Pemerintah Kongo membebaskan sekitar 600 narapidana di penjara utama negara tersebut pada Sabtu pekan lalu. Hal itu dilakukan pihak berwenang di Kongo guna mengurangi kepadatan penjara berkapasitas 1.500 orang yang kini dihuni sekitar 12 ribu tahanan.
Melansir laman ABC News, Kamis (24/9/2024), Menteri Kehakiman Kongo Constant Mutamba mengumumkan langkah tersebut dalam sebuah upacara di Penjara Pusat Makala di ibu kota Kongo, Kinshasha. Tanpa memberikan rincian lebih lanjut, ia menyatakan pemerintah Kongo tengah berencana membangun penjara baru.
Penjara Makala, lembaga pemasyarakatan terbesar di Kongo dengan kapasitas 1.500 orang itu kini tercatat menampung lebih dari 12 ribu narapidana. Menurut laporan pemerintah, sebagian besar tahanan kini tengah menunggu proses persidangan.
Menurut pihak berwenang, awal bulan ini, upaya pembobolan penjara di penjara telah menyebabkan 129 orang tewas. Termasuk di antaranya yang ditembak penjaga dan tentara serta lainnya yang tewas terinjak-injak di penjara penuh sesak tersebut. Aktivis hak-hak penjara ternama di Kongo, Emmanuel Adu Cole, seorang aktivis hak-hak penjara terkemuka bahkan menyebut jumlah korban tewas lebih dari 200 orang.
Pada sebuah postingan di X, Menteri Dalam Negeri Kongo Jacquemin Shabani juga menyatakan adanya beberapa kasus perkosaan pada perempuan saat percobaan pembobolan penjara terjadi. Sayangnya, Shabani tidak menjelaskan lebih lanjut tentang hal tersebut.
“Kami mengalami masa-masa sulit dalam beberapa hari terakhir dengan semua yang terjadi di sini, ada pemerkosaan, kami menjadi korban, banyak dari kami yang meninggal,” ungkap Prisca Mbombo, salah satu tahanan yang dibebaskan.
Tak Manusiawi
Mbombo yang baru berusia 22 tahun menghabiskan dua bulan di penjara setelah ditangkap akibat terlibat perkelahian di sebuah bar. Ia mengaku sangat berterima kasih pada sang menteri dan menekankan dirinya tak mau lagi kembali ke tempat tersebut.
Saat ini, para narapidana semakin frustasi dengan kondisi buruk di penjara itu, termasuk tempat tidur yang tidak memadai, makanan yang buruk, dan sanitasi yang buruk. Pihak terkait gagal mengatasi hal tersebut meski sudah beberapa kali mendapatkan peringatan.
Seorang jurnalis yang pernah meliput penjara tersebut, Stanis Bujakera Thsiamala, melaporkan betapa tidak manusiawinya tempat tersebut. Di sana para tahanan kekurangan makanan, minuman dan perawatan kesehatan. Hampir 700 tahanan wanita dan ratusan anak di bawah umur diperlakukan sama dengan orang dewasa.
Sekitar 10 anak di bawah umur menjadi beberapa yang dibebaskan pekan alu. Masih ada sekitar 300 lebih anak di bawah umur yang masih mendekam di penjara Makala. Mulai pekan ini, semua narapidana yang sakit parah juga akan dibebaskan secara bertahap.


