bosan dengan rutinitas kerja di kantor. Kita kadang suka iri melihat konten yang diposting orang-orang yang punya kesempatan bekerja dari mana saja pada Senin pagi di media sosial.

Mereka bisa bekerja di rumah atau di warung kopi estetis di pinggir danau yang airnya jernih. Atau di mana saja asal ada koneksi internet yang memadai. Dengan backsound musik kesayangan, tampaknya bekerja sangat mengasyikkan.

Beberapa karyawan memang bisa bekerja secara fleksibel, bisa mengatur sendiri kapan waktunya bekerja. Yang penting pekerjaan selesai, tidak melampaui tenggat yang telah disepakati.

Hanya Tempat Kerja Alternatif

Namun faktanya tidak sememukau itu, bahkan bisa jadi kebalikannya.  Ada yang mengatakan, kita adalah yang bukan kita posting. Ketika semuanya sudah terhubung, diam-diam kita (kita???) sebagai karyawan telah terperangkap dalam “perbudakan” teknologi yang bisa jadi lebih ngeri dibanding kerja rodi pada zaman Jepang.

Sebelum ada internet, yang namanya bekerja itu mulai dari pukul 9 pagi sampai jam 5 sore. Sesudah jam itu, kita putus. Kita bisa menghabisan malam dengan nongkrong-nongkrong bersama teman-teman atau bagi yang sudah berkeluarga bisa berhandai-handai dengan anak-anaknya, makan malam bersama dan aktivitas lain tanpa terganggu pekerjaan kantor.

Era digital mengubah semuanya. Selain memudahkan, teknologi juga memunculkan sisi kelamnya.  Sekarang tak ada pekerjaan yang benar-benar selesai. Kapan pun email, pesan Whatsapp  atau aplikasi lain semacam slack, trelo bisa muncul setiap saat, 24 jam non stop.

Dulu tak pernah terbayangkan, Minggu pagi-pagi, saat sudah siap-siap berangkat piknik lalu mendapat pesan urgent untuk merevisi pekerjaan kemarin yang sudah diselesaikan. Bila tidak siap mental, mood akan berantakan, stress dan ujung-ujungnya depresi.

Dengan teknologi memungkinkan para karyawan yang WFA tidak pernah benar-benar libur, bahkan ketika kita secara fisik berada di tempat liburan.  Warung kopi di tepi danau hanya menjadi “tempat kerja alternatif”, bukan tempat untuk benar-benar bersantai.

Salah satu tantangan  terbesar bekerja dari mana saja, work-from-anywhere adalah hilangnya batas yang jelas antara kehidupan kantor dan kehidupan rumah. Libur serasa kerja, kerja serasa libur, nyaris tak ada bedanya.

Makna Baru Work Life Balance

Beruntung jika perusahaan memberikan kompensasi yang memadai. Jangan sampai terjadi fenomena overworked and underpaid.

Bagaimana solusinya agar antara pekerjaan dan hidup lebih seimbang? Agak susah kalau Work Life Balance diartikan sama seperti dulu, apalagi zaman sebelum internet.

Salah satunya dengan membuat jam kerja yang jelas dan patuhi batas tersebut. Setelah jam kerja berakhir, hindari kegiatan terkait pekerjaan seperti memeriksa email atau menerima panggilan. Negara=negara seperti Prancis, Belgia, Spanyol, Italia, Irlandia, Portuga bahkan mempunyai undang-undang yang melarang perusahaan untuk mengirimkan email pekerjaan di luar jam kerja.

Kedua, fokuslah pada pekerjaan yang paling penting dan mendesak untuk diselesaikan lebih cepat dan efisien.  Untuk memperjelas kehidupan “kerja” dan pribadi sebisa mungkin ciptakan ruang kerja khusus di rumah, sehingga lebih mudah untuk beralih dari satu peran ke peran lainnya.

Untuk mengurangi kelelahan dan kejenuhan bekerja, kita bisa beristirahat secara berkala, offline tiap 30 menit.  Jalanlah ke luar sebentar untuk memandang birunya langit agar mata kembali fresh.  Atau bisa melakukan peregangan fisik dengan olahraga di dalam rumah atau di luar rumah yang sirkulasi udaranya lebih baik.

Dengan begitu setidaknya kita telah berusaha menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Taj Yasin Maimoen Siapkan Rahasia Khusus untuk Hadapi Debat Kedua Pilgub Jateng

Jawa Tengah tengah dipanaskan dengan persiapan ketat dari para...

Pilkada Banjarbaru, Petahana Terancam Diskualifikasi Gara-Gara Hal Ini

Tensi Pilkada Kota Banjarbaru 2024 memuncak dengan isu diskualifikasi...

Cerita Felicia Reporter tvOne Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Pemalang

Mobil yang membawa lima kru tvOne ditabrak oleh sebuah...

Momen Seru dari Debat Pilkada Jateng: Ubah Air Asin, Teknologi Satelit hingga Cagub Salah Sebut Wakilnya

Dalam debat perdana Pilkada Jawa Tengah yang digelar pada...