Tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) terus berjalan dan mendekati tahap penepatan pasangan calon (paslon) pada 22 September 2024 mendatang. Para kontestan kini adu program untuk menggaet suara pemilih.
Pilkada Jakarta barangkali menjadi yang paling disorot. Usai drama Anies Baswedan gagal nyalon, kini ada tiga bakal paslon yang akan berlaga.
Ketiga bapaslon tersebut yakni Pramono Anung Rano Karno yang diusung PDIP, Ridwan Kamil-Suswono yang diusung koalisi besar penyokong Prabowo Subianto di Pilpres ditambah sejumlah partai KIM Plus, dan Dharma Pongrekun-Kun Wardhana, bakal calon dari jalur independen.

Terlepas dari itu, salah satu PR pemerintah dari masa ke masa di Jakarta adalah banjir dan macet. Ketiga bapaslon ini mengklaim punya solusi atasi masalah laten Jakarta ini.
Dari ketiga bakal calon ini, kira-kira siapa yang solusinya paling realistis dan bisa membebaskan Jakarta dari masalah pelik ini? Simak program ketiga bapaslon berikut ini.
Pramono-Rano Karno: Revitalisasi Drainase dan Angkutan Umum

Bakal cawagub Jakarta, Rano Karno, mengungkap caranya mengatasi permasalahan banjir dan macet jika terpilih di Pilgub Jakarta. Menurut Rano, masalah banjir dan macet di Jakarta adalah masalah klasik.
“Artinya, memang sekarang drainase-drainase itu harus diperbesar. Kita tahu banjir itu kalau dibilang genangan, artinya bisa surut, artinya sekarang bagaimana kita bisa mempercepat surutnya itu,” kata Rano Karno ketika berkunjung ke Kampung Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Senin (2/9/2024).
Rano menilai banjir adalah permasalahan utama di Jakarta, terlebih ketika masuk musim hujan. Rano bercerita jika Jakarta kini tak mengalami banjir besar, seperti ketika 2007, namun ketika kemarau panasnya sangat hebat.
“Cuma sekarang kemaraunya luar biasa, berarti penghijauan kota, ruang terbuka hijau harus diperbanyak untuk menurunkan emisi rumah kaca yang dibilang karbon itu,” jelasnya.
Selanjutnya, Rano juga mengatakan permasalahan Jakarta selain banjir adalah kemacetan. Menurut Rano, Jakarta punya penduduk 14 juta jiwa pada siang hari dan 9 juta pada malam hari.
“Kemacetan terjadi pada saat-saat maaf, jam kerja, datang, pulang, itu macet,” katanya.
Pramono Anung mengungkap program yang akan dilakukannya untuk mengatasi macet jika menang Pilgub Jakarta. Pramono mengaku akan menerapkan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) hingga memperpanjang jalur TransJakarta, mass rapid transit (MRT), dan light rail transit (LRT).
“Yang saya lakukan di Sekretaris Kabinet, yang benar-benar didukung oleh Gen Z adalah work from home, work from everywhere. Kalau ini bisa diterapkan untuk Jakarta, saya yakin orang semuanya nggak perlu datang ke Balai Kota ataupun ke mana,” kata Pramono Anung setelah menghadiri acara konsolidasi kader PDIP di East Jakarta Regional Training Center, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu (14/9/2024).
“Bisa bekerja di tempat masing-masing. Kan sekarang sistemnya sudah sangat mudah dan sangat gampang untuk diawasi. Jadi work from home, work from everywhere saya akan terapkan,” sambung dia.
Dia mengatakan, selain memperpanjang jalur MRT, LRT, serta melanjutkan program JakLingko, frekuensi kendaraan umum di Jakarta ditingkatkan, dan dan prasarana harus ditata kembali. Dia menuturkan akan membenahi JakLingko yang dibuat di era mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Persoalan macet di Jakarta Timur, sebenarnya bukan hanya Jakarta Timur, tapi ini juga keseluruhan. Apa pun yang terjadi, kemacetan itu karena satu, frekuensinya kurang. Yang kedua, koridornya juga kurang. Yang ketiga, JakLingko yang dibuat oleh Mas Anies harusnya kita teruskan, kita perbaiki. Bahwa kemudian masih ada kekurangan, disempurnakan,” papar Pramono.
Pramono kemudian mengatakan cara menyelesaikan persoalan Jakarta jangan dengan sesuatu yang akhirnya malah meruwetkan. Pramono menuturkan menekan volume kendaraan tiap pagi adalah dengan meningkatkan frekuensi transportasi publik.
“Kan sekarang ini kalau kita lihat dari Bekasi masuk Jakarta Timur dengan LRT, juga dengan TransJakarta, juga dengan KRL. Ternyata belum cukup. Ketika terjadi kemacetan pagi, maka frekuensi pagi itu mobil harus bisa dikurangi, caranya bagaimana? Caranya ya satu, diperpanjang MRT, diperpanjang LRT, TransJakarta-nya,” jelas dia.
“Kalau KRL-nya frekuensinya ditambah, itu bisa dilakukan, saya yakin Jakarta terutama pagi dan sore mudah-mudahan bisa kita atasi,” tambah Pramono.
Ridwan Kamil-Suswono Punya Program Nyeleneh

Banjir adalah salah satu masalah akut yang ada di Jakarta, karena itu setiap calon gubernur pasti ditantang untuk mencari solusi.
Cagub yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM) plus, Ridwan Kamil, memunculkan ide untuk membangun giant sea wall.
“Kawasan pantai utara akan dijadikan Giant Sea Wall, buat apa? Buat atasin banjir,” kata Ridwan Kamil, di kediaman pribadi Bang Yos, Kamis, 12 September 2024.
Jika permasalahan banjir tidak diatasi dengan baik, rakyat kecil akan dirugikan. “Proyek di utara itu untuk rakyat kecil,” jelas Ridwan Kamil.
Nantinya bentuk Giant Sea Wall bukan hanya bendungan, tapi akan dibangun juga kawasan yang nantinya ada beberapa fasilitas seperti lapangan sepak bola, tempat peribadatan. “Karena kawasannya baru, maka di design-lah menjadi wajah artitektur seperti Ibu Kota Nusantara (IKN),” tutur mantan gubernur Jawa Barai ini.
Perihal konsep inspirasi Giant Sea Wall, Ridwan Kamil mengacu pada konotasi futuristik dunia, yaitu Dubai. “Tapi poinnya pembangunan ini prorakyat kecil supaya enggak banjir,” jelas dia.
Soal macet, Ridwan Kamil mengklaim memiliki terobosan untuk mengatasinya. Tiga ide yang oleh sebagian orang dinilai nyleneh ini diyakini RK manjur atasi macet. Apa saja?
1. Hunian di atas pasar
Untuk mengurangi pergerakan para pekerja, Ridwan Kamil memilliki ide untuk membangun sebuah hunian di pusat kota.
Sebab, hunian di tengah kota jumlahnya sedikit ketimbang kantor.
Ide hunian di tengah kota itu agar para pekerja tak perlu terlalu jauh menempuh perjalanan ke kantor.
“Ah khayal emang lahannya dari mana?” Maka saya studi ada pasar-pasar masih dua lantai, padahal bisa 20 lantai. Dua lantainya pasar, 18 nya apartemen murah kan. Stasiun masih satu lantai, di negeri-negeri maju yang lahannya penuh bawahnya stasiun atasnya pasar, atasnya apartemen,” ujarnya seperti dikutip dari acara Bongkar Aspirasi Ridwan Kamil (BARK) yang tayang di Youtube pada Minggu (15/9/2024).
2. Perbanyak kantor di segala penjuru
Solusi untuk mengurangi kemacetan selanjutnya ialah memperbanyak kantor di luar pusat kota Jakarta.
Area perkantoran, katanya, bakal didirikan di pinggiran kota Jakarta.
“Ke selatan kayak di TB Simatupang, di Kelapa Gading diperbanyak perkantoran. Saya lihat di utara di Ancol bisa ada perkantoran, PIK yang kelas mewah juga harus ada perkantoran. Ada perkantoran juga ke arah BSD, Meruya itu harus ada,” ujarnya.
Kombinasi antara hunian di tengah kota dengan perkantoran yang dibangun di daerah pinggiran dinilai dapat mengatasi kemacetan.
“Oleh kebijakan gubernur dipaksa banyak kantor di pinggiran itu akan membuat pergerakan menjadi terbatas. Maka, kemacetan relatif akan berkurang,” ujarnya.
3. WFH ala Covid
Ridwan Kamil juga memiliki ide untuk menerapkan kembali kebijakan work from home (WFH) bagi para pekerja.
“Ditambah pascacovid work from home, itu ada yang menjadi permanen, nanti kita gilir. Hari Senin, misalkan industri media, work from home, selasanya industri yang tidak substansial,” katanya.
Area perkantoran, katanya, bakal didirikan di pinggiran kota Jakarta.
“Ke selatan kayak di TB Simatupang, di Kelapa Gading diperbanyak perkantoran. Saya lihat di utara di Ancol bisa ada perkantoran, PIK yang kelas mewah juga harus ada perkantoran. Ada perkantoran juga ke arah BSD, Meruya itu harus ada,” ujarnya.
Kombinasi antara hunian di tengah kota dengan perkantoran yang dibangun di daerah pinggiran dinilai dapat mengatasi kemacetan.
“Oleh kebijakan gubernur dipaksa banyak kantor di pinggiran itu akan membuat pergerakan menjadi terbatas. Maka, kemacetan relatif akan berkurang,” ujarnya.
Dharma-Kun: Program Pipi Monyet untuk Atasi Banjir

Bakal Pasangan Calon Gubernur (Cagub) dan Wakil Gubernur (Cawagub) Jakarta Dharma Pongrekun-Kun Wardana mengusung program ‘Jakartaku Aman’ di Pilkada Jakarta 2024.
Program ‘Jakartaku Aman’ milik Dharma-Kun itu dirangkum dalam visi dan misi dengan total empat halaman. Dharma-Kun punya visi ‘Menjadikan Jakarta Sebagai Pusat Perekonomian Nasional yang Melalui Reformasi Jati Diri Demi Terwujudnya Rakyat yang Beradab, Harmoni, Mandiri, Makmur, dan Bahagia’.
Sementara itu, Dharma-Kun mempunyai tujuh poin misi. Mulai dari mewujudkan transformasi Jakarta sebagai pusat keunggulan pada tatanan nasional, regional dan global, mewujudkan inovasi perbaikan desain tata ruang Jakarta sebagai kota global, hingga terkait penanggulangan banjir.
Dharma-Kun memiliki sejumlah program unik terkait misi penanggulangan banjir di Jakarta, di antaranya dengan manajemen air hujan dan sungai dengan mengoptimalkan fungsi waduk, kanal, pompa serta taman dan hutan kota.
Keduanya bakal mendesain tata kota sesuai kondisi dan sifat alam, relokasi dan rehabilitasi kawasan kumuh, Jakarta pipi monyet, Jakarta Dam, dan taman waduk darurat.
Sistem ‘Pipi Monyet’ pernah diterapkan di Bangkok, Thailand untuk mengatasi banjir. Pipi monyet merupakan sistem penampungan air hujan dengan wadah khusus yang mampu menampung air hujan berlebih hingga 30 juta kubik.
Lalu, misi unik Dharma-Kun lainnya ada pada poin tujuh. Dharma-Kun hendak mereformasi teknologi sehingga tepat guna dan hemat untuk mendukung strategi samudera biru dan bio ekonomi Jakarta.
Misi tersebut bakal diwujudkan melalui program pengembangan teknologi pengelolaan sampah, edukasi daur ulang hingga ke sekolah, energi botol matahari, dan Jakarta mandiri air.
Dharma Pongrekun dan Kun Wardana akan menata ulang kota Jakarta untuk mengatasi macet.
“Jadi, mari dikaji ulang. Namanya redesain tata kota, nanti pelan-pelan dan masih banyak hal lagi,” kata Dharma dalam konferensi pers di RSUD Tarakan Jakarta, Minggu (1/9).
Dharma mengemukakan hal itu ketika menanggapi terkait dengan pernyataan Bakal Calon Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno yang menyebut lajur sepeda di Jakarta terlalu kecil dan hanya cukup untuk jalur otopet atau skuter.
Ia mengatakan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru dan banyak omongan dalam mengenalkan program sebagai upaya strateginya. Dengan melakukan kajian terlebih dahulu, dia berharap pembicaraannya tidak menjadi omong kosong.
“Karena ‘kan kami yang harus belajar dahulu, berapa dia punya PAD, terus apa manfaatnya, bagaimana terhadap kemacetan, bagaimana serapan air hujan, bagaimana terhadap desain ruang tata kota,” ujarnya.
Maka dari itu, dia memandang perlu mendalami strategi apa yang bisa membenahi tata kota Jakarta yang salah satunya lajur sepeda sesuai dengan peruntukannya.
“Jangan maksain jalan yang seharusnya bisa lewat mobil, diambil untuk sepeda,” ujarnya.
Nah, setelah mengetahui gambaran cara para bakal calon gubernur dan wakil gubernur itu, kira-kira mana yang paling membumi?


